RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat pertumbuhan volume angkutan retail sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Layanan angkutan barang untuk pelanggan bisnis tersebut mencapai 169.044 ton, meningkat dibandingkan periode yang sama pada dua tahun sebelumnya.
Pada Januari-Agustus 2025, volume angkutan retail KAI tercatat 163.821 ton. Sementara pada periode yang sama 2024, volumenya mencapai 144.250 ton.
Jika dibandingkan dengan 2024, volume angkutan retail hingga Agustus 2026 tumbuh 17,2 persen. Kenaikan ini menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan kereta api sebagai salah satu pilihan distribusi barang bagi pelanggan perusahaan.
Layanan angkutan retail merupakan bagian dari bisnis Business to Business (B2B) KAI. Melalui layanan tersebut, perusahaan memanfaatkan jaringan kereta api untuk mengangkut berbagai komoditas dengan kebutuhan kapasitas besar dan perjalanan yang terjadwal.
Bagi pelaku usaha, kepastian pengiriman menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok. Kereta api menawarkan kemampuan membawa barang dalam jumlah besar dalam satu perjalanan, terutama untuk distribusi jarak menengah hingga jauh.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengembangan angkutan retail menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas kontribusi kereta api terhadap sistem logistik nasional.
“KAI terus mengembangkan layanan angkutan barang dengan memastikan aspek keandalan, kapasitas, dan efisiensi distribusi. Kereta api memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran rantai pasok dari pusat produksi menuju berbagai wilayah,” ujar Anne.
Pertumbuhan angkutan retail tersebut berlangsung di tengah kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi biaya logistik. Biaya transportasi merupakan salah satu komponen dalam rantai distribusi yang pada akhirnya turut memengaruhi struktur biaya suatu produk.
Karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dalam satu perjalanan, kereta api memiliki peluang untuk membantu perusahaan mengoptimalkan proses distribusi. Penggunaan energi yang lebih rendah dibandingkan moda jalan raya untuk kapasitas angkut yang setara juga menjadi salah satu keunggulan transportasi berbasis rel.
Efisiensi distribusi tidak hanya berkaitan dengan kepentingan perusahaan. Kelancaran rantai pasok juga berpengaruh terhadap kepastian pasokan berbagai komoditas yang dibutuhkan masyarakat.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas melalui Laporan Logistik Indonesia 2024 menempatkan efisiensi logistik dan penguatan konektivitas multimoda sebagai bagian penting dalam mendukung daya saing ekonomi nasional. Transportasi berbasis rel menjadi salah satu moda yang dapat dioptimalkan dalam sistem tersebut.
Kualitas infrastruktur transportasi juga menjadi salah satu aspek yang memengaruhi kinerja logistik. World Bank melalui Logistics Performance Index (LPI) 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-61 dari 139 negara.
Pertumbuhan volume angkutan retail KAI menunjukkan bahwa layanan kereta api tidak hanya digunakan untuk mobilitas penumpang, tetapi juga semakin dimanfaatkan dalam pergerakan barang. Kapasitas angkut, jadwal perjalanan, dan konektivitas jaringan menjadi faktor yang mendukung kebutuhan tersebut.
KAI menyatakan akan melanjutkan pengembangan layanan angkutan barang dengan mengarah pada sistem logistik yang semakin terintegrasi.
“KAI akan terus meningkatkan kualitas layanan angkutan barang dengan menghadirkan solusi logistik yang semakin terintegrasi. Optimalisasi transportasi berbasis rel diharapkan dapat memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendukung ekosistem logistik nasional yang lebih kompetitif,” pungkas Anne.
Dengan volume yang mencapai 169.044 ton hingga Agustus 2026, angkutan retail menjadi salah satu layanan yang memperlihatkan meningkatnya pemanfaatan kereta api dalam distribusi barang. Pengembangan layanan ini sekaligus memperkuat posisi transportasi berbasis rel sebagai bagian dari rantai pasok dan sistem logistik nasional.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara