RADAR BANYUWANGI - Pasar saham Indonesia bergerak liar pada perdagangan Senin, 14 September 2026. IHSG sempat anjlok lebih dari 2 persen hingga menyentuh level 6.371,39 sebelum berbalik arah dan mengakhiri perdagangan di 6.534,69.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada 6.533,87. Tekanan jual kemudian meningkat pada awal sesi kedua sehingga indeks kehilangan lebih dari 132 poin dari posisi sebelumnya.
Kepanikan pasar mereda setelah kepastian pelantikan Menteri Keuangan baru. IHSG bahkan sempat kembali menyentuh level 6.550 sebelum akhirnya ditutup melemah tipis 0,10 persen atau 6,68 poin.
Pelantikan Menkeu Redakan Tekanan Pasar
Perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan tersebut. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan fiskal sebelumnya ikut mendorong aksi jual.
Setelah pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, sentimen pasar berangsur membaik. Pembelian kembali saham berkapitalisasi besar ikut membantu IHSG memangkas sebagian besar penurunannya.
Meski demikian, kondisi pasar secara keseluruhan masih menunjukkan tekanan. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 429 saham melemah, sedangkan 219 saham menguat dan 141 saham tidak berubah. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp17,64 triliun hingga Rp17,82 triliun.
Sektor keuangan menjadi salah satu penopang indeks dengan kenaikan 0,55 persen. Sektor perindustrian juga tumbuh 0,45 persen.
Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi sektor dengan penurunan terbesar, yakni 2,95 persen. Sektor energi melemah 1,65 persen, sementara infrastruktur turun 1,45 persen.
Di antara saham LQ45, AMMN mencatat kenaikan 4,94 persen, disusul BBRI yang naik 3,98 persen dan TLKM sebesar 3,46 persen. Sementara itu, MDKA turun 5,57 persen, EXCL melemah 3,04 persen, dan INCO terkoreksi 2,90 persen.
Investor Asing Masih Lepas Saham
Pemulihan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan perubahan sikap investor asing. Pada paruh pertama perdagangan, investor asing mencatat penjualan bersih Rp664,34 miliar di pasar reguler.
Penjualan kotor asing mencapai Rp2,63 triliun, lebih tinggi dibandingkan pembelian yang berada di kisaran Rp1,97 triliun.
Sejumlah saham menjadi sasaran pelepasan asing, antara lain ANTM dengan nilai Rp164,81 miliar, BMRI Rp127,90 miliar, BUMI Rp124,55 miliar, TINS Rp45,83 miliar, dan MDKA Rp34,71 miliar.
Rupiah Melemah ke Rp17.669 per Dolar AS
Di pasar valuta asing, rupiah justru masih berada dalam tekanan. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada Rp17.669 per dolar AS, melemah 0,33 persen atau 58 poin dari perdagangan sebelumnya.
Kurs JISDOR Bank Indonesia juga melemah 24 poin menjadi Rp17.635 per dolar AS. Pada awal perdagangan, rupiah sempat menguat ke Rp17.605, tetapi kemudian kembali tertekan akibat tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan lindung nilai.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS menguat di kawasan Asia. Indeks dolar AS atau DXY berada di level 99,19.
Perhatian pasar juga tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Inflasi konsumen AS pada Agustus 2026 tercatat naik 0,4 persen secara bulanan, sedangkan inflasi inti meningkat 0,3 persen. Data tersebut memperbesar ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin.
Kondisi global tersebut menjadi perhatian bagi investor Indonesia karena penguatan dolar dan kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan tekanan terhadap aset-aset di negara berkembang.
Harga Emas Antam Turun Rp2.000
Berbeda dengan pergerakan rupiah yang cukup tajam, perubahan harga emas Antam pada perdagangan 14 September relatif kecil.
Harga dasar emas Antam pecahan 1 gram turun Rp2.000 menjadi Rp2.602.000 per gram. Harga buyback juga turun Rp2.000 menjadi Rp2.452.000 per gram.
Harga emas dunia memang sedang terkoreksi. Emas spot internasional bergerak di kisaran US$4.327,09 hingga US$4.342,60 per troy ounce. Penurunan tersebut terjadi ketika pasar memperkirakan kebijakan moneter AS masih ketat.
Namun, pelemahan rupiah membantu menahan penurunan harga emas dalam rupiah. Emas domestik dihitung berdasarkan harga dalam dolar AS yang kemudian dikonversikan ke rupiah. Karena itu, pelemahan mata uang Indonesia dapat menjadi penyangga ketika harga emas dunia turun.
Bagi masyarakat Banyuwangi yang memantau harga emas sebagai instrumen penyimpan nilai, kondisi ini menunjukkan bahwa harga emas di pasar domestik tidak hanya ditentukan oleh harga emas dunia. Pergerakan rupiah juga ikut menentukan harga yang terlihat di pasar dalam negeri.
Pasar Masih Menunggu Arah The Fed
Gejolak pasar diperkirakan belum sepenuhnya berakhir. Investor masih akan mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, memproyeksikan IHSG bergerak variatif dengan area support terdekat di 6.472 dan 6.415. Sementara area resistance berada pada 6.610 hingga 6.658.
Untuk rupiah, analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan kurs spot bergerak dalam kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS. Sementara Ibrahim Assuaibi dari PT Traze Andalan Futures memperkirakan rupiah masih berada di bawah tekanan pada kisaran Rp17.660 hingga Rp17.710.
Harga emas Antam sendiri diperkirakan masih bergerak dalam rentang konsolidasi Rp2.600.000 hingga Rp2.630.000 per gram. Pergerakan rupiah dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang dapat menahan penurunan emas domestik.
Perdagangan 14 September memperlihatkan betapa cepatnya sentimen dapat berubah di pasar keuangan. IHSG yang sempat jatuh lebih dari 2 persen akhirnya hanya mencatat penurunan 0,10 persen.
Editor : Lugas Rumpakaadi