Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun, Pemerintah Buka Peluang Perluasan ke Jawa Timur

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:59 WIB
Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Pemerintah menyiapkan pengelolaan utangnya melalui lembaga di bawah Kementerian Keuangan dan membuka peluang pengembangan jalur hingga Jawa Timur. (ChatGPT)
Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Pemerintah menyiapkan pengelolaan utangnya melalui lembaga di bawah Kementerian Keuangan dan membuka peluang pengembangan jalur hingga Jawa Timur. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh telah direstrukturisasi dengan tenor hingga 80 tahun. Melalui skema tersebut, cicilan utang diperkirakan berada di kisaran Rp1 triliun per tahun.

Purbaya menyampaikan skema tersebut dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (8/9). Menurut dia, besarnya total utang tidak serta-merta membuat beban pembayaran setiap tahunnya menjadi berat karena kewajiban telah disusun dalam jangka waktu yang sangat panjang.

“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” kata Purbaya.

Ia menilai besaran cicilan tersebut relatif lebih ringan dari perkiraan sebelumnya. Dengan kondisi itu, pemerintah masih memiliki ruang untuk menangani kewajiban utang Whoosh melalui lembaga yang berada di bawah Kementerian Keuangan.

Satu SMV Berpeluang Kelola Utang Whoosh

Pemerintah sebelumnya berencana melibatkan special mission vehicle (SMV) atau badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan dalam pengelolaan utang proyek kereta cepat tersebut.

Sejumlah lembaga sempat dipertimbangkan untuk menjalankan mandat tersebut, termasuk Indonesia Investment Authority (INA) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Namun, Purbaya mengatakan keputusan tersebut akan melihat terlebih dahulu besarnya beban yang harus ditangani setiap tahun. Jika cicilan berada pada kisaran yang disebutkannya, satu SMV dinilai sudah cukup untuk mengelola kewajiban tersebut.

“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” ujarnya.

Purbaya sebelumnya juga menyebut keterlibatan perusahaan di bawah Kementerian Keuangan dalam restrukturisasi utang Whoosh berpotensi memberikan keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun.

Ia meyakini SMV atau BLU di bawah Kementerian Keuangan mempunyai kapasitas untuk menjalankan mandat tersebut. Menurutnya, salah satu perusahaan SMV bahkan mampu membukukan keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun.

Pengelolaan Utang Beralih ke Kementerian Keuangan

Tanggung jawab pengelolaan utang proyek KCJB dari Danantara ke Kementerian Keuangan direncanakan beralih pada 15 September 2026.

Peralihan tersebut akan menjadi tahap penting dalam penataan kewajiban pembiayaan proyek Whoosh di tingkat pemerintah. Setelah pengelolaan berada di bawah Kementerian Keuangan, pemerintah akan menentukan lembaga yang mendapatkan mandat untuk menangani utang tersebut.

Bagi pemerintah, fokusnya bukan hanya memastikan kewajiban pembayaran dapat dikelola, tetapi juga melihat kemungkinan pengembangan aset dan jaringan kereta cepat pada masa mendatang.

Purbaya Ingin Whoosh Diperpanjang ke Jawa Timur

Setelah membahas pengelolaan utang, Purbaya juga mengungkap rencana pengembangan jaringan Whoosh ke wilayah lain. Ia menargetkan jalur kereta cepat tersebut dapat diperpanjang hingga Jawa Timur.

Menurut Purbaya, rencana itu telah dibicarakan dengan pihak China. Ia menyebut terdapat ketertarikan dari pihak terkait di China terhadap gagasan tersebut.

“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya. Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” tutur Purbaya.

Pernyataan tersebut saat ini masih berupa target dan rencana pengembangan. Belum ada rincian mengenai kota mana saja yang akan menjadi bagian dari perpanjangan jalur, jadwal pembangunan, maupun skema pembiayaan untuk proyek lanjutan tersebut.

Karena itu, masyarakat di Jawa Timur, termasuk Banyuwangi, masih perlu menunggu pembahasan lebih lanjut sebelum dapat mengetahui apakah wilayah tertentu di provinsi tersebut akan masuk dalam jaringan kereta cepat.

Jika nantinya benar-benar dikembangkan, perluasan Whoosh ke Jawa Timur berpotensi menjadi bagian dari perubahan konektivitas antarkota di Pulau Jawa. Namun, dampak dan manfaatnya baru dapat dinilai secara lebih konkret setelah pemerintah menetapkan rute, tahapan pembangunan, serta skema pendanaannya.

Untuk saat ini, dua perkembangan utama yang disampaikan Purbaya adalah restrukturisasi utang Whoosh dengan tenor hingga 80 tahun dan rencana pengalihan pengelolaannya kepada Kementerian Keuangan. Di sisi lain, pemerintah mulai membuka pembicaraan mengenai kemungkinan memperluas jaringan kereta cepat ke Jawa Timur.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Kereta Cepat Jakarta Bandung utang Whoosh Purbaya Yudhi Sadewa WHOOSH jawa timur