Jelang Keputusan The Fed, IHSG Berbalik Melemah, Rupiah Rp17.696 dan Emas Naik

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 16:53 WIB
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pasar menjelang keputusan kebijakan suku bunga The Fed pada September 2026. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pasar menjelang keputusan kebijakan suku bunga The Fed pada September 2026. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Rabu (16/9). 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat pada sesi pertama, tetapi berbalik melemah hingga penutupan.

Di pasar valuta asing, rupiah bertahan di kisaran Rp17.696 per dolar AS, sementara harga emas Antam naik Rp1.000 per gram.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika pelaku pasar global menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat atau The Fed.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berlangsung pada 15–16 September 2026 dan menjadi perhatian karena arah kebijakan suku bunga AS dapat memengaruhi pasar saham, nilai tukar, obligasi, dan komoditas global.

IHSG sempat menguat sebelum berbalik melemah

IHSG dibuka di sekitar level 6.450–6.453,91 setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup pada 6.461,13.

Indeks kemudian sempat menguat hingga 6.535,46 sebelum kehilangan momentum.

Pada sesi pertama, IHSG masih berada di level 6.484,10 atau naik 22,94 poin setara 0,36 persen.

Namun, hingga penutupan perdagangan, indeks berbalik turun 24,30 poin atau 0,38 persen, dengan rentang pergerakan harian sekitar 6.436 hingga 6.535.

Nilai transaksi pada hari tersebut mencapai sekitar Rp10,7 triliun.

Sementara pada sesi pertama, nilai transaksi tercatat Rp6,24 triliun dengan sekitar 1,03 juta transaksi dan 136,23 juta lot saham.

Tekanan juga terlihat dari luasnya pelemahan sektoral.

Sebanyak sembilan dari sebelas sektor utama berada di zona merah.

Sektor infrastruktur turun 1,39 persen, teknologi melemah 1,13 persen, dan sektor barang konsumen primer turun 1,12 persen.

Sektor properti dan real estat turun 0,78 persen, energi 0,62 persen, keuangan 0,42 persen, material dasar 0,27 persen, kesehatan 0,24 persen, serta transportasi dan logistik 0,14 persen.

Sebaliknya, sektor industri naik 0,91 persen dan barang konsumen non-primer menguat 0,11 persen.

Investor asing masih melepas saham

Salah satu faktor yang ikut mewarnai perdagangan adalah arus dana asing.

Pada sesi pertama, investor asing mencatatkan penjualan bersih atau foreign net sell sekitar Rp430,21 miliar.

Nilai penjualan asing mencapai sekitar Rp2,15 triliun, sedangkan pembelian berada di kisaran Rp1,72 triliun.

Saham yang mencatat penjualan asing terbesar antara lain BMRI sekitar Rp146,43 miliar, BUMI Rp71,92 miliar, BBCA Rp43,88 miliar, BBRI Rp23,77 miliar, dan ASII Rp23,65 miliar.

Di sisi lain, sejumlah saham tetap menjadi tujuan pembelian asing.

BRMS mencatat pembelian asing sekitar Rp48,92 miliar, diikuti ANTM Rp48,85 miliar, SINI Rp29,67 miliar, INCO Rp15,44 miliar, dan EMAS Rp9,47 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan indeks tidak hanya berasal dari perubahan sentimen secara umum, tetapi juga dari pelepasan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan.

Rupiah bertahan di Rp17.696 per dolar AS

Di pasar valuta asing, rupiah ditutup pada Rp17.696 per dolar AS, melemah tipis dua poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.694.

Pada awal perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga sekitar Rp17.730 per dolar AS.

Namun, mata uang domestik kemudian bergerak membaik ke sekitar Rp17.702 dan Rp17.699 sebelum akhirnya ditutup di Rp17.696.

Dalam sepekan, rupiah tercatat mengalami depresiasi sekitar 1,11 persen.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun dalam laporan perdagangan, kurs JISDOR sebelumnya berada di Rp17.687 per dolar AS dan indeks dolar AS (DXY) ditutup di sekitar 99,564.

Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika harga minyak mentah global berada di atas US$100 per barel.

Sebagai negara pengimpor minyak secara neto, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor.

Laporan riset juga mengaitkan tekanan rupiah dengan arus keluar dana asing dari pasar saham domestik.

Data inflasi AS menjadi perhatian The Fed

Perhatian pasar terhadap kebijakan The Fed tidak terlepas dari perkembangan inflasi Amerika Serikat.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) pada Agustus 2026 naik 0,4 persen secara bulanan dan 3,4 persen dalam 12 bulan.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan makanan dan energi, naik 0,3 persen pada Agustus dan 2,4 persen secara tahunan.

“Pada Agustus, Indeks Harga Konsumen untuk seluruh konsumen perkotaan meningkat 0,4 persen secara penyesuaian musiman," tulis BLS.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar karena kebijakan suku bunga The Fed sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Sikap The Fed sebelumnya masih menahan suku bunga

Sebelum pertemuan September, keputusan resmi FOMC pada Juli 2026 menunjukkan bahwa The Fed mempertahankan suku bunga acuannya.

“Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds pada 3,5 persen hingga 3,75 persen,” sebut The Federal Reserve dalam pernyataan resmi 29 Juli 2026.

The Fed juga menegaskan dalam pernyataan yang sama bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung mandat gandanya.

“Komite akan mewujudkan stabilitas harga," tulis pernyataan tersebut.

Dengan demikian, keputusan FOMC September menjadi penting karena pasar akan mencermati bukan hanya keputusan mengenai tingkat suku bunga, tetapi juga bahasa yang digunakan bank sentral dalam menjelaskan prospek kebijakan berikutnya.

Harga emas Antam naik

Sementara pasar saham dan rupiah menghadapi tekanan, emas domestik justru bergerak naik.

Harga emas Antam ukuran 1 gram meningkat Rp1.000 menjadi Rp2.593.000.

Setelah memperhitungkan pajak penghasilan (PPh) 22 sebesar 0,25 persen bagi pemegang NPWP, nilainya menjadi sekitar Rp2.599.483.

Harga buyback juga naik Rp1.000 menjadi Rp2.438.000 per gram.

Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback berada di sekitar Rp155.000 atau sekitar 5,98 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana harga emas domestik tidak hanya dipengaruhi harga emas dunia, tetapi juga oleh nilai tukar rupiah.

Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga emas dalam rupiah dapat memperoleh dukungan meskipun pergerakan harga emas global tidak terlalu besar.

Emas global kembali menguat

Di pasar internasional, harga emas spot pada awal perdagangan berada di kisaran US$4.283,97–US$4.293,29 per troy ounce.

Dalam perkembangan berikutnya, harga kembali menguat sekitar 0,77–0,87 persen menuju US$4.328,07–US$4.329 per troy ounce.

Laporan riset menempatkan area US$4.277–US$4.297 sebagai zona support, sedangkan resistance berada di sekitar US$4.351–US$4.363.

Indikator exponential moving average (EMA) 20 hari berada di sekitar US$4.393.

Kenaikan emas terjadi ketika investor menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter, inflasi, nilai tukar, dan perkembangan harga energi.

Dalam kondisi seperti itu, emas sering menjadi salah satu aset yang diperhatikan pasar sebagai instrumen diversifikasi.

Tiga pasar bergerak dalam satu rangkaian

Pergerakan IHSG, rupiah, dan emas pada 16 September memperlihatkan keterkaitan antara pasar domestik dan kondisi global.

Tekanan pada saham terjadi bersamaan dengan penjualan bersih investor asing.

Rupiah menghadapi tekanan di tengah tingginya harga minyak dan penguatan kebutuhan valuta asing, sedangkan emas memperoleh dukungan dari kombinasi harga global dan pelemahan rupiah.

Pada saat yang sama, keputusan FOMC menjadi titik perhatian berikutnya.

Suku bunga AS memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan dapat berdampak pada arus modal global.

Namun, keputusan September belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan data perdagangan Indonesia pada hari tersebut.

Karena itu, perkembangan setelah pengumuman FOMC, arah imbal hasil obligasi AS, indeks dolar, harga minyak, dan arus dana asing menjadi sejumlah indikator yang perlu diperhatikan untuk membaca respons pasar berikutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar keuangan Indonesia ihsg rupiah the fed harga emas antam