RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia menghadapi perdagangan yang tidak ringan pada Rabu, 23 September 2026. IHSG baru saja terperosok ke bawah level 6.300. Rupiah semakin dekat dengan Rp17.900 per dolar AS. Di sisi lain, emas dunia masih tertahan oleh kebijakan moneter ketat Amerika Serikat.
Perhatian investor hari ini tertuju pada Bank Indonesia. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September berlangsung pada 22–23 September 2026. Pasar bukan hanya menunggu keputusan suku bunga, tetapi juga mencermati seberapa kuat BI merespons tekanan terhadap rupiah.
Pada RDG sebelumnya, BI menegaskan bahwa kebijakan moneter diarahkan untuk “memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global”.
Pernyataan itu kembali relevan. Rupiah kini bergerak sangat dekat dengan level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Gambaran Pasar Hari Ini
- IHSG: berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan masih defensif. Area yang dicermati berada di 6.208–6.364.
- Rupiah: berpeluang bergerak fluktuatif. Kisaran utama diperkirakan Rp17.820–Rp17.950 per dolar AS.
- Emas spot: cenderung bergerak mendatar hingga melemah terbatas di kisaran USD 4.300–4.370 per troy ounce.
- Emas ANTAM: berpotensi bertahan tinggi di sekitar Rp2,60 juta–Rp2,65 juta per gram.
Kisaran tersebut merupakan skenario perdagangan, bukan target harga pasti. Arah pasar dapat berubah setelah keputusan BI maupun pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak, dan situasi geopolitik.
IHSG Jatuh ke 6.277, Tekanan Jual Belum Reda
IHSG menutup perdagangan Selasa, 22 September 2026, di level 6.277,04. Indeks turun 1,69 persen.
Sebanyak 533 saham berakhir melemah. Hanya 139 saham menguat dan 118 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,45 triliun.
Tekanan juga terjadi secara luas. Sebanyak 10 dari 11 indeks sektoral IDX-IC melemah. Sektor energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,76 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar bukan hanya terjadi pada segelintir saham berkapitalisasi besar.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang keputusan BI.
“Investor juga sedang menunggu hasil RDG Bank Indonesia 22–23 September sehingga sebagian pelaku pasar cenderung melakukan wait and see,” ujar Nafan.
Sikap menunggu itu masuk akal. Investor perlu melihat terlebih dahulu apakah BI mampu memberikan keyakinan bahwa tekanan terhadap rupiah bisa dikendalikan.
Secara teknikal, IHSG masih berpeluang menguji area 6.208–6.258. Jika tekanan jual mereda dan saham-saham berkapitalisasi besar kembali mendapat pembelian, indeks berpeluang mengalami technical rebound menuju 6.333–6.364.
Namun, kenaikan tersebut belum otomatis mengubah tren.
Jika indeks menembus 6.200 secara meyakinkan, risiko koreksi lanjutan justru membesar. Karena itu, bias perdagangan hari ini masih defensif, meski peluang rebound jangka pendek tetap terbuka.
Wall Street dan Harga Minyak Beri Sedikit Ruang
Sentimen global tidak seluruhnya buruk.
Nasdaq mendapat dukungan dari saham teknologi pada perdagangan Selasa. Sementara itu, dolar AS bergerak lebih terbatas setelah sebelumnya mencapai posisi terkuat dalam sekitar dua bulan.
Harga minyak juga mulai menjadi perhatian.
Brent diperdagangkan di sekitar USD 99,94 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 95,43 per barel. Pasar masih menimbang perkembangan geopolitik Timur Tengah dan prospek kelancaran pasokan energi.
Bagi Indonesia, pergerakan minyak ini penting.
Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk energi. Karena itu, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar dan menambah tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, penurunan harga minyak bisa membantu mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan energi dan inflasi impor.
Masalah lain datang dari Amerika Serikat.
Federal Reserve pada 16 September menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.
Dalam pernyataan resminya, FOMC menegaskan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian.
“Inflasi masih berada pada level tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke sasaran 2 persen dengan lebih cepat,” demikian pernyataan FOMC.
The Fed belum selesai dengan kebijakan ketat.
Bagi pasar berkembang, termasuk Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan. Suku bunga dan imbal hasil aset AS yang tinggi membuat aset berbasis dolar tetap menarik.
Rupiah Dekati Rp17.900
Tekanan terhadap rupiah terlihat jelas dalam data resmi Bank Indonesia.
JISDOR tercatat Rp17.883 per dolar AS pada 22 September 2026. Sehari sebelumnya, kurs referensi BI masih berada di Rp17.813.
Pada 14 September, JISDOR bahkan masih berada di Rp17.635 per dolar AS.
Artinya, rupiah sudah melemah cukup cepat hanya dalam beberapa sesi.
Karena itu, level Rp17.900 per dolar AS menjadi perhatian utama hari ini.
Pertanyaan pasar, apakah BI perlu kembali menaikkan suku bunga atau cukup mengandalkan intervensi pasar valas dan instrumen moneter lainnya?
Mayoritas ekonom masih memperkirakan BI Rate tetap di level 5,75 persen.
Survei BIG Consensus Insights mencatat 12 dari 14 ekonom dan analis memperkirakan BI mempertahankan suku bunga. Dua responden memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.
Survei Bloomberg menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 32 dari 35 ekonom memperkirakan BI Rate tetap 5,75 persen. Tiga ekonom memperkirakan kenaikan menjadi 6 persen.
Ekonom Permata Bank Josua Pardede termasuk yang memperkirakan BI belum perlu tergesa-gesa menaikkan bunga.
“BI harus membedakan gejolak sementara dengan perubahan yang menetap,” ujarnya.
Menurut Josua, BI Rate masih berpeluang dipertahankan di 5,75 persen pada September. Namun, risiko kenaikan bunga pada kuartal IV membesar apabila tekanan eksternal berlangsung lebih lama.
Pandangan berbeda disampaikan Kepala Ekonom BCA David Sumual. Dia melihat peluang BI menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
“Bank sentral global seperti The Fed dan BoJ juga menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia,” katanya.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan dilema BI.
Menahan suku bunga dapat membantu menjaga momentum ekonomi domestik. Namun, stabilitas rupiah juga membutuhkan respons yang cukup kuat agar pasar tetap percaya pada kebijakan bank sentral.
Inflasi Masih dalam Sasaran
Dari sisi inflasi, tekanan domestik belum menunjukkan kondisi yang secara otomatis memaksa BI menaikkan bunga.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Agustus 2026 sebesar 3,19 persen. Inflasi inti berada di level 2,92 persen.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,19 persen,” demikian keterangan resmi BPS.
Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5±1 persen.
Artinya, persoalan utama BI saat ini bukan hanya inflasi. Stabilitas nilai tukar menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.820–Rp17.950 per dolar AS pada Rabu.
Jika BI mempertahankan suku bunga tetapi mengeluarkan pesan yang kuat mengenai stabilisasi rupiah, kurs berpeluang kembali ke area Rp17.800-an.
Sebaliknya, jika respons BI dinilai terlalu lunak ketika dolar kembali menguat, rupiah dapat bergerak ke Rp17.950. Setelah itu, level Rp18.000 per dolar AS akan menjadi perhatian berikutnya.
Tiga Skenario Setelah Keputusan BI
Ada tiga kemungkinan reaksi pasar setelah keputusan BI.
Skenario pertama, BI mengambil sikap lebih hawkish daripada perkiraan. Sikap itu bisa muncul melalui kenaikan suku bunga maupun komunikasi yang lebih tegas soal stabilisasi rupiah. Jika terjadi, rupiah berpeluang menguat dan tekanan terhadap IHSG dapat berkurang.
Skenario kedua, BI mempertahankan bunga 5,75 persen sesuai konsensus. Dalam kondisi ini, reaksi pasar akan sangat bergantung pada penjelasan BI. Jika komitmen menjaga rupiah dinilai kredibel, keputusan tersebut masih dapat diterima pasar.
Skenario ketiga, respons BI dianggap kurang kuat. Dalam kondisi seperti itu, investor akan kembali berfokus pada dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan arus modal asing. Rupiah berisiko mendekati Rp18.000 per dolar AS. IHSG juga berpotensi kembali tertekan.
Karena itu, angka BI Rate bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan. Nada komunikasi bank sentral setelah keputusan juga sangat menentukan.
Emas Masih Tertekan Suku Bunga Tinggi
Emas dunia menghadapi dua kekuatan yang berlawanan.
Ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Namun, kebijakan moneter ketat di AS membuat obligasi dan aset berbunga kembali lebih menarik.
Pada perdagangan 22 September, emas bergerak di area USD 4.300-an per troy ounce. Kontrak Comex September ditutup di sekitar USD 4.338,90 per troy ounce atau turun sekitar 0,16 persen.
Analis pasar Jim Wyckoff menilai penguatan dolar dan ekspektasi pengetatan moneter masih menjadi beban bagi logam mulia.
“Faktor-faktor negatif tersebut masih menekan pergerakan logam mulia,” ujarnya dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Analis Pepperstone Chris Weston juga menyoroti harga minyak. Menurut dia, kenaikan minyak yang kembali mendorong ekspektasi inflasi dapat memperkuat narasi suku bunga tinggi dan menjadi hambatan bagi harga emas.
Karena itu, emas dunia diperkirakan bergerak di kisaran USD 4.300–4.370 per troy ounce.
Level USD 4.300 menjadi support psikologis terdekat.
Jika dolar AS dan imbal hasil Treasury kembali naik, emas berpotensi menguji level tersebut. Sebaliknya, pelemahan dolar, penurunan yield, atau meningkatnya tensi geopolitik dapat mendorong emas kembali menuju USD 4.350–4.370.
Bias emas hari ini masih sideways hingga melemah terbatas.
Emas ANTAM Menunggu Pembaruan Harga
Harga emas fisik di dalam negeri mempunyai dinamika berbeda. Selain mengikuti harga emas global, pergerakannya juga dipengaruhi kurs rupiah.
Sebelum pembaruan harga Rabu pagi, situs resmi Logam Mulia ANTAM masih menampilkan harga 22 September 2026.
Harga dasar emas batangan satu gram tercatat Rp2.627.000. Setelah memperhitungkan PPh 0,25 persen, nilainya menjadi Rp2.633.568.
ANTAM juga menjelaskan bahwa “harga diperbarui setiap hari pukul 08.30 WIB”.
Karena itu, Rp2.627.000 belum dapat disebut sebagai harga resmi emas ANTAM untuk 23 September sebelum pembaruan dilakukan.
Dengan memperhitungkan pergerakan emas dunia dan rupiah yang masih lemah, harga emas ANTAM satu gram diperkirakan berada di kisaran Rp2,60 juta–Rp2,65 juta.
Pelemahan rupiah bisa menjadi bantalan bagi harga emas domestik.
Artinya, ketika emas dunia turun, harga emas dalam rupiah belum tentu ikut turun dengan persentase yang sama. Kurs yang lebih lemah membuat konversi harga emas internasional menjadi lebih mahal.
Level Kunci Pasar Hari Ini
Untuk IHSG, area 6.208–6.258 menjadi zona pertahanan jangka sangat pendek. Indeks perlu kembali ke 6.333–6.364 untuk menunjukkan technical rebound yang lebih kuat.
Untuk rupiah, Rp17.900 per dolar AS menjadi level psikologis utama. Jika level tersebut ditembus secara konsisten, perhatian pasar akan beralih ke Rp18.000.
Untuk emas dunia, USD 4.300 per troy ounce menjadi support psikologis. Sementara itu, area USD 4.350–4.370 menjadi zona yang perlu dilewati agar rebound memperoleh tenaga lebih besar.
Ketiga instrumen itu tidak bergerak sendiri-sendiri. Arah pasar hari ini akan sangat dipengaruhi oleh keputusan BI, dolar AS, imbal hasil Treasury, dan harga minyak.
Kesimpulan
Perdagangan Rabu, 23 September 2026, berpotensi tetap volatil.
IHSG diperkirakan bergerak dalam kisaran 6.208–6.364. Tekanan jual belum sepenuhnya mereda, tetapi peluang technical rebound terbuka setelah koreksi tajam sehari sebelumnya.
Rupiah diperkirakan berada di rentang Rp17.820–Rp17.950 per dolar AS. Level Rp17.900 menjadi titik psikologis yang penting.
Emas dunia diperkirakan bergerak di kisaran USD 4.300–4.370 per troy ounce. Kebijakan suku bunga AS masih menjadi faktor penekan utama.
Sementara itu, emas ANTAM diperkirakan bertahan di kisaran Rp2,60 juta–Rp2,65 juta per gram. Harga resmi 23 September tetap perlu menunggu pembaruan ANTAM.
Pasar hari ini tidak hanya menunggu apakah BI Rate tetap 5,75 persen atau berubah.
Yang lebih penting adalah apakah keputusan dan komunikasi BI cukup kuat untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Jika rupiah stabil setelah pengumuman, tekanan terhadap IHSG berpeluang berkurang. Sebaliknya, jika rupiah terus melemah dan mendekati Rp18.000 per dolar AS, investor kemungkinan tetap memilih posisi bertahan.
DISCLAIMER: Prediksi dalam artikel ini disusun berdasarkan penutupan pasar 22 September 2026, data JISDOR Bank Indonesia, jadwal dan kebijakan BI, data inflasi BPS, keputusan terbaru Federal Reserve, harga resmi ANTAM, perkembangan Wall Street, harga minyak dan emas, serta pandangan ekonom dan analis menjelang RDG.
Seluruh kisaran harga dan indeks merupakan skenario berdasarkan informasi yang tersedia sebelum pembukaan perdagangan Indonesia pada Rabu, 23 September 2026. Angka tersebut bukan target harga pasti dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi.
Editor : Lugas Rumpakaadi