IHSG Melemah dan Rupiah Tertekan, Harga Emas Antam Masih di Atas Rp2,6 Juta

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:47 WIB
Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Senin (7/9). IHSG melemah setelah sempat dibuka menguat, sementara rupiah berada di kisaran Rp17.630-Rp17.660 per dolar AS dan harga emas Antam bertahan di atas Rp2,6 juta per gram. (ChatGPT)
Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada Senin (7/9). IHSG melemah setelah sempat dibuka menguat, sementara rupiah berada di kisaran Rp17.630-Rp17.660 per dolar AS dan harga emas Antam bertahan di atas Rp2,6 juta per gram. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan dengan pergerakan yang beragam. Senin (7/9), IHSG berakhir melemah setelah sempat dibuka menguat. Rupiah juga masih berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat, sementara harga emas Antam turun tipis tetapi tetap bertahan di atas Rp2,6 juta per gram.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena berlangsung di tengah kuatnya sentimen global. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih solid meningkatkan perhatian investor terhadap kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik turut memengaruhi pasar keuangan.

IHSG Berbalik Melemah Setelah Dibuka Menguat

IHSG mengawali perdagangan dengan kenaikan 0,24 persen atau 15,61 poin ke level 6.652,09. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir perdagangan.

Tekanan jual meningkat, terutama pada saham berkapitalisasi besar. Pada penutupan Sesi I, IHSG turun 0,12 persen ke level 6.628,19. Indeks kemudian mengakhiri perdagangan di sekitar level 6.615 atau melemah 0,32 persen.

Aktivitas transaksi pada Sesi I mencapai Rp8,47 triliun dengan volume 24,56 miliar saham. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 293 saham menguat, 292 melemah, dan 203 bergerak stagnan.

Koreksi terutama datang dari sektor keuangan yang turun 0,86 persen, disusul konsumer non-primer sebesar 0,58 persen dan bahan baku 0,47 persen.

Investor Asing Jual Saham Bank, Energi Justru Menguat

Arus modal asing turut menjadi faktor yang membebani IHSG. Pada Sesi I, investor asing mencatatkan net sell Rp424,06 miliar.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut terkena tekanan jual. BBCA turun 1,49 persen menjadi Rp6.600, BBRI melemah 1,47 persen ke Rp3.340, sementara BMRI turun 0,90 persen ke Rp4.380.

Namun, tidak semua sektor bergerak turun. Sektor energi justru menguat 1,61 persen. Kenaikan harga minyak mentah dunia mendorong minat terhadap saham-saham komoditas.

BUMI menjadi salah satu saham yang paling mencolok. Saham tersebut naik 6,67 persen ke Rp224 dan mencatat net buy asing Rp218,87 miliar. Nilai transaksinya mencapai Rp978,77 miliar.

Perbedaan pergerakan antarsektor ini menunjukkan adanya rotasi modal di tengah pasar yang sedang berhati-hati. Investor tidak sepenuhnya meninggalkan pasar saham, tetapi mengalihkan perhatian ke sektor yang dianggap memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga komoditas.

Rupiah Tertekan, Cadangan Devisa Justru Bertambah

Tekanan juga terlihat pada pasar valuta asing. Rupiah dibuka di kisaran Rp17.640-Rp17.646 per dolar AS dan kemudian bergerak pada rentang Rp17.630,80-Rp17.660.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang rupiah. Kondisi tersebut berkaitan dengan ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat dapat bertahan tinggi lebih lama setelah data pasar tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang masih kuat.

Kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan biaya impor energi dan menimbulkan tekanan inflasi dari luar negeri.

Di tengah tekanan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia justru mengalami peningkatan. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai USD 146,5 miliar, naik USD 1,2 miliar dibandingkan akhir Juli yang sebesar USD 145,3 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor, lebih tinggi dari standar kecukupan internasional tiga bulan. Cadangan devisa tersebut antara lain ditopang penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Harga Emas Antam Masih di Atas Rp2,6 Juta

Di pasar emas, pergerakannya relatif terbatas. Harga emas dunia berada di sekitar USD 4.427 per troy ons setelah turun tipis 0,02 persen.

Penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi faktor yang membatasi kenaikan emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih memberikan dukungan terhadap emas sebagai aset safe haven, tetapi ekspektasi suku bunga global yang tinggi membuat ruang penguatannya terbatas dalam jangka pendek.

Harga emas Antam pada hari yang sama turun Rp3.000 menjadi Rp2.637.000 per gram. Harga buyback juga turun Rp3.000 menjadi Rp2.490.000 per gram.

Meski mengalami penyesuaian harian, posisi harga emas Antam masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Harga Rp2.637.000 per gram tercatat naik 20,87 persen dibandingkan September 2025 dan 65,12 persen dibandingkan Desember 2024.

Editor : Lugas Rumpakaadi
ekonomi banyuwangi Rupiah hari ini pasar keuangan Indonesia IHSG 7 September 2026 harga emas antam