IHSG Berpeluang Tembus 6.700, Harga Emas Antam Turun

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 05:56 WIB
IHSG menguat mendekati level 6.600, sementara harga emas Antam turun pada perdagangan 2 September 2026 di tengah tekanan pasar global. (ChatGPT)
IHSG menguat mendekati level 6.600, sementara harga emas Antam turun pada perdagangan 2 September 2026 di tengah tekanan pasar global. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - IHSG menguat mendekati level 6.600, sementara harga emas Antam justru turun pada perdagangan Rabu (2/9). Di tengah rupiah yang masih berada di atas Rp17.700 per dolar AS, pasar keuangan Indonesia bergerak dalam tiga arah berbeda.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar global masih dibayangi ketidakpastian. Harga minyak mentah Brent telah menembus US$90 per barel, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke 4,79 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, hingga harga emas.

Di dalam negeri, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan. Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,96 persen. Sementara itu, aktivitas manufaktur kembali masuk zona kontraksi dengan PMI sebesar 49,8. Meski demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Juli masih mencatat surplus US$0,13 miliar.

Angka penting pasar pada 2 September 2026

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa penguatan pasar saham belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar keuangan secara keseluruhan. Investor masih menghadapi tekanan dari pasar valuta asing dan koreksi harga emas.

IHSG mendekati level 6.600

IHSG menutup perdagangan Selasa (1/9), di level 6.599,94. Indeks menguat 74,46 poin atau 1,14 persen setelah sempat menyentuh level 6.608.

Dalam lima hari perdagangan terakhir, IHSG telah menguat 1,51 persen. Namun, jika dihitung sejak awal tahun, indeks masih berada dalam posisi terkoreksi 23,67 persen.

Untuk perdagangan Rabu, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Area 6.500 menjadi support, 6.600 sebagai pivot, sedangkan 6.635 hingga 6.700 menjadi area resistance penting.

Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, indeks berpeluang melanjutkan penguatan menuju area 6.705. Namun, jika level tersebut belum berhasil dilewati, indeks diperkirakan masih bergerak dalam rentang 6.535–6.635.

“Konsolidasi dengan bias menguat” menjadi gambaran Phintraco Sekuritas terhadap pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu.

MNC Sekuritas juga melihat peluang IHSG menguji area 6.615–6.666 dengan resistance kuat di 6.705. Sementara Mirae Asset Sekuritas menilai tren kenaikan masih didukung indikator moving average dan membuka peluang pembentukan level tertinggi baru.

Penguatan saham juga mendapat katalis dari rebalancing indeks global MSCI yang efektif sejak awal September. Arus dana asing disebut masuk ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBRI, BBCA, dan BUMI.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan dampak harga minyak. Minyak Brent di atas US$90 per barel dapat menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten energi dan komoditas, tetapi sekaligus meningkatkan tekanan biaya bagi perusahaan manufaktur dan barang konsumsi.

Rupiah masih dibayangi tekanan dolar AS

Sementara IHSG bergerak menguat, rupiah masih menghadapi tekanan. Pasar spot Bloomberg mencatat rupiah melemah 22 poin atau 0,12 persen pada Selasa menjadi Rp17.744 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.722.

JISDOR Bank Indonesia justru mencatat penguatan tipis 0,11 persen menjadi Rp17.727 per dolar AS. Posisi tersebut relatif dekat dengan penutupan akhir Agustus yang berada di sekitar Rp17.715 per dolar AS.

Sejumlah proyeksi menempatkan rupiah dalam rentang yang berbeda. Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas memperkirakan kurs bergerak pada Rp17.700–Rp17.850 per dolar AS. M. Rizal Taufikurahman dari Indef memproyeksikan Rp17.680–Rp17.800, sedangkan Traze Andalan Futures memperkirakan Rp17.740–Rp17.790.

Salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah kenaikan yield US Treasury 10 tahun menjadi 4,79 persen. Imbal hasil yang lebih tinggi dapat membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik dan mendorong penyesuaian portofolio investor.

Harga minyak yang tinggi juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor migas. Di sisi lain, langkah intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan DNDF menjadi salah satu faktor yang membantu meredam volatilitas rupiah.

Harga emas Antam turun, emas dunia terkoreksi lebih dalam

Tekanan paling jelas terlihat di pasar emas. Harga emas spot internasional turun 2,72 persen menjadi US$4.328,36 per troy ounce. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember juga terkoreksi 2,36 persen menjadi US$4.375,70 per troy ounce.

Secara teknikal, emas spot telah menembus ke bawah moving average 200 hari yang berada di sekitar US$4.528 per troy ounce. Kondisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya tekanan jual teknikal.

Kenaikan yield obligasi global menjadi salah satu faktor yang menekan emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas menghadapi biaya peluang yang lebih tinggi ketika instrumen obligasi menawarkan yield yang meningkat.

Di pasar domestik, koreksinya lebih terbatas. Harga emas Antam Logam Mulia ukuran 1 gram berada di Rp2.664.000 pada 2 September 2026, turun Rp6.000 atau 0,23 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Harga buyback ditetapkan Rp2.517.000 per gram. Dengan demikian, terdapat selisih Rp147.000 antara harga jual dan harga pembelian kembali, atau sekitar 5,5 persen.

Menariknya, harga efektif per gram cenderung lebih rendah pada pecahan emas yang lebih besar. Pecahan 0,5 gram tercatat memiliki harga efektif Rp2.806.000 per gram, sedangkan pecahan 1 kilogram berada di Rp2.643.669 per gram.

Artinya, bagi masyarakat yang memang mempertimbangkan emas fisik sebagai investasi jangka panjang, denominasi merupakan salah satu faktor yang perlu diperhitungkan selain harga emas itu sendiri. Spread jual-beli juga penting karena menentukan seberapa jauh harga harus bergerak sebelum investor mencapai titik impas.

Apa artinya bagi investor?

Kondisi awal September ini menunjukkan bahwa tidak ada satu aset yang bergerak berdasarkan faktor yang sama.

Investor saham perlu memperhatikan kemampuan IHSG melewati resistance 6.635 hingga 6.700. Selama level tersebut belum terkonfirmasi, penguatan indeks tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pergerakan pasar yang dapat berubah mengikuti sentimen global.

Bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS atau menjalankan usaha yang bergantung pada barang impor, rupiah di kisaran Rp17.700–Rp17.850 per dolar AS menunjukkan pentingnya memperhitungkan risiko perubahan kurs.

Sementara bagi pemilik atau calon investor emas, penurunan harga saat ini dapat dilihat dalam konteks koreksi teknikal. Tren jangka panjang emas dalam jalur bullish, tetapi pergerakan jangka pendek tetap menghadapi tekanan dari kenaikan yield obligasi global.

Karena itu, angka harga hari ini sebaiknya tidak dipandang sebagai ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Kondisi pasar dapat berubah mengikuti data ekonomi, kebijakan bank sentral, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik.

Tiga hal yang perlu dipantau

Ada tiga perkembangan yang menjadi perhatian dalam perdagangan awal September.

Pertama, kemampuan IHSG bertahan di atas 6.600 dan menembus area 6.635. Kedua, pergerakan rupiah di tengah tingginya yield US Treasury dan harga minyak. Ketiga, apakah koreksi emas akan berlanjut setelah harga menembus MA 200 hari.

Ketiga faktor tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih bergerak di tengah tarik-menarik antara sentimen domestik dan tekanan eksternal. IHSG memang memberikan sinyal pemulihan, tetapi rupiah dan emas memperlihatkan bahwa risiko pasar belum sepenuhnya mereda.

Memahami arah ketiga indikator tersebut dapat membantu membaca kondisi pasar secara lebih utuh, tanpa bergantung pada satu angka atau satu jenis aset saja.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rupiah hari ini pasar keuangan Indonesia IHSG September 2026 Prediksi IHSG dan rupiah harga emas antam