RADAR BANYUWANGI – Angkutan barang melalui jalur kereta api di wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya terus tumbuh.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI Daop 8 Surabaya mengangkut 1.988.315 ton barang. Angka itu naik 7,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1.856.051 ton.
Artinya, dalam delapan bulan pertama tahun ini terdapat tambahan 132.264 ton barang yang diangkut melalui jalur rel.
Peti kemas menjadi komoditas terbesar. Volumenya mencapai 1.332.445 ton atau sekitar 67 persen dari total angkutan.
Di posisi berikutnya terdapat bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 608.555 ton atau 30,61 persen, barang retail 32.934 ton atau 1,66 persen, serta komoditas lainnya 14.381 ton atau 0,72 persen.
Secara keseluruhan, peti kemas dan BBM menyumbang sekitar 97,6 persen dari volume angkutan barang KAI Daop 8 Surabaya.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kereta api memiliki peran penting dalam rantai pasok, selain sebagai moda angkutan penumpang.
“Kereta api memiliki karakteristik mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dalam satu perjalanan dengan pola perjalanan yang terjadwal. Hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pelaku usaha dalam menentukan moda transportasi yang sesuai dengan kebutuhan distribusinya,” ujar Mahendro, Rabu (23/9).
Pertumbuhan angkutan barang tersebut melanjutkan tren positif pada semester pertama 2026.
Pada Januari–Juni 2026, volume angkutan barang KAI Daop 8 Surabaya mencapai 1.482.526 ton. Jumlah tersebut naik 8,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 1.367.421 ton.
Pada periode itu, peti kemas juga menjadi penyumbang terbesar dengan volume 998.472 ton atau 67,35 persen.
Dengan demikian, selama Juli dan Agustus 2026 saja, KAI Daop 8 Surabaya mengangkut sekitar 505.789 ton barang.
Mahendro sebelumnya menyebut pertumbuhan tersebut sebagai salah satu indikator meningkatnya pemanfaatan kereta api untuk kebutuhan logistik.
“Peningkatan volume angkutan barang pada semester I/2026 merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan logistik KAI,” kata Mahendro dalam keterangannya pada Juli 2026.
Peti Kemas Tumbuh secara Nasional
Tren peningkatan angkutan peti kemas juga terlihat pada tingkat nasional.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI mengangkut 3.928.221 ton peti kemas. Volume tersebut meningkat 19,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 3.294.255 ton.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, kenaikan volume tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan kereta api dalam sistem distribusi barang.
“Pertumbuhan volume peti kemas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api dalam rantai pasoknya,” ujar Anne dalam publikasi resmi KAI.
KAI juga terus mendorong integrasi layanan angkutan barang dengan kawasan industri, terminal peti kemas, pergudangan, dan pelabuhan.
Integrasi tersebut dibutuhkan agar distribusi barang tidak hanya mengandalkan satu moda transportasi.
Sejalan dengan Aktivitas Ekonomi Jawa Timur
Pertumbuhan angkutan barang berlangsung di tengah peningkatan aktivitas ekonomi Jawa Timur.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat ekonomi provinsi tersebut tumbuh 5,72 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp930 triliun.
Pertumbuhan ekonomi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap sistem distribusi yang mampu mendukung pergerakan bahan baku, energi, produk industri, serta barang konsumsi.
Namun, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab langsung kenaikan volume angkutan barang KAI. Keduanya merupakan perkembangan yang terjadi dalam periode yang berdekatan.
Pada tingkat nasional, pemerintah juga mendorong optimalisasi angkutan kereta api untuk memperkuat sistem logistik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebelumnya menyatakan bahwa pembangunan jaringan kereta api harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian.
“Pengembangan jaringan kereta api nasional bukan sekadar pembangunan infrastruktur transportasi, tetapi juga upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Dudy.
Penguatan angkutan berbasis rel juga relevan dengan kebijakan pemerintah menuju Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) pada 2027.
Pemerintah mendorong penanganan kendaraan dengan dimensi dan muatan berlebih secara menyeluruh. Tidak hanya melalui pengawasan di jalan, tetapi juga dengan pembenahan sistem logistik dari hulu hingga hilir.
Mampu Angkut Muatan Besar
Kapasitas angkut menjadi salah satu karakteristik utama moda kereta api.
Berdasarkan data KAI, satu rangkaian kereta barang secara umum dapat mengangkut sekitar 3.050 ton muatan. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar 144 truk trailer.
Angka itu merupakan gambaran kapasitas angkutan barang KAI secara korporasi, bukan kapasitas setiap perjalanan kereta barang di wilayah Daop 8 Surabaya.
KAI juga mencatat efisiensi penggunaan energi pada layanan angkutan barang. Konsumsi energi turun dari 0,1726 gigajoule menjadi 0,1453 gigajoule per ton barang pada 2025 atau membaik 15,82 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Mahendro, kemampuan membawa muatan dalam jumlah besar membuat angkutan rel dapat menjadi pilihan bagi perusahaan yang membutuhkan distribusi berkapasitas tinggi.
“Pengangkutan barang melalui kereta api memungkinkan volume yang besar didistribusikan dalam satu perjalanan. Dari sisi keberlanjutan, karakteristik tersebut menjadikan angkutan berbasis rel sebagai salah satu pilihan yang dapat mendukung upaya perusahaan dalam membangun rantai logistik yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.
Selain peti kemas dan BBM, KAI Daop 8 Surabaya melayani pengangkutan barang retail serta sejumlah komoditas lainnya.
Pemanfaatan layanan tersebut dapat disesuaikan dengan volume muatan, tujuan pengiriman, jadwal, serta karakteristik barang.
KAI Daop 8 Surabaya akan terus meningkatkan layanan angkutan barang melalui penguatan aspek keselamatan, keandalan operasional, optimalisasi kapasitas, serta kolaborasi dengan pelanggan dan pemangku kepentingan.
“Kami ingin layanan angkutan barang KAI dapat menjadi bagian dari solusi logistik bagi dunia usaha. Tidak hanya mendukung kebutuhan distribusi, tetapi juga mendorong pola logistik yang semakin efisien dan berkelanjutan,” tutur Mahendro.
Menurut dia, komunikasi dengan pelanggan juga diperlukan agar layanan yang disediakan dapat menyesuaikan kebutuhan distribusi.
“Melalui kolaborasi dengan pelanggan, kami dapat memahami kebutuhan distribusi secara lebih baik dan menghadirkan layanan yang memberikan manfaat bagi kelancaran rantai pasok,” pungkas Mahendro.
Editor : Lugas Rumpakaadi