RADAR BANYUWANGI – Kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) di Banyuwangi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Akses menuju Terminal Elpiji Bosowa di Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, masih tertutup beton hingga Selasa (1/9), membuat truk tangki kesulitan keluar-masuk dan distribusi gas melon ke SPBE ikut tersendat.
Dampaknya langsung terasa hingga lapisan paling bawah. Agen, pangkalan, pengecer, hingga pelaku usaha mikro mulai kesulitan memperoleh pasokan. Pemerintah daerah bersama Pertamina pun harus mencari jalur alternatif dengan mendatangkan delapan truk tangki elpiji dari Gresik, meski volumenya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan Banyuwangi.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sejumlah balok beton berukuran besar masih terpasang di depan gerbang Terminal Elpiji Bosowa. Pembatas tersebut menutup akses utama kendaraan menuju terminal. Kondisi diperparah deretan mobil dan sepeda motor yang terparkir di sisi luar beton sehingga ruang gerak kendaraan besar semakin terbatas.
Situasi itu membuat armada truk tangki pengangkut elpiji kesulitan melakukan aktivitas pengisian sebelum gas didistribusikan ke sejumlah Stasiun Pengisian Massal Elpiji (SPBE).
Pengecer Enam Hari Tak Dapat Kiriman
Gangguan distribusi tersebut mulai memukul masyarakat. Lilik, pengecer elpiji di Kelurahan Karangrejo, mengaku sudah enam hari tidak menerima kiriman gas melon dari pangkalan langganannya.
Padahal, dalam kondisi normal, pasokan datang setiap tiga hari sekali.
“Banyak warga yang mengantre dan mencari, tapi barangnya memang tidak ada. Ini sudah telat tiga hari dari jadwal pengiriman yang biasanya,” keluh Lilik.
Kelangkaan juga dirasakan pelaku usaha mikro. Rizki, pedagang kopi di Kelurahan Tamanbaru, bahkan harus berkeliling mencari tabung elpiji 3 kg ke sejumlah pangkalan dan subpangkalan.
Namun, pencarian itu berujung nihil. Stok gas melon di tingkat bawah kosong sehingga aktivitas jualannya ikut terganggu.
“Kosong semua di mana-mana. Akhirnya saya tidak jadi beli dan terganggu untuk berjualan,” keluh Rizki.
Delapan Tangki Didatangkan dari Gresik
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Banyuwangi Heni Sugiharti membenarkan bahwa gangguan di Terminal Elpiji Bosowa berdampak pada rantai pasokan gas di Banyuwangi.
Menurut dia, lumpuhnya aktivitas terminal membuat tangki-tangki SPBE kesulitan memperoleh pasokan. Kondisi tersebut sempat menyebabkan kekosongan elpiji yang cukup parah di sejumlah wilayah.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Banyuwangi bersama Pertamina mengambil langkah darurat dengan mengalihkan jalur pasokan dari luar daerah.
Sebanyak delapan armada truk tangki dikirim dari Gresik. Setiap tangki membawa sekitar 15 ribu kilogram elpiji.
Jika dikonversikan ke tabung ukuran 3 kg, pasokan tersebut setara sekitar 3.920 tabung gas melon.
“Delapan tangki itu nanti digunakan untuk mengisi sekitar 3.920 tabung ukuran 3 kilogram. Namun, jumlah tersebut sebenarnya masih sangat jauh dari total kebutuhan riil masyarakat di lapangan,” tandas Heni.
Pasokan Darurat Belum Cukup
Masuknya pasokan dari Gresik setidaknya menjadi upaya untuk mengurangi tekanan kelangkaan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun, jumlahnya belum cukup untuk mengembalikan distribusi ke kondisi normal.
Selama akses utama Terminal Elpiji Bosowa belum kembali terbuka, rantai pasokan berpotensi tetap terganggu. Sebab, terminal tersebut menjadi salah satu mata rantai penting sebelum elpiji didistribusikan menuju SPBE, kemudian bergerak ke agen dan pangkalan.
Dengan kebutuhan masyarakat yang jauh lebih besar dibanding pasokan darurat, pembukaan kembali akses terminal menjadi salah satu kunci untuk memulihkan distribusi gas melon di Banyuwangi. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin