IHSG Melonjak 1,56 Persen, Rupiah Menguat, Emas Antam Naik: Apa Pemicunya?

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 16:51 WIB
Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Rabu, 23 September 2026, diwarnai penguatan IHSG dan rupiah setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Pada hari yang sama, harga emas Antam juga naik menjadi Rp2,63 juta per gram. (ChatGPT)
Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Rabu, 23 September 2026, diwarnai penguatan IHSG dan rupiah setelah Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Pada hari yang sama, harga emas Antam juga naik menjadi Rp2,63 juta per gram. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia mendapat ruang bernapas pada Rabu, 23 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,56 persen ke level 6.374,91. Rupiah berbalik menguat ke Rp17.818 per dolar Amerika Serikat (AS). Harga emas Antam juga naik Rp3.000 menjadi Rp2,63 juta per gram.

Sekilas, ketiganya bergerak searah. Namun, pemicunya berbeda.

IHSG dan rupiah mendapat tenaga setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Bank sentral juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Sementara itu, emas Antam justru naik ketika harga emas dunia sedang melemah.

Artinya, sentimen terhadap aset domestik membaik. Namun, tekanan dari luar negeri belum benar-benar hilang.

Gambaran pasar pada Rabu, 23 September 2026, adalah sebagai berikut:

Reuters mencatat harga emas dunia tersebut masih merupakan posisi intraday. Artinya, angka itu belum mencerminkan harga penutupan perdagangan global.

IHSG Bangkit setelah Tertekan

IHSG menutup perdagangan Rabu dengan kenaikan 97,86 poin atau 1,56 persen ke level 6.374,91.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Warta Ekonomi, sebanyak 448 saham menguat, 186 saham melemah, dan 159 saham tidak berubah. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp12,81 triliun dengan volume 36,66 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,91 juta kali.

Kenaikan itu terasa menonjol karena sehari sebelumnya IHSG turun 1,69 persen ke posisi 6.277,04.

Dengan kata lain, penguatan Rabu berhasil mengembalikan sebagian besar kerugian pada perdagangan Selasa. Namun, kenaikan sehari belum cukup untuk disebut sebagai perubahan tren jangka menengah.

Sebagian penguatan masih bisa dibaca sebagai pemulihan teknikal setelah tekanan jual sehari sebelumnya. Keputusan BI kemudian memberi tambahan tenaga karena mengurangi ketidakpastian yang sejak awal pekan membayangi pasar.

Sebelum keputusan BI diumumkan, IHSG sebenarnya sudah berada di zona hijau. Pasar bergerak sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, sebagaimana dikutip ANTARA, menilai selisih suku bunga Indonesia dan AS tetap penting untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

“Melebarnya selisih suku bunga sepanjang tahun ini bertujuan memberikan perbedaan imbal hasil yang cukup menarik bagi investor asing,” kata Ratna.

Pernyataan itu menjelaskan mengapa keputusan BI tidak hanya berpengaruh terhadap rupiah. Bagi investor global, daya tarik saham Indonesia juga berkaitan dengan stabilitas nilai tukar dan imbal hasil dibandingkan aset dolar AS.

BI Tahan Bunga, Rupiah Jadi Perhatian

RDG BI pada 22–23 September 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.

Dalam keterangan resminya, BI menegaskan keputusan tersebut tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Gubernur BI Destry Damayanti juga menyampaikan pesan yang sama dalam konferensi pers RDG BI, sebagaimana diberitakan ANTARA.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” kata Destry.

BI tetap menargetkan inflasi 2026 dan 2027 berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Pada saat yang sama, bank sentral berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Destry menegaskan bahwa dorongan terhadap pertumbuhan tetap dibutuhkan.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan baik dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Dua pesan itu menunjukkan tantangan yang dihadapi BI. Bank sentral harus menjaga rupiah, tetapi tidak ingin biaya uang menjadi terlalu mahal bagi dunia usaha dan rumah tangga.

Karena itu, stabilisasi kurs tidak hanya dilakukan melalui suku bunga.

Dalam pernyataan hasil RDG, BI menyebut akan mengoptimalkan intervensi melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot, serta domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik. Bank sentral juga memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing.

Bagi pasar saham, kombinasi itu cukup melegakan. BI tidak kembali menaikkan suku bunga, tetapi tetap menunjukkan kesiapan menjaga rupiah dengan instrumen lain.

Tekanan Rupiah Tak Selalu Dijawab dengan Bunga

Keputusan BI juga sejalan dengan pandangan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bersumber dari persoalan domestik.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, sebagaimana dikutip Media Indonesia, menilai tekanan eksternal lebih tepat dihadapi dengan instrumen yang spesifik.

“Tidak semua tekanan terhadap rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian,” kata Fakhrul.

Logikanya sederhana. Jika tekanan rupiah terutama berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi global, harga minyak, atau gejolak pasar valuta asing, kenaikan suku bunga domestik bisa menimbulkan dampak yang terlalu luas.

Biaya kredit perusahaan dapat meningkat. Pembiayaan rumah tangga ikut tertekan. Investasi juga berpotensi melambat.

Karena itu, instrumen seperti FX swap, DNDF, intervensi spot, dan pengelolaan likuiditas menjadi semakin penting.

Rupiah Berbalik Menguat

Respons positif terlihat jelas di pasar valuta asing.

Data pasar yang diberitakan sejumlah media ekonomi menunjukkan rupiah ditutup menguat 66 poin atau sekitar 0,37 persen menjadi Rp17.818 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.884 per dolar AS.

Penguatan terjadi setelah BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen.

Yang menarik, rupiah menguat ketika kondisi global sebenarnya belum ramah bagi mata uang negara berkembang.

Reuters melaporkan dolar AS pada Rabu berada di posisi terkuat dalam sekitar dua bulan. Kebijakan moneter The Federal Reserve atau The Fed juga masih menjadi sumber tekanan terhadap aset berisiko.

Karena itu, penguatan rupiah lebih mencerminkan pengaruh faktor domestik daripada perubahan besar di pasar global.

Keputusan BI yang sesuai dengan ekspektasi mengurangi ketidakpastian. Pada saat yang sama, komitmen intervensi memberi keyakinan bahwa bank sentral tetap menjaga pergerakan nilai tukar.

BI juga memiliki bantalan cadangan devisa yang cukup besar. Berdasarkan data resmi bank sentral, cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat US$146,5 miliar atau setara sekitar 5,4 bulan impor.

Meski demikian, satu hari penguatan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap rupiah telah berakhir.

Harga Minyak Ikut Memberi Ruang

Pergerakan harga minyak juga ikut membantu rupiah.

Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk energi dalam jumlah besar. Ketika harga minyak melonjak, kebutuhan dolar untuk impor ikut membesar. Kondisi itu dapat menambah tekanan terhadap rupiah.

Sebaliknya, penurunan harga minyak memberi ruang yang lebih longgar.

Dalam laporan hasil RDG September, BI mencatat harga minyak sempat melonjak hingga sekitar US$132 per barel di tengah konflik Timur Tengah. Harga kemudian turun kembali ke bawah US$100 per barel pada 22 September.

Penurunan tersebut ikut mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan energi dan kebutuhan valuta asing.

Namun, situasinya masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan pasokan minyak dari kawasan Teluk.

The Fed Masih Menjadi Batas

Tekanan terbesar bagi rupiah dan aset Indonesia tetap datang dari AS.

Berdasarkan keputusan resmi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), The Fed pada 16 September 2026 menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Inflasi menjadi salah satu alasan utama kebijakan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, FOMC menegaskan, “Inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi.”

The Fed juga menyatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk membantu mengembalikan inflasi menuju sasaran 2 persen.

Dampaknya bagi Indonesia cukup jelas.

Suku bunga AS yang lebih tinggi membuat instrumen berdenominasi dolar semakin menarik. Investor global pun memiliki lebih banyak alasan untuk menempatkan dana di AS daripada di negara berkembang.

BI dalam laporan RDG juga mengakui bahwa kondisi moneter global yang lebih ketat, kenaikan imbal hasil US Treasury, dan meningkatnya minat terhadap aset aman masih menjadi risiko bagi aliran modal.

Itulah sebabnya kenaikan IHSG dan penguatan rupiah pada Rabu tetap harus dibaca dengan hati-hati.

Emas Antam Naik Rp3.000

Pasar emas mempunyai cerita berbeda.

Berdasarkan harga Logam Mulia yang dikutip ANTARA pada Rabu pagi, harga emas Antam satu gram tercatat Rp2.630.000. Harga itu naik Rp3.000 dibandingkan sehari sebelumnya yang sebesar Rp2.627.000.

Harga buyback juga naik Rp3.000 menjadi Rp2.465.000 per gram.

Dengan demikian, terdapat selisih Rp165.000 antara harga dasar emas satu gram dan harga buyback.

Selisih tersebut setara sekitar 6,27 persen dari harga beli satu gram, sebelum memperhitungkan pajak dan biaya lain.

Bagi pembeli emas fisik, angka itu penting. Kenaikan harga jual tidak otomatis berarti investasi langsung menghasilkan keuntungan. Spread antara harga beli dan buyback juga harus diperhitungkan.

Yang menarik, kenaikan emas Antam terjadi ketika emas dunia justru turun.

Reuters mencatat harga emas spot melemah 0,9 persen menjadi US$4.316,78 per troy ounce pada pukul 08.47 GMT atau sekitar pukul 15.47 WIB. Pada waktu yang sama, dolar AS berada di posisi terkuat dalam dua bulan.

Jadi, ketika emas Antam naik Rp3.000, harga emas internasional justru sedang bergerak turun.

Mengapa Emas Antam Bisa Naik?

Perbedaan itu bukan berarti terjadi anomali.

Harga emas Antam ditetapkan pada waktu tertentu di pasar domestik. Sementara itu, emas spot global terus bergerak selama perdagangan internasional berlangsung.

Secara sederhana, harga emas dalam rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama:

harga emas dunia × kurs dolar AS terhadap rupiah.

Setelah itu, masih ada unsur premium produk fisik, biaya, pajak, dan mekanisme penetapan harga.

Pada Rabu, emas dunia melemah dan rupiah justru menguat. Jika faktor lain tetap, kombinasi tersebut sebenarnya cenderung menekan harga emas dalam rupiah.

Karena itu, kenaikan Rp3.000 pada emas Antam lebih tepat dibaca sebagai penyesuaian harga domestik pada waktu tertentu. Bukan sebagai tanda bahwa harga emas global sedang memasuki tren naik baru.

Dolar Kuat Membebani Emas

Tekanan terhadap emas global berkaitan erat dengan kebijakan The Fed.

Emas tidak memberikan bunga. Ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi naik, investor memiliki alternatif aset yang bisa memberikan pendapatan bunga. Biaya peluang memegang emas pun ikut naik.

Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek, seperti dikutip dalam pemberitaan pasar, menilai ekspektasi terhadap kebijakan The Fed masih menjadi tekanan besar bagi logam mulia.

“Pasar terus memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed secara kuat,” kata Melek.

Ia juga menilai penguatan dolar biasanya menjadi faktor negatif bagi emas.

Reuters melaporkan pelaku pasar pada Rabu mencermati pernyataan bernada ketat dari sejumlah pejabat The Fed. Dolar yang menguat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Meski demikian, emas masih mempunyai faktor penopang. Ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, dan kebutuhan terhadap aset lindung nilai tetap menjaga permintaan.

Sama-Sama Naik, Sinyalnya Berbeda

Perdagangan 23 September menunjukkan satu hal penting: beberapa aset bisa naik pada hari yang sama, tetapi tidak selalu digerakkan oleh faktor yang sama.

IHSG menguat karena kombinasi pemulihan setelah koreksi dan berkurangnya ketidakpastian setelah keputusan BI.

Rupiah mendapatkan dukungan dari kebijakan stabilisasi BI dan keputusan mempertahankan suku bunga. Namun, dolar AS yang kuat tetap menjadi ancaman.

Emas Antam naik tipis karena dinamika harga domestik. Sebaliknya, emas dunia justru melemah karena suku bunga AS dan penguatan dolar.

Hubungannya bisa diringkas seperti ini:

Pasar Masih Punya Pekerjaan Rumah

Setelah 23 September, pasar belum bisa sepenuhnya tenang.

Bagi IHSG, perhatian akan beralih pada kemampuan indeks mempertahankan kenaikan setelah efek keputusan BI mereda.

BI mencatat investasi portofolio asing pada kuartal III hingga 21 September hanya membukukan arus masuk bersih sekitar US$0,4 miliar. Menurut bank sentral, aliran tersebut terutama berasal dari global bond pemerintah dan Surat Berharga Negara.

Untuk rupiah, pasar akan terus mencermati arah dolar AS, imbal hasil US Treasury, harga minyak, aliran modal asing, serta intensitas stabilisasi BI.

Sementara itu, investor emas perlu membaca tiga variabel sekaligus: harga emas dunia, kurs rupiah, serta selisih antara harga jual dan buyback.

Rabu memang memberi ruang bernapas bagi pasar Indonesia. Namun, ruang itu belum lebar.

BI berhasil memperbaiki sentimen domestik tanpa kembali menaikkan suku bunga. Di sisi lain, kebijakan The Fed, kekuatan dolar AS, harga minyak, dan perkembangan geopolitik masih bisa mengubah arah pasar dengan cepat.

Karena itu, kenaikan IHSG, rupiah, dan emas Antam pada hari yang sama tidak boleh dibaca sebagai satu sinyal yang seragam. Masing-masing memiliki cerita dan risiko yang berbeda.


Catatan data: IHSG dan rupiah menggunakan posisi penutupan perdagangan Indonesia pada Rabu, 23 September 2026. Harga emas Antam mengacu pada harga Logam Mulia pada Rabu pagi. Harga emas spot internasional menggunakan data intraday Reuters pada pukul 08.47 GMT atau sekitar pukul 15.47 WIB dan masih dapat berubah hingga perdagangan global ditutup.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rupiah hari ini pasar keuangan Indonesia IHSG hari ini bi rate harga emas antam