RADAR BANYUWANGI – Kelangkaan gas elpiji tabung 3 kilogram (kg) belum sepenuhnya terurai di Banyuwangi. Hingga Kamis (10/9), warga masih harus berpindah dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Di tengah pasokan yang belum kembali normal, sebagian warga bahkan memilih kembali menggunakan luweng atau tungku tradisional untuk memasak.
Kondisi itu diduga merupakan dampak lanjutan dari distribusi elpiji yang sempat tersendat beberapa hari sebelumnya. Meski aliran pasokan mulai bergerak, distribusi hingga tingkat toko kelontong belum sepenuhnya lancar.
Bagi warga, situasi tersebut membuat gas melon menjadi barang yang harus diburu.
Warsini, 40, warga Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, mengaku masih kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg hingga kemarin.
“Elpiji 3 kg masih sulit dicari. Saya harus mencari ke beberapa toko baru ketemu,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Khusnul, 37, warga Desa Sambimulyo lainnya. Untuk mendapatkan gas bersubsidi itu, dia harus rutin memantau toko kelontong yang biasa menyediakan kebutuhan rumah tangga.
Bukan tanpa alasan. Ketika terlambat datang, stok gas biasanya sudah habis dibeli warga lain.
Menurut Khusnul, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar sepuluh hari. Situasi itu bahkan membuat warga harus menyiapkan alternatif ketika gas tidak ditemukan.
“Kelangkaan elpiji ini terjadi sudah sekitar sepuluh hari. Bahkan, untuk berjaga-jaga, ketika memasak tak jarang kami menggunakan luweng (tungku),” katanya.
Dua Pekan Toko Tak Dapat Kiriman
Kelangkaan tidak hanya dirasakan konsumen. Sejumlah pedagang eceran juga mengaku pasokan gas melon ke toko mereka belum kembali seperti kondisi normal.
Lilik, salah seorang pemilik toko, mengatakan tempat usahanya tidak mendapatkan kiriman elpiji tabung 3 kg selama sekitar dua pekan terakhir.
Padahal, dalam kondisi normal, toko tersebut memperoleh pasokan dua kali dalam sepekan. Setiap pengiriman biasanya berisi sekitar 15 tabung.
“Biasanya ada mobil distribusi yang mengirim elpiji ke toko saya. Mungkin saat ini masih difokuskan ke agen-agen. Jadi belum sampai ke toko,” tuturnya.
Untuk menunjukkan bahwa stok gas sedang kosong, Lilik bahkan sengaja memasang tabung-tabung kosong di tokonya.
Upaya mendapatkan pasokan langsung dari agen pun belum tentu membuahkan hasil. Pedagang harus melakukan pemesanan terlebih dahulu dan tetap tidak mendapatkan kepastian mengenai jumlah tabung yang bisa diperoleh.
Lilik mengaku sempat mencari pasokan ke agen di wilayah Jajag, Kecamatan Gambiran.
“Beberapa hari lalu sempat mencari ke agen di daerah Jajag, Kecamatan Gambiran, tapi ternyata sudah pesanan orang semua. Jadi hingga saat ini (kemarin) kami belum kebagian gas elpiji,” bebernya.
Distribusi Tersendat, Dampaknya Sampai Rumah Tangga
Kelangkaan gas 3 kg tersebut tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, jalur distribusi elpiji di Banyuwangi sempat mengalami gangguan setelah akses menuju Terminal Elpiji Bosowa di Bulusan, Kecamatan Kalipuro, terhambat aksi unjuk rasa.
Kondisi tersebut membuat kendaraan pengangkut elpiji tidak dapat keluar-masuk terminal secara normal.
Efeknya kemudian merambat ke rantai distribusi berikutnya. Sejumlah Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBE) sempat mengalami kekurangan pasokan. Dari titik tersebut, gangguan kemudian terasa di tingkat pangkalan hingga rumah tangga.
Gas elpiji 3 kg yang sehari-hari menjadi salah satu sumber energi utama untuk memasak pun semakin sulit ditemukan di sejumlah wilayah Banyuwangi.
Bagi masyarakat, persoalannya bukan semata soal sulit menemukan tabung hijau. Ketika stok di tingkat toko menipis, warga harus mengeluarkan waktu dan tenaga lebih untuk berburu gas.
Ada yang memilih mendatangi toko sejak pagi. Ada pula yang harus berpindah-pindah lokasi sebelum mendapatkan satu tabung.
Sementara bagi pedagang, ketidakpastian pasokan membuat mereka tidak bisa memastikan kapan stok berikutnya tiba.
Rantai yang seharusnya bergerak dari terminal, SPBE, agen, pangkalan, hingga pengecer menjadi penentu apakah gas melon bisa sampai ke dapur warga tepat waktu.
Kini, meski gangguan distribusi sebelumnya mulai berlalu, efeknya masih terasa di tingkat paling bawah. Gas 3 kg belum sepenuhnya kembali mudah ditemukan, dan warga Banyuwangi masih harus berburu demi bisa menyalakan kompor di rumah. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin