IHSG Rawan Koreksi Hari Ini, Rupiah Bisa Sentuh Rp17.700 dan Emas Antam Disorot

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 06:18 WIB
Pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 8 September 2026, di tengah sentimen global dan ketidakpastian kebijakan suku bunga AS. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 8 September 2026, di tengah sentimen global dan ketidakpastian kebijakan suku bunga AS. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI – Pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa, 8 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah, sementara rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Di sisi lain, harga emas Antam diproyeksikan terkoreksi terbatas, tetapi masih berpeluang bertahan di atas Rp2,6 juta per gram.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian bagi investor ritel, termasuk masyarakat Banyuwangi yang mengikuti perkembangan saham, valuta asing, maupun emas sebagai instrumen investasi. Sentimen pasar hari ini masih banyak dipengaruhi faktor dari luar negeri, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, dan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

IHSG masih berisiko terkoreksi

IHSG pada perdagangan Senin, 7 September 2026, ditutup melemah 0,25 persen ke level 6.619,6. Koreksi tersebut melanjutkan tekanan di pasar saham domestik dan membuat indeks masih rentan menghadapi perdagangan yang bergejolak.

Secara teknikal, sejumlah indikator menunjukkan momentum penguatan IHSG belum kembali solid. Stochastic RSI telah membentuk Death Cross, sedangkan histogram positif pada MACD mulai menyempit. Posisi IHSG yang berada di bawah MA5 juga memperlihatkan tekanan korektif dalam jangka pendek.

Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji area support 6.550–6.600. Sementara itu, MNC Sekuritas menempatkan area koreksi terdekat pada 6.578–6.598, dengan support berikutnya di 6.561 dan 6.476. Resistance terdekat berada di level 6.705 dan 6.755.

Tekanan juga datang dari pasar saham global. Pada perdagangan sebelumnya, Dow Jones Industrial Average turun 0,51 persen, S&P 500 melemah 0,38 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,29 persen. Kenaikan harga minyak mentah akibat meningkatnya risiko geopolitik turut menambah kekhawatiran mengenai biaya operasional perusahaan dan inflasi.

Meski indeks secara umum menghadapi tekanan, MNC Sekuritas mencermati empat saham untuk aktivitas perdagangan harian, yakni PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA).

Rupiah menghadapi tekanan dolar AS

Di pasar valuta asing, rupiah pada Senin menguat tipis 0,01 persen ke level Rp17.640 per dolar AS. Namun, ruang penguatan mata uang Garuda pada Selasa diperkirakan terbatas.

Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.640–Rp17.680 per dolar AS. Sementara Lukman Leong dari Doo Financial Futures memperkirakan rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS.

Salah satu perhatian pasar adalah data inflasi Amerika Serikat, khususnya CPI dan PPI. Data inflasi yang masih tinggi dapat memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga pada pertemuan September 2026.

Bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS, fluktuasi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Dalam materi analisis yang menjadi dasar artikel ini, pelaku pasar valuta asing dan korporasi berorientasi impor juga disarankan mempertimbangkan strategi lindung nilai atau hedging.

Cadangan devisa menjadi penyangga rupiah

Di tengah tekanan eksternal, Indonesia masih memiliki sejumlah indikator fundamental yang relatif kuat. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai USD 146,5 miliar, naik dari USD 145,3 miliar pada akhir Juli.

Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi itu memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi apabila tekanan terhadap rupiah meningkat.

Ketahanan sektor perbankan juga menjadi faktor pendukung. Hingga Juli 2026, kredit perbankan mencapai Rp9.135 triliun dan tumbuh 13,58 persen secara tahunan. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 11,21 persen menjadi Rp10.336 triliun.

Emas Antam diperkirakan terkoreksi terbatas

Harga emas Antam juga menjadi perhatian. Pada Senin, 7 September 2026, harga emas batangan Antam turun Rp3.000 menjadi Rp2.637.000 per gram. Harga buyback berada di level Rp2.490.000 per gram.

Untuk perdagangan Selasa, harga emas Antam diperkirakan masih mengalami pelemahan, tetapi koreksinya dinilai terbatas. Harga diproyeksikan tetap bertahan di atas Rp2.600.000 per gram.

Di pasar global, harga emas berada di atas USD 4.461,37 per troy ounce. Emas menghadapi tekanan dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan imbal hasil aset berbasis dolar dan mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Namun, pelemahan rupiah memberikan efek penyangga terhadap harga emas dalam rupiah. Karena itu, penurunan harga emas Antam berpotensi tidak sedalam koreksi harga emas di pasar internasional.

Apa artinya bagi investor ritel?

Bagi masyarakat Banyuwangi yang memiliki investasi saham atau emas, kondisi pasar hari ini menunjukkan pentingnya memperhatikan faktor global sebelum mengambil keputusan.

Investor saham menghadapi pasar yang masih rentan terkoreksi, sementara pemilik emas perlu memperhatikan hubungan antara harga emas dunia, dolar AS, dan nilai tukar rupiah. Sementara bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, perubahan kurs menjadi faktor yang perlu dimasukkan dalam perencanaan biaya.

Untuk jangka lebih panjang, prospek IHSG belum sepenuhnya kehilangan peluang pemulihan. Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai 6.810 pada akhir 2026 dalam skenario dasar dan 7.470–7.500 dalam skenario optimistis. J.P. Morgan Indonesia juga menetapkan target IHSG 7.000 untuk Desember 2026.

Dengan demikian, pasar pada Selasa ini lebih tepat dilihat sebagai periode yang membutuhkan kehati-hatian. Pergerakan IHSG, rupiah, dan emas masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik serta data ekonomi Amerika Serikat.


DISCLAIMER: Proyeksi harga dan pergerakan pasar dalam artikel ini merupakan perkiraan berdasarkan analisis, bukan jaminan hasil investasi atau rekomendasi investasi personal. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan kondisi masing-masing investor.

Editor : Lugas Rumpakaadi
investasi Banyuwangi pasar keuangan Indonesia IHSG hari ini prediksi rupiah 8 September 2026 harga emas antam hari ini