RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Jumat, 11 September 2026, dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,73 persen ke level 6.541,38, sementara rupiah melemah hingga Rp17.611 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan tersebut terjadi ketika pasar global dibayangi eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, kenaikan harga minyak mentah Brent hingga menembus USD 100 per barel, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi lebih lama.
Perubahan harga energi, nilai tukar, dan arus modal global dapat ikut memengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri, meski dampaknya tidak selalu terasa secara langsung.
IHSG Sempat Anjlok 1,82 Persen
IHSG mengawali perdagangan pada level 6.552,79. Tekanan jual kemudian meningkat pada sesi pertama hingga indeks sempat menyentuh 6.462,96, atau turun sekitar 1,82 persen dari level awal perdagangan.
Situasi membaik pada paruh kedua sesi perdagangan. Aksi beli selektif membuat IHSG mampu memangkas sebagian besar pelemahannya dan kembali berada di atas level psikologis 6.500.
Pada akhir perdagangan, IHSG tercatat 6.541,38, turun 47,96 poin atau 0,73 persen.
Aktivitas transaksi tetap ramai. Volume perdagangan berada di kisaran 28,36-30,47 miliar lembar saham, sementara nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,54-Rp14,74 triliun. Lebar pasar juga menunjukkan tekanan jual masih mendominasi perdagangan.
Hanya Sektor Kesehatan yang Menguat
Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor. Dari 11 sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, 10 sektor berakhir di zona merah.
Sektor kesehatan justru bergerak berlawanan dengan penguatan 3,91 persen. Pergerakan tersebut dikaitkan dengan rotasi dana menuju aset yang dianggap lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat.
Sementara itu, sektor energi mengalami tekanan besar. Sektor tersebut terkoreksi hingga 2,29 persen. Utilitas turun 1,62 persen dan barang konsumen nonprimer melemah 1,25 persen.
Sektor infrastruktur turun 1,20 persen, konsumer primer 1,19 persen, transportasi dan logistik 1,13 persen, sedangkan teknologi terkoreksi 0,71 persen.
Tekanan di sektor energi antara lain tercermin pada saham BYAN, CUAN, dan INDY. Di sektor perbankan, BBCA, BBRI, dan BMRI juga mengalami pelemahan.
Saham Asing Banyak Dilepas
Salah satu faktor yang ikut menekan IHSG adalah aksi jual investor asing.
Hingga penutupan sesi pertama, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih Rp428,96 miliar di pasar reguler. Nilai tersebut berasal dari transaksi jual asing sekitar Rp2,76 triliun, berbanding pembelian Rp2,33 triliun.
Tekanan berlanjut hingga akhir perdagangan dengan arus keluar harian sekitar Rp748 miliar. Sehari sebelumnya, investor asing juga mencatatkan penjualan bersih yang jauh lebih besar, yakni sekitar Rp1,95 triliun di seluruh pasar.
Saham BBCA menjadi salah satu yang paling banyak dilepas investor asing. Pada sesi pertama, penjualan bersih asing di saham tersebut mencapai Rp311,71 miliar.
Namun, aksi jual tidak terjadi di semua saham. Investor asing masih mencatatkan pembelian bersih pada BBRI, BUMI, AADI, TLKM, dan PTBA.
Rupiah Kembali Menembus Rp17.600
Tekanan pasar juga terlihat pada nilai tukar.
Rupiah di pasar spot ditutup pada Rp17.611 per dolar AS, melemah 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.547.
Rupiah sempat berada di level Rp17.585 ketika perdagangan dibuka. Pergerakan tersebut terjadi ketika indeks dolar AS menguat dan pasar memperhitungkan dampak kenaikan harga energi terhadap kebutuhan impor Indonesia.
Ada beberapa jalur yang membuat kenaikan harga minyak memberikan tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk membayar impor bahan bakar.
Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dapat membuat sebagian investor global mengurangi minat terhadap aset negara berkembang. Pelemahan rupiah melewati Rp17.600 juga memunculkan kekhawatiran mengenai potensi inflasi dari barang-barang impor.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki cadangan devisa sebesar USD 145,3 miliar pada Juli 2026. Posisi tersebut menjadi salah satu bantalan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Harga Emas Antam Turun Rp25.000
Emas, yang kerap menjadi pilihan ketika pasar sedang tidak pasti, juga mengalami perubahan harga.
Harga emas batangan Antam pada Jumat turun Rp25.000 menjadi Rp2.600.000 per gram. Sehari sebelumnya, harga berada di Rp2.625.000 per gram.
Harga buyback juga turun Rp25.000 menjadi Rp2.450.000 per gram. Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback berada di level Rp150.000 per gram.
Di pasar global, emas spot bergerak relatif datar dengan penguatan marjinal sekitar 0,1 persen pada kisaran USD 4.362,87-USD 4.400 per troy ounce.
Harga emas dunia menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS. Namun, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik masih menjadi faktor pendukung.
Menariknya, pelemahan rupiah memberikan efek penyangga terhadap harga emas ketika dihitung dalam mata uang domestik. Karena itu, penurunan harga emas Antam tercatat sekitar 0,95 persen, lebih kecil dibandingkan koreksi emas global sehari sebelumnya yang mencapai 1,8 persen.
Apa Artinya bagi Masyarakat?
Pergerakan IHSG, rupiah, dan emas pada hari yang sama memperlihatkan bagaimana guncangan global dapat diteruskan ke pasar Indonesia.
Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya impor energi. Rupiah yang melemah dapat meningkatkan biaya sejumlah barang dan bahan baku yang bergantung pada impor. Sementara itu, perubahan harga saham dan emas akan lebih langsung dirasakan oleh masyarakat yang memiliki investasi pada instrumen tersebut.
Namun, besarnya dampak terhadap perekonomian dan harga barang sehari-hari tidak dapat ditentukan hanya dari pergerakan pasar dalam satu hari. Perkembangan berikutnya tetap bergantung pada durasi gejolak energi, nilai tukar, inflasi, serta kebijakan moneter.
Pasar Masih Menunggu Perkembangan Global
Tekanan perdagangan Jumat menunjukkan bahwa pasar domestik masih sensitif terhadap perkembangan dari luar negeri.
Konflik di kawasan Selat Hormuz menjadi perhatian karena berkaitan dengan jalur distribusi energi dunia. Sementara itu, kenaikan inflasi produsen Amerika Serikat memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun bahkan berada di kisaran 4,85-4,95 persen. Kondisi tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik dan memberikan tekanan tambahan terhadap pasar negara berkembang.
Untuk perdagangan berikutnya, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan pasokan energi di Timur Tengah, data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat, serta keputusan suku bunga Federal Reserve.
Dengan demikian, pelemahan IHSG dan rupiah pada akhir pekan ini belum dapat dilihat sebagai gambaran tunggal mengenai arah ekonomi Indonesia. Pasar masih menunggu apakah tekanan global tersebut bersifat sementara atau berkembang menjadi gejolak yang lebih panjang.
Editor : Lugas Rumpakaadi