RADAR BANYUWANGI — Perpindahan pedagang dari relokasi sementara Pasar Gedung Wanita menuju bangunan baru Pasar Induk Banyuwangi mulai dikebut. Sebanyak 560 pedagang prioritas ditargetkan sudah menempati lapak baru pekan ini, meski sejumlah pedagang masih menyoroti belum meratanya fasilitas rolling door dan awning.
Untuk memperlancar proses boyongan, pemerintah daerah turut menerjunkan armada pengangkut. Dua unit mobil pikap difasilitasi melalui Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Diskop UMK) serta Dinas Lingkungan Hidup (LH).
Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Banyuwangi Sudirman mengatakan, koordinasi dengan kedua organisasi perangkat daerah (OPD) tersebut dilakukan untuk membantu pedagang memindahkan barang dagangan dan perlengkapan usaha dari lokasi sementara ke bangunan pasar baru.
“Teman-teman pedagang sudah mulai melakukan perpindahan. Kami menargetkan penyerahan lapak kepada 560 pedagang prioritas utama bisa rampung seluruhnya pada pekan ini,” ujar Sudirman, Rabu (23/9).
Armada Pikap Bantu Boyongan Pedagang
Perpindahan pedagang menjadi salah satu tahap penting setelah pembangunan fisik Pasar Induk Banyuwangi memasuki fase pemanfaatan.
Tidak semua pedagang memiliki kendaraan untuk mengangkut barang dagangan dalam jumlah besar. Karena itu, keberadaan armada pikap dinilai membantu mempercepat mobilisasi logistik.
Pedagang secara bertahap membawa perlengkapan usaha dari tempat relokasi sementara di Pasar Gedung Wanita menuju lokasi baru.
Meski proses perpindahan mendapat dukungan armada, persoalan fasilitas di lapak baru masih menjadi perhatian.
Rolling Door Belum Terpasang Merata
Sudirman menyebut sejumlah blok di bangunan baru belum dilengkapi rolling door. Fasilitas awning juga belum tersedia secara merata.
Kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan anggaran pembangunan yang tersedia untuk pekerjaan fisik utama.
“Kami memaklumi keterbatasan anggaran kementerian yang hanya mencukupi struktur fisik utama seperti ini. Ada sebagian blok yang belum mendapatkan rolling door,” jelas Sudirman.
Meski demikian, kekurangan fasilitas tersebut tidak dianggap sebagai alasan untuk menunda perpindahan.
Menurut Sudirman, kepastian lokasi lapak menjadi hal yang lebih penting bagi pedagang saat ini. Untuk kebutuhan pintu penutup, pedagang bahkan telah menyiapkan opsi melengkapinya secara mandiri.
“Namun, kendala ini tidak menghambat perpindahan karena yang terpenting pedagang sudah memegang kepastian lokasi. Untuk pintu penutup, teman-teman siap melengkapinya secara mandiri,” katanya.
Posko Pengaduan Mulai Terima Keluhan Zonasi
Di tengah proses perpindahan, Posko Pengaduan juga mulai dimanfaatkan pedagang untuk menyampaikan persoalan terkait zonasi dan ukuran lapak.
Salah satunya disampaikan Indra, 42. Pedagang tersebut mengaku belum puas dengan ukuran los yang diterimanya di bangunan pasar baru.
Sebelum pasar direhabilitasi, Indra mengaku memiliki toko berukuran 4×6 meter. Namun, di bangunan baru ia mendapatkan los berukuran 2×2 meter di lantai dua.
Persoalan lain yang disorot adalah belum adanya pintu pengaman atau rolling door pada los tersebut.
“Kondisi los baru ini tidak sesuai dengan luasan aset yang saya miliki sebelum pasar direhabilitasi. Ukurannya jauh lebih sempit,” keluh Indra.
Ia berharap aduan yang disampaikan melalui posko dapat ditindaklanjuti pemerintah. Indra menginginkan lokasi lapaknya dipertimbangkan untuk dipindahkan ke lantai bawah sekaligus mendapatkan fasilitas rolling door.
Kepastian Lapak Jadi Prioritas, Fasilitas Menyusul
Gelombang perpindahan pedagang kini berjalan beriringan dengan proses penyelesaian sejumlah persoalan di lapangan.
Di satu sisi, pemerintah daerah membantu mobilisasi agar pedagang segera menempati bangunan baru. Di sisi lain, pedagang masih menyampaikan sejumlah aspirasi mengenai fasilitas dan kesesuaian zonasi.
Bagi paguyuban pedagang, kekurangan rolling door maupun awning tidak menjadi penghalang utama untuk pindah. Pedagang memilih segera menempati lokasi yang telah ditetapkan sembari melengkapi kebutuhan fasilitas secara bertahap.
Sementara itu, keberadaan Posko Pengaduan menjadi ruang bagi pedagang untuk menyampaikan persoalan yang membutuhkan penyesuaian, terutama menyangkut ukuran, posisi, dan fasilitas lapak.
Dengan target 560 pedagang prioritas menempati pasar baru pekan ini, proses boyongan menjadi tahap berikutnya dalam menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Induk Banyuwangi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin