IHSG Bisa Rebound, Rupiah Dekati Rp17.900: Ini Prediksi Pasar Selasa 22 September

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 05:57 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia. Pasar domestik memasuki perdagangan Selasa (22/9) dengan sentimen positif dari Wall Street, tetapi rupiah masih tertekan menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (23/9). (ChatGPT)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia. Pasar domestik memasuki perdagangan Selasa (22/9) dengan sentimen positif dari Wall Street, tetapi rupiah masih tertekan menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (23/9). (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Pasar keuangan Indonesia memasuki perdagangan Selasa (22/9) dengan sinyal yang tidak sepenuhnya searah.

Wall Street mengakhiri perdagangan Senin waktu Amerika Serikat dengan reli kuat. Namun, dolar AS masih menguat dan rupiah menutup perdagangan sebelumnya mendekati Rp17.850 per dolar AS.

Di dalam negeri, perhatian pasar beralih ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada Selasa–Rabu, 22–23 September 2026.

Bank Indonesia terakhir mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen dalam RDG Agustus. Saat itu, BI menyatakan keputusan tersebut tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas global serta menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen.

Karena itu, perdagangan Selasa berpotensi menjadi sesi menunggu sebelum keputusan BI diumumkan Rabu.

IHSG Turun ke 6.384, Wall Street Buka Peluang Rebound

IHSG mengakhiri perdagangan Senin di 6.384,72, melemah 0,88 persen atau 56,43 poin.

Sepanjang sesi, indeks bergerak antara sekitar 6.381 hingga 6.451. Investor asing membukukan net sell sekitar Rp510,07 miliar di seluruh pasar.

Delapan dari sebelas sektor juga ditutup melemah. Infrastruktur menjadi sektor dengan koreksi terdalam sebesar 1,38 persen, disusul barang konsumsi primer dan energi.

Secara teknikal, tekanan belum sepenuhnya selesai.

Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih berada di atas moving average 100 hari. Namun, histogram MACD negatif melebar dan Stochastic RSI berpotensi membentuk death cross di area oversold.

“Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.300–6.350 pada perdagangan Selasa,” tulis Phintraco Sekuritas.

Panin Sekuritas, sementara itu, menempatkan 6.371 sebagai level kritis. Jika IHSG ditutup di bawah level tersebut, risiko koreksi berikutnya dapat mengarah ke sekitar 6.230.

Namun, sentimen dari Amerika Serikat justru memberi penyeimbang.

Nasdaq Composite melonjak 2,26 persen pada Senin dan mencetak rekor penutupan di 27.122,09. S&P 500 naik 1,49 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,71 persen.

Reli saham AS terutama ditopang sektor teknologi dan semikonduktor. Pada saat bersamaan, yield Treasury AS 10 tahun turun ke sekitar 4,96 persen dan harga minyak melemah.

Kombinasi saham AS yang menguat, yield jangka panjang yang turun, dan minyak yang lebih murah dapat memperbaiki sentimen risiko pada perdagangan Asia.

Karena itu, IHSG memiliki peluang technical rebound setelah terkoreksi dua sesi berturut-turut.

Namun, kenaikan belum tentu kuat karena pasar masih menghadapi pelemahan rupiah, net sell asing, dan ketidakpastian keputusan BI.

Untuk Selasa, area 6.300–6.350 menjadi zona bawah yang perlu dicermati. Jika IHSG mampu kembali melewati 6.400, peluang menguji 6.450 terbuka.

Sebaliknya, penutupan di bawah 6.371 akan memperkuat sinyal koreksi dan membuat area sekitar 6.300 semakin relevan.

Dengan kondisi tersebut, skenario dasar IHSG lebih tepat disebut volatil dengan peluang rebound terbatas, bukan sekadar sideways-melemah.

Rupiah Dekati Rp17.900, BI Jadi Fokus

Tekanan yang lebih jelas terlihat pada rupiah.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup Senin pada Rp17.847 per dolar AS, melemah 89 poin atau 0,50 persen dibanding Rp17.758 pada Jumat.

Data resmi Bank Indonesia menunjukkan JISDOR juga naik dari Rp17.745 pada Jumat menjadi Rp17.813 per dolar AS pada Senin.

Jika ditarik lebih jauh, JISDOR masih berada di Rp17.635 pada 14 September. Artinya, rupiah melemah 178 poin berdasarkan kurs referensi BI hanya dalam sepekan.

Tekanan datang ketika dolar AS kembali menguat setelah Federal Reserve menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen pada 16 September.

“Inflasi tetap tinggi,” kata Federal Reserve dalam pernyataan resminya.

Proyeksi terbaru FOMC juga menempatkan median federal funds rate pada 4,1 persen pada akhir 2026, lebih tinggi dibanding proyeksi Juni sebesar 3,8 persen.

Pada perdagangan Senin waktu AS, indeks dolar kembali naik sekitar 0,13 persen ke 100,40.

Reuters mencatat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan bunga The Fed pada Desember berada sekitar 88 persen. Namun, ekspektasi tersebut dapat berubah mengikuti data ekonomi AS berikutnya.

Di dalam negeri, pasar menunggu arah kebijakan BI.

RDG September dimulai Selasa dan keputusan akan diumumkan setelah pertemuan berakhir Rabu.

Pada Agustus, BI mempertahankan suku bunga 5,75 persen dan menegaskan fokusnya menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga menyatakan terus menggunakan instrumen intervensi dan berbagai kebijakan untuk menarik aliran modal asing.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan berikutnya bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.840–Rp17.900 per dolar AS.

Rentang tersebut dapat dijadikan referensi utama untuk Selasa.

Area Rp17.900 menjadi level psikologis yang perlu diperhatikan. Bila dolar kembali menguat dan arus keluar asing berlanjut, level tersebut dapat kembali diuji.

Sebaliknya, koreksi dolar, penurunan yield Treasury, atau persepsi bahwa BI akan tetap agresif menjaga stabilitas rupiah dapat membuka peluang penguatan terbatas.

Dengan demikian, rupiah masih memiliki bias defensif menjelang keputusan BI.

Emas Turun karena Dolar dan Ekspektasi The Fed

Emas menghadapi tekanan berbeda.

Reuters mencatat harga emas spot turun sekitar 0,6 persen pada Senin menjadi US$4.349,94 per troy ounce.

Kontrak berjangka emas AS berakhir turun 0,9 persen di US$4.383,90.

Penguatan dolar dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed masih akan menaikkan suku bunga menjadi faktor penekan utama.

Emas tidak memberikan bunga. Ketika yield instrumen berbasis dolar tinggi, biaya peluang memegang logam mulia ikut meningkat.

Meski demikian, tekanan pada emas tidak terjadi dalam kondisi pasar yang sepenuhnya negatif.

Yield Treasury AS 10 tahun justru turun kembali ke sekitar 4,96 persen pada Senin. Harga minyak juga melemah, sementara risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.

Karena itu, pergerakan emas global pada Selasa masih berpotensi volatil.

Harga Antam Selasa Belum Terbit

Untuk emas dalam negeri, harga resmi terbaru Logam Mulia yang tersedia sebelum pembaruan Selasa masih merupakan harga Senin.

Harga dasar emas Antam satu gram pada 21 September tercatat Rp2.628.000.

Logam Mulia biasanya memperbarui harga setiap hari sekitar pukul 08.30 WIB. Dengan demikian, angka tersebut belum dapat disebut sebagai harga Antam Selasa.

Secara teoritis, dua faktor utama sedang bergerak berlawanan.

Harga emas internasional turun sekitar 0,6 persen, yang memberi tekanan ke bawah terhadap harga emas dalam rupiah.

Namun, rupiah melemah sekitar 0,5 persen terhadap dolar pada Senin. Pelemahan mata uang domestik dapat menahan sebagian dampak penurunan emas dunia.

Karena itu, skenario yang lebih hati-hati adalah harga Antam Selasa berpotensi bergerak relatif terbatas dibanding posisi Rp2,628 juta per gram.

Tidak cukup kuat dasar untuk memperkirakan rentang harga yang sangat presisi sebelum Logam Mulia melakukan pembaruan resmi karena harga retail Antam juga dipengaruhi premium, spread, waktu penetapan, dan kebijakan harga perusahaan.

Pasar Menunggu Rabu

Perdagangan Selasa pada akhirnya menjadi sesi transisi sebelum keputusan Bank Indonesia.

IHSG mendapat angin positif dari reli Wall Street dan penurunan yield Treasury, tetapi masih menghadapi sinyal teknikal yang lemah serta net sell investor asing.

Rupiah berada dalam posisi lebih rentan karena dolar AS masih kuat dan nilai tukar sudah mendekati Rp17.900 per dolar AS.

Sementara emas global masih ditekan ekspektasi suku bunga AS, sedangkan pelemahan rupiah berpotensi menjadi bantalan bagi harga Antam.

Untuk IHSG, 6.371 menjadi level teknikal penting dan 6.300–6.350 menjadi zona yang berpotensi diuji.

Untuk rupiah, kisaran analis Rp17.840–Rp17.900 menjadi referensi utama, dengan Rp17.900 sebagai level psikologis.

Untuk emas Antam, arah paling masuk akal sebelum harga resmi Selasa terbit adalah pergerakan terbatas dari Rp2,628 juta per gram, tanpa perlu memaksakan proyeksi harga yang terlalu presisi.

Pasar kemudian akan mendapatkan petunjuk yang jauh lebih jelas pada Rabu ketika Bank Indonesia mengumumkan hasil RDG September.


DISCLAIMER: Proyeksi pasar bersifat prediksi dan dapat berubah setelah perdagangan dimulai. Artikel ini merupakan informasi umum dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen investasi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rupiah hari ini IHSG hari ini harga emas hari ini Bank Indonesia the fed