Pembiayaan UMKM Sekarkijang Ikut Digelontor

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:19 WIB
Sekarkijang QRIS Run 5K. (Bank Indonesia)
Sekarkijang QRIS Run 5K. (Bank Indonesia)

RADAR BANYUWANGI - Digitalisasi mulai mengubah cara uang berputar di kawasan Sekarkijang. Hingga Juli 2026, transaksi QRIS telah mencapai Rp843 miliar dari 9,9 juta transaksi. Di saat yang sama, akses pembiayaan bagi pelaku usaha ikut diperluas, ditandai business matching pembiayaan UMKM senilai Rp225 juta di Lumajang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember Iqbal Reza Nugraha mengatakan digitalisasi pembayaran tidak semestinya berhenti pada kemudahan transaksi. Menurut dia, manfaat yang lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut mendorong aktivitas ekonomi pelaku usaha.

“Ukuran keberhasilan digitalisasi bukan hanya seberapa banyak transaksi yang tercatat, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” kata Iqbal.

Kawasan Sekarkijang mencakup Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang. Di lima kabupaten itu, jumlah merchant QRIS mencapai 641.233 hingga Juli 2026. Jumlah tersebut tumbuh 31,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lumajang mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Jumlah merchant QRIS mencapai 80.052, naik 41,7 persen secara tahunan. Adapun transaksi QRIS mencapai 771.358 transaksi dengan nilai Rp81,8 miliar.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di tingkat usaha. BI kemudian mendorong agar perluasan ekosistem digital diikuti akses terhadap sumber pembiayaan.

Salah satunya melalui business matching pembiayaan UMKM senilai Rp225 juta dari BSI KCP Lumajang kepada pelaku usaha di Kecamatan Klakah. Skema ini mempertemukan kebutuhan pembiayaan pelaku UMKM dengan lembaga keuangan.

Bagi UMKM, persoalan modal masih menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan mengembangkan usaha. Karena itu, digitalisasi pembayaran dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar: transaksi tercatat, aktivitas usaha semakin formal, kemudian akses pembiayaan dapat diperluas.

Selain pembiayaan, BI dan Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penguatan kualitas produk UMKM melalui sertifikasi halal dan peningkatan kapasitas Juru Sembelih Halal. Upaya tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Digitalisasi juga mulai diperluas ke sektor pariwisata. BI bersama pemerintah daerah mengembangkan kesiapan QRIS Antarnegara di destinasi Tumpak Sewu, Kecamatan Pronojiwo. Sejumlah titik ekonomi lain juga masuk dalam penguatan ekosistem, seperti Pasar Klakah, Lava Tour Semeru, Pura Mandara Giri Semeru Agung, masjid, dan lingkungan pendidikan.

Menurut Iqbal, digitalisasi memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar mengganti pembayaran tunai dengan nontunai. Setiap transaksi, kata dia, berkaitan dengan aktivitas UMKM, konsumsi masyarakat, kunjungan wisatawan, dan pergerakan ekonomi lokal.

Gambaran itu terlihat dalam kegiatan Dulur Sekarkijang x Road to FESyar SAMARA 2026 pada 5–6 September 2026. Sebanyak 25 UMKM peserta pameran mencatat transaksi penjualan mencapai Rp148,37 juta selama dua hari.

Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar mengatakan elektronifikasi harus menghasilkan manfaat yang nyata. Digitalisasi, menurut dia, tidak cukup hanya mengubah proses manual menjadi digital, tetapi harus meningkatkan efektivitas pemerintahan dan kualitas pelayanan publik.

Sementara Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansyah mendorong kawasan Sekarkijang tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas. Digitalisasi, ekonomi hijau, serta ekonomi dan keuangan syariah dinilai dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.

Lima kabupaten di wilayah kerja KPwBI Jember juga telah masuk kategori Digital dalam Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD). Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi bagi pengembangan ekosistem ekonomi digital di kawasan Sekarkijang.

Dengan transaksi QRIS yang mencapai Rp843 miliar dan pertumbuhan merchant lebih dari 30 persen, tantangan berikutnya adalah memastikan digitalisasi menghasilkan efek ekonomi yang lebih panjang. Bukan hanya transaksi yang meningkat, tetapi juga omzet UMKM, akses pembiayaan, kapasitas produksi, dan pasar yang semakin luas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
digitalisasi ekonomi qris Bank Indonesia umkm Sekarkijang