Menuju B50 di Seluruh SPBU, Begini Peran Kapal dan Terminal dalam Distribusi Biodiesel

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 12:36 WIB
Armada Pertamina Trans Kontinental dalam operasi maritim. PTK menyediakan layanan logistik laut, penyimpanan terapung, dan ship-to-ship untuk mendukung distribusi FAME ke terminal energi di berbagai wilayah Indonesia. (ChatGPT)
Armada Pertamina Trans Kontinental dalam operasi maritim. PTK menyediakan layanan logistik laut, penyimpanan terapung, dan ship-to-ship untuk mendukung distribusi FAME ke terminal energi di berbagai wilayah Indonesia. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Penerapan biodiesel B50 membuat kebutuhan distribusi komponen nabati semakin besar. Di negara kepulauan seperti Indonesia, persoalannya bukan hanya menyediakan bahan bakar, tetapi juga mengirimkannya ke terminal-terminal energi di berbagai pulau.

PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menempatkan logistik laut sebagai salah satu bagian dari rantai tersebut.

Direktur Pemasaran PTK Albertus Anto Budi Santosa mengatakan konektivitas maritim berperan penting dalam menjaga pasokan energi antarpulau.

“Sebagai negara kepulauan, distribusi energi di Indonesia sangat bergantung pada konektivitas laut,” kata Albertus dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali.

Menurut dia, PTK mengambil peran pada sisi maritim dengan menghubungkan kapal dan terminal energi.

“Peran ini juga menjadi bagian dari dukungan kami terhadap perkembangan ekosistem biodiesel nasional,” ujarnya.

Kebutuhan tersebut semakin relevan setelah pemerintah menerapkan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026.

B50 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis FAME atau fatty acid methyl ester dan 50 persen minyak solar.

Program itu menggantikan B40 yang digunakan pada semester pertama 2026.

Namun, penyebaran B50 belum berlangsung serentak di seluruh titik penyaluran.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat per 31 Agustus penyaluran B50 secara keseluruhan berada di kisaran 75–80 persen.

“Posisinya itu antara 75–80 persen kalau total penyaluran, ya. Tetapi SPBU Pertamina sudah 90 persen,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi.

Perkembangannya berlanjut pada awal September.

Pertamina Patra Niaga melaporkan per 5 September sebanyak 6.050 dari total 6.412 SPBU atau sekitar 94 persen sudah menyalurkan B50.

Masih ada 362 SPBU yang ketika itu menggunakan B40.

Salah satu wilayah yang tertinggal adalah Maluku dan Papua. Tingkat penyaluran B50 di kawasan tersebut masih sekitar 65 persen karena stok B40 sebelumnya masih harus dihabiskan.

Dari 121 terminal BBM Pertamina, hanya Terminal BBM Sintang, Kalimantan Barat, yang saat itu belum menyalurkan B50.

Kendalanya bersifat geografis. Penyusutan sungai menghambat akses menuju terminal tersebut.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa implementasi biodiesel tidak berhenti pada proses pencampuran bahan bakar.

Ada persoalan penyimpanan, kapal, akses terminal, kondisi perairan, hingga kontinuitas pasokan yang harus dijaga.

PTK menyebut layanan FAME mereka mencakup logistik laut, penyimpanan terapung atau floating storage, serta operasi ship-to-ship.

Ship-to-ship memungkinkan muatan dipindahkan antar kapal tanpa seluruh proses harus berlangsung di dermaga. Skema tersebut dapat menambah fleksibilitas pada wilayah yang mempunyai keterbatasan fasilitas penyimpanan atau terminal.

PTK telah menggunakan skema tersebut dalam distribusi FAME di Balikpapan sejak 2019. Saat itu, kebutuhan distribusi komponen nabati meningkat bersamaan dengan perluasan program B20 dan persiapan menuju B30.

Perusahaan kemudian memperluas keterlibatannya.

Pada 2024, PTK menandatangani pekerjaan penyewaan kapal dan pengelolaan ship-to-ship untuk penyaluran FAME bersama 22 perusahaan anggota Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia.

Kini, layanan tersebut digunakan untuk mendukung program hingga B50.

Albertus mengatakan operasi PTK diarahkan pada tiga aspek utama, yakni keselamatan, efisiensi, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Kesiapan sandar serta lepas sandar kapal, perlindungan lingkungan, hingga ketersediaan tenaga kerja bersertifikat ikut menjadi bagian operasi tersebut.

“PTK mengedepankan aspek keamanan dan keandalan kinerja. Tujuan kami, supaya pelanggan PTK berjalan dengan aman, tepat waktu dan efisien, terlebih dalam distribusi biodiesel ini,” ujarnya.

Skala kebutuhan biodiesel nasional juga terus meningkat.

Pada Desember 2025, pemerintah awalnya menetapkan alokasi biodiesel 2026 sebesar 15,65 juta kiloliter untuk mendukung B40.

Setelah pemerintah memutuskan peralihan ke B50 pada semester kedua, Kementerian ESDM memperkirakan total kebutuhan biodiesel sepanjang 2026 menjadi sekitar 17,60 juta kiloliter.

Pemerintah menargetkan distribusi B50 di seluruh SPBU dapat terlaksana pada 1 Oktober 2026.

Target tersebut membuat pekerjaan di belakang pompa SPBU menjadi semakin penting.

Sebab, agar B50 tersedia di berbagai wilayah, FAME dan bahan bakar hasil pencampurannya harus bergerak melalui rantai yang panjang: dari produsen, fasilitas penyimpanan, kapal, terminal energi, hingga akhirnya mencapai titik penjualan.

Di negara dengan ribuan pulau, jalur laut menjadi salah satu penghubung utama dalam rantai tersebut.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pertamina Trans Kontinental FAME biodiesel B50 pertamina energi terbarukan