Inflasi Banyuwangi 2,69 Persen, Harga Ayam dan Cabai Rawit Jadi Biang Utama

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 00:01 WIB
Salah satu pedagang sembako di pasar Banyuwangi sedang melayani pembeli, Rabu (2/8). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)
Salah satu pedagang sembako di pasar Banyuwangi sedang melayani pembeli, Rabu (2/8). (Ksatria Raya/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Harga kebutuhan pangan kembali menjadi sumber tekanan inflasi di Banyuwangi. Pada Agustus 2026, inflasi tahunan (year on year/y-o-y) mencapai 2,69 persen, dengan daging ayam ras dan cabai rawit menjadi dua komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,65 pada Agustus 2025 menjadi 112,60 pada Agustus 2026.

Daging ayam ras memberikan andil sebesar 0,33 persen terhadap inflasi tahunan. Sementara cabai rawit menyusul dengan andil 0,21 persen.

Kenaikan harga bahkan masih terasa ketika memasuki September.

Pedagang sembako di Pasar Banyuwangi mengungkapkan harga cabai rawit kini berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram. Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan awal Agustus yang masih sekitar Rp40 ribu per kilogram.

“Sekarang (kemarin) harga cabai rawit Rp60 ribu per kg, sedangkan sebelumnya sekitar Rp40 ribu per kg,” ujar Khoirul, pedagang sembako, Rabu (2/9).

Inflasi Bulanan Capai 0,86 Persen

Kenaikan harga tidak hanya terlihat jika dibandingkan dengan Agustus tahun lalu.

Secara bulanan (month to month/m-t-m), Banyuwangi juga mengalami inflasi sebesar 0,86 persen pada Agustus 2026. Sementara inflasi sejak awal tahun (year to date/y-to-d) tercatat 1,45 persen.

Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam melalui Berita Resmi Statistik (BRS) menyampaikan ketiga indikator tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga selama Agustus.

“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 2,69 persen. Secara month to month juga terjadi inflasi sebesar 0,86 persen, sedangkan secara year to date sebesar 1,45 persen,” ujarnya.

Dari sejumlah kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.

Kelompok tersebut mengalami inflasi tahunan 3,71 persen dengan andil sebesar 1,21 persen terhadap inflasi Banyuwangi.

Ayam dan Cabai Paling Berpengaruh

Di dalam kelompok makanan, minuman dan tembakau, daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,33 persen.

Cabai rawit berada di posisi berikutnya dengan andil 0,21 persen. Kemudian minyak goreng sebesar 0,16 persen, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu 0,13 persen, serta ikan lamuru 0,09 persen.

Artinya, tekanan inflasi Banyuwangi pada Agustus masih sangat terasa dari komoditas yang dekat dengan kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Bukan hanya bahan makanan, sejumlah komoditas nonpangan juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan.

BPS mencatat emas perhiasan, laptop atau notebook, bensin, nasi dengan lauk, sepeda motor, daging sapi, telepon seluler, serta produk rokok turut menyumbang inflasi.

Ada Komoditas yang Justru Turunkan Inflasi

Meski sejumlah harga mengalami kenaikan, tidak semua komoditas bergerak ke arah yang sama.

BPS Banyuwangi mencatat beberapa komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi tahunan.

Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,24 persen. Berikutnya kelapa sebesar 0,09 persen dan telur ayam ras 0,08 persen.

Pergerakan harga komoditas yang beragam tersebut membuat inflasi Banyuwangi tetap berada pada level 2,69 persen secara tahunan.

Lebih Rendah dari 2025

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi Agustus 2026 sebenarnya lebih rendah.

Pada Agustus 2025, inflasi tahunan Banyuwangi tercatat 2,87 persen. Sedangkan pada Agustus 2024 berada di level 2,19 persen.

Pola serupa terlihat pada inflasi sejak awal tahun.

Inflasi year to date Agustus 2026 sebesar 1,45 persen, lebih rendah dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 2,17 persen. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Agustus 2024 yang berada di level 1,04 persen.

Dengan demikian, meski inflasi tahunan Banyuwangi belum setinggi tahun lalu, tekanan harga pangan tetap menjadi perhatian. Terutama cabai rawit yang memasuki September masih menunjukkan kenaikan harga cukup tajam di tingkat pedagang.

Bagi masyarakat, angka inflasi 2,69 persen pada akhirnya tercermin dari pengeluaran harian yang semakin terasa, terutama ketika harga bahan pangan utama seperti ayam dan cabai bergerak naik. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
harga cabai harga pangan bps banyuwangi harga ayam inflasi Banyuwangi