641 Ribu Merchant Sekarkijang Terhubung QRIS, Merchant Lumajang Tumbuh 41,7 Persen

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:16 WIB
Kolaborasi BI, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas ekosistem ekonomi digital Sekarkijang. (Bank Indonesia)
Kolaborasi BI, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas ekosistem ekonomi digital Sekarkijang. (Bank Indonesia)

RADAR BANYUWANGI - Uang digital semakin deras mengalir dalam aktivitas ekonomi kawasan Sekarkijang. Hingga Juli 2026, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di lima kabupaten wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember mencapai 9,9 juta transaksi dengan nilai Rp843 miliar.

Lima daerah tersebut meliputi Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang. Besarnya nilai transaksi tersebut menunjukkan pembayaran digital tak lagi sebatas alternatif pembayaran. QRIS mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pertumbuhan itu juga terlihat dari jumlah merchant. Hingga Juli 2026, tercatat 641.233 merchant telah menggunakan QRIS di kawasan Sekarkijang. Jumlah tersebut tumbuh 31,9 persen secara tahunan.

Kepala Perwakilan BI Jember Iqbal Reza Nugraha mengatakan, keberhasilan digitalisasi ekonomi tidak cukup diukur dari jumlah transaksi. Dampak terhadap masyarakat dan pelaku usaha menjadi indikator yang lebih penting.

“Ukuran keberhasilan digitalisasi bukan hanya seberapa banyak transaksi yang tercatat, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Lumajang menjadi salah satu daerah yang mencatat pertumbuhan merchant cukup tinggi. Hingga Juli 2026, jumlah merchant QRIS di kabupaten tersebut mencapai 80.052, tumbuh 41,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara transaksi QRIS di Lumajang mencapai 771.358 transaksi dengan nilai Rp81,8 miliar. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin banyak pelaku usaha yang mulai mengandalkan kanal pembayaran digital dalam menjalankan aktivitas bisnisnya.

BI pun mendorong penggunaan QRIS tidak berhenti di pusat perdagangan. Ekosistem pembayaran digital diperluas ke sektor pariwisata, rumah ibadah, pendidikan hingga pasar tradisional.

Salah satu yang tengah dikembangkan adalah kesiapan QRIS Antarnegara di destinasi wisata Tumpak Sewu, Kecamatan Pronojiwo. Sejumlah ekosistem lain juga diperkuat, seperti Pasar Klakah, Lava Tour Semeru, Pura Mandara Giri Semeru Agung, masjid, hingga Gerai Cerdas PeKA Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang.

“Di balik setiap transaksi terdapat UMKM yang semakin mudah melayani konsumen, masyarakat yang semakin nyaman bertransaksi, wisatawan yang semakin mudah berbelanja, serta aktivitas ekonomi lokal yang terus bergerak,” kata Iqbal.

Perluasan ekonomi digital tersebut juga dibarengi dengan upaya membuka akses pembiayaan. Dalam rangkaian Dulur Sekarkijang x Road to FESyar SAMARA 2026, digelar business matching pembiayaan UMKM senilai Rp225 juta dari BSI KCP Lumajang kepada pelaku UMKM di Kecamatan Klakah.

Langkah tersebut menunjukkan digitalisasi tidak hanya diarahkan untuk mempermudah transaksi. Ekosistem UMKM juga didorong agar semakin mudah mengakses pembiayaan, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing.

Penguatan UMKM turut dilakukan melalui fasilitasi sertifikasi halal serta peningkatan kapasitas Juru Sembelih Halal. Upaya itu diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk lokal.

Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menegaskan, elektronifikasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Digitalisasi tidak boleh hanya memindahkan proses manual ke sistem digital, tetapi harus mampu meningkatkan efektivitas pemerintahan dan kualitas pelayanan publik.

Kemudahan tersebut, lanjut dia, harus dapat dirasakan hingga tingkat desa dan kelurahan.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansyah mendorong kawasan Sekarkijang tidak hanya mengandalkan sektor komoditas. Potensi ekonomi daerah perlu diolah menjadi nilai tambah melalui digitalisasi, ekonomi hijau, serta pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Digitalisasi” pun mulai bersinggungan dengan aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat. Selama dua hari pelaksanaan Dulur Sekarkijang x Road to FESyar SAMARA 2026, misalnya, sebanyak 25 UMKM peserta pameran membukukan transaksi penjualan Rp148,37 juta.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa aktivitas ekonomi digital dapat berjalan beriringan dengan penguatan UMKM di tingkat lokal.

Rangkaian kegiatan pada 5–6 September itu mengusung tema “Digital Berdaya, Ekonomi Syariah Berjaya”. Agenda diisi seminar nasional, edukasi QRIS bagi UMKM, QRIS Experience Zone, Sekarkijang QRIS Run 5K, serta talkshow perlindungan konsumen.

Lima kabupaten di wilayah kerja KPwBI Jember juga telah masuk kategori Digital dalam Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD). Kondisi tersebut menjadi modal untuk memperkuat integrasi ekonomi digital sekaligus mendorong transaksi yang semakin inklusif.

Dengan nilai transaksi QRIS yang telah mencapai Rp843 miliar, digitalisasi mulai menunjukkan perannya sebagai salah satu penggerak baru ekonomi Sekarkijang. Tantangannya kini bukan sekadar memperbanyak transaksi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar meningkatkan omzet, akses pasar, pembiayaan, dan daya saing pelaku usaha lokal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Bank Indonesia Jember QRIS Sekarkijang Ekonomi digital Banyuwangi Digitalisasi ekonomi Jawa Timur UMKM Banyuwangi