IHSG Jatuh 1,69 Persen, Rupiah Dekati Rp17.900 Jelang Keputusan BI

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 17:13 WIB
Pergerakan IHSG dan rupiah mendapat tekanan pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, ketika investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak, dan keputusan Bank Indonesia. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG dan rupiah mendapat tekanan pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, ketika investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak, dan keputusan Bank Indonesia. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia kembali berada dalam tekanan pada Selasa, 22 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 1,69 persen dan kembali ke bawah level 6.300. Rupiah juga melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, harga emas Antam hanya turun tipis Rp1.000 per gram.

Pergerakan tiga instrumen tersebut memberi gambaran yang cukup jelas. Investor sedang menghadapi kombinasi suku bunga global yang tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak di atas USD 100 per barel, serta ketidakpastian menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu, 23 September 2026.

Pada penutupan perdagangan Selasa, IHSG berada di level 6.277,04 atau turun 107,68 poin. Rupiah di pasar spot berakhir sekitar Rp17.884 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi JISDOR berada di kisaran Rp17.883 per dolar AS.

Harga emas Antam ukuran satu gram ditetapkan Rp2.627.000. Turun Rp1.000 dibandingkan sehari sebelumnya.

IHSG Kehilangan 107 Poin

Tekanan jual melanda Bursa Efek Indonesia sepanjang perdagangan Selasa. IHSG ditutup turun 1,69 persen menjadi 6.277,04 dari posisi sehari sebelumnya di kisaran 6.384,73.

Tekanan terjadi cukup merata. Sebanyak 533 saham melemah. Hanya 139 saham yang menguat, sedangkan 118 saham tidak berubah.

Nilai transaksi sepanjang perdagangan mencapai sekitar Rp14 triliun.

Sektor energi menjadi salah satu pemberat utama dengan penurunan sekitar 2,76 persen. Sektor perindustrian turun 2,31 persen, sedangkan sektor properti terkoreksi sekitar 2,01 persen.

Padahal, IHSG sempat menguat pada awal perdagangan. Indeks bahkan menyentuh sekitar 6.423,84. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan. Tekanan jual meningkat menjelang siang.

Pada akhir sesi pertama, IHSG sudah turun 1,11 persen ke 6.313,57.

Sebelum perdagangan dimulai, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG masih berpeluang menguji area 6.300–6.350.

“IHSG diperkirakan berpotensi menguji level 6.300–6.350 pada perdagangan Selasa," ujarnya.

Namun, tekanan jual berlanjut hingga sesi kedua. IHSG akhirnya ditutup di dekat batas bawah proyeksi tersebut.

Pelemahan Selasa juga memperpanjang koreksi sehari sebelumnya. Pada Senin, 21 September, IHSG sudah turun 0,88 persen ke 6.384,73.

Dengan demikian, IHSG terkoreksi dua hari berturut-turut ketika investor mencermati perubahan kebijakan moneter global dan menunggu keputusan Bank Indonesia.

Rupiah Mendekati Rp17.900

Tekanan juga terjadi di pasar valuta asing.

Rupiah ditutup sekitar Rp17.884 per dolar AS pada Selasa. Mata uang Garuda melemah sekitar 37 poin atau 0,21 persen dari posisi Rp17.847 per dolar AS sehari sebelumnya.

Pelemahan sebenarnya sudah terlihat sejak pagi. Rupiah dibuka di sekitar Rp17.879 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang keputusan Bank Indonesia.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor domestik, terutama sikap menunggu dan mencermati pelaku pasar terkait keputusan RDG BI besok," terangnya.

Pasar juga memperhatikan arah kebijakan moneter global, terutama setelah sejumlah bank sentral mempertahankan sikap ketat.

Tekanan terhadap rupiah semakin terasa karena imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor global.

JISDOR Ikut Melemah

Arah yang sama terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Bank Indonesia menjelaskan bahwa JISDOR merupakan kurs spot USD/IDR yang disusun berdasarkan transaksi aktual antarbank di pasar valuta asing domestik. Kurs tersebut digunakan sebagai salah satu referensi harga pasar yang representatif.

Pada Senin, 21 September, JISDOR berada di Rp17.813 per dolar AS. Sehari kemudian, kurs referensi tersebut bergerak ke sekitar Rp17.883 per dolar AS.

Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya terlihat di pasar spot. Kurs referensi Bank Indonesia juga menunjukkan arah pelemahan yang sama.

The Fed Naikkan Suku Bunga

Tekanan dari luar negeri terutama datang dari Amerika Serikat.

Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September 2026 menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Keputusan tersebut diambil dengan suara bulat.

Dalam pernyataan resminya, Federal Reserve menegaskan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda.

“Inflasi masih tetap tinggi," tulis The Fed.

Pernyataan itu penting. The Fed menunjukkan bahwa perang melawan inflasi belum selesai. Pasar pun harus memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan.

Ketika obligasi dan instrumen berbasis dolar menawarkan imbal hasil tinggi, investor memiliki alternatif investasi dengan risiko yang relatif lebih rendah. Akibatnya, aliran dana ke pasar negara berkembang bisa menjadi lebih selektif.

Imbal Hasil Obligasi AS Dekati 5 Persen

Tekanan makin kuat karena imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali mendekati 5 persen.

Reuters melaporkan imbal hasil surat utang tersebut berada di sekitar 4,969 persen pada Selasa.

Level setinggi itu meningkatkan daya tarik aset dolar. Pada saat yang sama, tekanan terhadap mata uang dan pasar saham negara berkembang ikut bertambah.

Bagi Indonesia, pergerakan obligasi pemerintah AS menjadi penting karena memengaruhi perbandingan imbal hasil antarpasar.

Semakin tinggi imbal hasil surat utang AS, semakin besar pula kompensasi yang biasanya diminta investor untuk memegang aset dengan risiko lebih tinggi.

Minyak Kembali di Atas USD 100

Tekanan global tidak berhenti pada suku bunga.

Harga minyak Brent untuk kontrak November naik sekitar 1,29 persen menjadi USD 101,63 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD 96,70 per barel.

Harga minyak kembali meningkat setelah empat sesi berturut-turut melemah. Pasar masih mencermati risiko pasokan dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Bagi Indonesia, minyak di atas USD 100 per barel bukan sekadar persoalan emiten energi.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya impor energi. Dampaknya juga bisa merembet ke inflasi dan kebutuhan dolar di dalam negeri.

Tekanan menjadi lebih berat ketika harga minyak tinggi terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah.

Itulah sebabnya kenaikan harga minyak tidak otomatis mengangkat saham sektor energi. Pada Selasa, sektor energi di BEI justru menjadi salah satu sektor dengan koreksi paling dalam.

BI Sebelumnya Fokus Menjaga Rupiah

Di tengah tekanan tersebut, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026.

Pada pertemuan sebelumnya, 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility berada di 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.

Bank Indonesia saat itu menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi salah satu pertimbangan utama.

“Keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.”

Pernyataan tersebut kembali relevan menjelang keputusan September.

Situasi global kini lebih menantang. The Fed sudah menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi AS mendekati 5 persen. Minyak Brent kembali di atas USD 100 per barel. Rupiah pun bergerak mendekati Rp17.900 per dolar AS.

Karena itu, pasar tidak hanya menunggu apakah BI-Rate berubah atau tetap.

Investor juga akan mencermati cara Bank Indonesia membaca tekanan terhadap rupiah, inflasi, arus modal, dan kondisi ekonomi global.

Emas Antam Hanya Turun Rp1.000

Berbeda dengan saham dan rupiah yang mendapat tekanan cukup besar, harga emas domestik bergerak relatif stabil.

Data Logam Mulia Antam pada Selasa menunjukkan harga emas batangan satu gram sebesar Rp2.627.000.

Harga tersebut hanya turun Rp1.000 dari Rp2.628.000 per gram sehari sebelumnya.

Harga pembelian kembali atau buyback juga turun Rp1.000 menjadi Rp2.462.000 per gram.

Antam menjelaskan bahwa harga emas diperbarui setiap hari pada pagi hari.

“Harga diperbarui setiap hari pukul 08.30 WIB.”

Keterangan tersebut penting karena harga emas dunia terus bergerak sepanjang hari.

Artinya, harga Antam pada pagi hari tidak selalu langsung mencerminkan seluruh perubahan harga emas internasional yang terjadi hingga sore atau malam hari.

Emas Dunia Turun Lebih Dalam

Pergerakan emas di pasar global justru lebih tajam.

Reuters mencatat harga emas spot turun sekitar 1,1 persen menjadi USD 4.295,62 per troy ounce pada Selasa. Harga emas berjangka AS juga turun sekitar 1,2 persen menjadi USD 4.332 per troy ounce.

Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi salah satu faktor utama.

Emas tidak memberikan bunga atau kupon. Karena itu, ketika obligasi menawarkan imbal hasil lebih tinggi, biaya peluang untuk memegang emas ikut meningkat.

Dolar AS yang menguat juga menambah tekanan. Sebab, emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.

Mengapa Emas Antam Lebih Tahan?

Di sinilah terdapat perbedaan menarik antara pasar global dan pasar domestik.

Secara sederhana, harga emas di Indonesia dipengaruhi dua faktor besar. Pertama, harga emas internasional dalam dolar AS. Kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Ketika harga emas dunia turun tetapi rupiah pada saat bersamaan melemah, penurunan harga internasional dapat tertahan setelah dikonversi ke rupiah.

Misalnya, harga emas dunia turun 1 persen. Namun, jika dolar menjadi lebih mahal terhadap rupiah, sebagian koreksi tersebut akan terkompensasi oleh perubahan kurs.

Tentu, harga Antam tidak terbentuk hanya dari konversi harga emas dunia. Masih ada premi produk, biaya pengolahan, distribusi, serta kebijakan harga produsen.

Namun, pergerakan kurs tetap menjadi salah satu penjelasan mengapa emas domestik bisa lebih tahan ketika emas dunia turun.

Waktu Penetapan Harga Juga Berpengaruh

Faktor lain adalah waktu penetapan harga.

Harga emas Antam untuk Selasa sudah diperbarui sekitar pukul 08.30 WIB.

Sementara itu, harga emas internasional terus bergerak sepanjang perdagangan global. Harga sekitar USD 4.295 per troy ounce yang dilaporkan Reuters tercatat beberapa jam setelah harga Antam ditetapkan.

Karena itu, tidak tepat membandingkan penurunan harga Antam pada pagi hari secara langsung dengan seluruh koreksi emas dunia hingga sore.

Sebagian perubahan di pasar internasional baru berpotensi tercermin pada pembaruan harga Antam berikutnya.

Rupiah Memainkan Dua Peran

Jika IHSG, rupiah, dan emas dibaca bersama, perdagangan Selasa memberi gambaran yang lebih lengkap.

IHSG turun tajam karena investor mengurangi risiko.

Rupiah melemah karena dolar dan imbal hasil aset AS tetap tinggi. Harga minyak yang mahal juga menambah tekanan.

Emas dunia ikut terkoreksi karena kenaikan imbal hasil obligasi. Namun, emas Antam hanya turun tipis karena pelemahan rupiah dan perbedaan waktu penetapan harga menahan sebagian dampak koreksi global.

Rupiah dengan demikian memainkan dua peran sekaligus.

Pelemahan rupiah menjadi tekanan bagi pasar saham dan kondisi makroekonomi. Namun, pelemahan mata uang yang sama dapat menjadi bantalan bagi harga emas dalam rupiah.

Itulah sebabnya harga emas domestik tidak selalu bergerak searah dan sebesar perubahan harga emas dunia.

Pasar Menunggu Keputusan BI

Katalis berikutnya datang dari Bank Indonesia.

Pelaku pasar menunggu keputusan RDG pada Rabu, 23 September 2026.

Bukan hanya perubahan BI-Rate yang akan diperhatikan. Komunikasi bank sentral mengenai rupiah, inflasi, arus modal, dan kondisi global juga akan menjadi penentu sentimen.

Sikap menunggu sudah terlihat sejak Selasa pagi.

Di pasar saham, Ratna Lim menilai investor berhati-hati karena menunggu respons Bank Indonesia terhadap pengetatan kebijakan moneter global.

Di pasar valuta asing, Rully Nova juga menyebut keputusan RDG BI sebagai salah satu faktor yang membuat pelaku pasar memilih menunggu.

Setelah keputusan BI diumumkan, setidaknya tiga indikator akan menjadi perhatian.

Pertama, pergerakan rupiah. Respons USD/IDR akan menunjukkan bagaimana pasar menerima keputusan dan komunikasi Bank Indonesia.

Kedua, imbal hasil obligasi pemerintah AS. Selama imbal hasil Treasury tetap mendekati 5 persen, persaingan memperebutkan dana global akan tetap ketat.

Ketiga, harga minyak. Brent yang bertahan di atas USD 100 per barel dapat mempertahankan risiko inflasi, biaya impor, dan kebutuhan dolar pada level tinggi.

Perdagangan Selasa menunjukkan bahwa tekanan di pasar Indonesia bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Pelemahan IHSG dan rupiah berkaitan erat dengan perubahan suku bunga global, tingginya imbal hasil obligasi AS, serta kenaikan harga energi.

Sementara itu, emas Antam menunjukkan sisi lain dari pelemahan rupiah. Koreksi harga emas dunia tidak selalu diteruskan sepenuhnya ke pasar domestik ketika dolar menjadi lebih mahal.

Karena itu, keputusan Bank Indonesia pada Rabu menjadi katalis penting berikutnya. Pasar tidak hanya menunggu angka BI-Rate, tetapi juga seberapa kuat sinyal bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar saham Indonesia Rupiah hari ini IHSG hari ini bi rate harga emas antam