KAI Catat Lonjakan Angkutan Perkebunan, Tembus 683.214 Ton hingga Agustus 2026

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 08:38 WIB
Kereta api barang menjadi salah satu moda yang digunakan untuk mendukung distribusi komoditas perkebunan. KAI mencatat volume angkutan perkebunan mencapai 683.214 ton sepanjang Januari–Agustus 2026. (Antara)
Kereta api barang menjadi salah satu moda yang digunakan untuk mendukung distribusi komoditas perkebunan. KAI mencatat volume angkutan perkebunan mencapai 683.214 ton sepanjang Januari–Agustus 2026. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - Angkutan komoditas perkebunan menggunakan kereta api mengalami lonjakan tajam sepanjang 2026. Hingga Agustus, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan mencapai 683.214 ton, naik 91,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada Januari–Agustus 2025, volume angkutan perkebunan KAI tercatat 356.794 ton. Artinya, dalam setahun terjadi tambahan volume sebesar 326.420 ton.

Kenaikan tersebut menjadi gambaran meningkatnya kebutuhan distribusi komoditas perkebunan melalui moda transportasi yang mampu membawa muatan dalam jumlah besar. Kereta api juga memiliki pola perjalanan terjadwal dan jaringan yang menghubungkan kawasan produksi dengan berbagai tujuan distribusi serta kawasan industri.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, angkutan perkebunan merupakan salah satu bagian dari layanan logistik perusahaan untuk mendukung aktivitas industri nasional.

“Kereta api memiliki peran dalam mendukung rantai distribusi berbagai sektor industri, termasuk perkebunan. Dengan karakteristik angkutan yang mampu membawa volume besar dalam satu perjalanan, layanan ini membantu menghadirkan pilihan transportasi logistik yang efisien dan andal bagi pelanggan industri,” ujar Anne.

Besarnya kebutuhan distribusi tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri perkebunan dunia. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang memiliki peran penting, baik bagi kebutuhan pangan maupun industri dan energi.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dikutip Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,66 juta ton.

Komoditas sawit tidak hanya digunakan untuk produk pangan dan kebutuhan industri. Produk turunannya juga menjadi bahan baku penting dalam pengembangan energi berbasis sumber daya dalam negeri.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mengimplementasikan program B50 pada 1 Juli 2026. Program tersebut menetapkan penggunaan campuran biodiesel sebesar 50 persen pada bahan bakar diesel.

Perkembangan industri perkebunan dan meningkatnya pemanfaatan produk sawit di sektor energi pada akhirnya turut membutuhkan dukungan rantai pasok yang mampu bergerak dalam skala besar.

Di sinilah angkutan barang berbasis rel memiliki peran. KAI melayani pengiriman komoditas perkebunan melalui jaringan kereta api barang yang menghubungkan kawasan produksi dengan sejumlah tujuan distribusi.

Bagi pelanggan industri, kapasitas angkut yang besar dan jadwal perjalanan yang konsisten menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan moda transportasi logistik. Pertumbuhan volume angkutan perkebunan KAI menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan tersebut terus berkembang.

Anne mengatakan KAI melakukan evaluasi terhadap layanan angkutan barang agar dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri.

“Pertumbuhan angkutan perkebunan menjadi salah satu indikator berkembangnya kebutuhan logistik berbasis rel. KAI terus melakukan evaluasi terhadap layanan angkutan barang agar mampu menjawab kebutuhan industri dan memberikan layanan transportasi yang semakin optimal,” kata Anne.

Secara global, kelapa sawit juga merupakan salah satu komoditas minyak nabati utama. Data United States Department of Agriculture (USDA) melalui publikasi Oilseeds: World Markets and Trade 2026 menunjukkan Indonesia dan Malaysia menjadi negara dengan kontribusi terbesar terhadap produksi minyak sawit dunia.

Besarnya produksi tersebut membuat distribusi menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri perkebunan. Ketika volume komoditas meningkat, kebutuhan terhadap sarana angkutan yang memiliki kapasitas besar dan mampu melayani pengiriman secara terjadwal ikut menjadi semakin penting.

Karena itu, pertumbuhan angkutan perkebunan KAI lebih tepat dilihat sebagai bagian dari tren logistik nasional. Kereta api tidak lagi hanya berperan sebagai moda transportasi penumpang, tetapi juga menjadi salah satu penghubung penting bagi pergerakan komoditas dan aktivitas industri.

Dengan volume angkutan perkebunan yang telah mencapai 683.214 ton hanya dalam delapan bulan, pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin besarnya ruang bagi transportasi berbasis rel dalam mendukung rantai pasok industri dan perdagangan nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
logistik Jawa Timur kereta api barang angkutan perkebunan KAI Kelapa Sawit