Warga Banyuwangi Resah Cari Gas Melon, Polisi Buka Layanan Aduan 110

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 07:00 WIB
STOK LANGKA: Gas elpiji ukuran 3 kilogram yang dijual di sejumlah toko kelontong di Rogojampi tinggal tabungnya saja, Minggu (31/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
STOK LANGKA: Gas elpiji ukuran 3 kilogram yang dijual di sejumlah toko kelontong di Rogojampi tinggal tabungnya saja, Minggu (31/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kelangkaan elpiji 3 kilogram (kg) yang membuat warga Banyuwangi dan Situbondo resah langsung direspons Polresta Banyuwangi. Setelah berkoordinasi dengan Pertamina, polisi memastikan stok gas melon di tingkat hulu masih mencukupi. Gangguan yang terjadi di sejumlah titik diduga bukan karena kekurangan stok, melainkan tersendatnya moda transportasi dan distribusi.

Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan meminta masyarakat tidak panik. Mitigasi dilakukan setelah kepolisian menerima sejumlah laporan warga terkait sulitnya mendapatkan elpiji bersubsidi dalam beberapa hari terakhir.

“Kami mendengar informasi kelangkaan itu dari beberapa laporan yang masuk. Kami sudah mitigasi dan komunikasi dengan Pertamina. Insyaallah tidak ada masalah kelangkaan. Stoknya cukup,” tegas Rofiq, kemarin (1/9).

Bukan Stok Habis, Distribusi Tersendat

Rofiq menjelaskan, persoalan yang terjadi di lapangan sejauh ini lebih mengarah pada aspek teknis distribusi. Ketersediaan elpiji di tingkat hulu dipastikan masih aman.

“Kalau kemudian ada keterlambatan, bisa jadi itu ada di moda transportir atau proses pendistribusiannya,” ujarnya.

Rantai distribusi elpiji bersubsidi memang cukup panjang. Gas bergerak dari pusat pendistribusian menuju distributor, kemudian agen, hingga pangkalan sebagai titik yang bersentuhan langsung dengan konsumen.

Karena itu, gangguan pada satu mata rantai saja dapat memicu efek berantai. Ketika pengiriman terlambat, stok di tingkat pangkalan ikut menipis dan masyarakat akhirnya kesulitan mendapatkan gas melon meski pasokan di tingkat hulu masih tersedia.

Kondisi inilah yang diduga menjadi penyebab munculnya keluhan warga di sejumlah wilayah Banyuwangi dan Situbondo.

Polisi Belum Temukan Penimbunan

Di tengah keresahan masyarakat, Polresta Banyuwangi juga melakukan pemantauan untuk memastikan kelangkaan tersebut bukan akibat praktik melawan hukum.

Hingga kemarin, polisi belum menemukan indikasi tindak pidana berupa penimbunan maupun permainan harga yang sengaja dilakukan untuk memicu kelangkaan elpiji di pasaran.

“Insyaallah bukan karena adanya kejahatan di dunia elpiji. Kemarin yang saya lihat ada keterlambatan karena mekanisme proses transportasi,” kata Rofiq.

Meski demikian, kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap mekanisme distribusi, termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pengiriman elpiji.

“Ini juga ada permasalahan dari lembaga yang menjadi partner usaha dalam proses pendistribusian. Makanya masih kami lakukan pendalaman,” pungkasnya.

Warga Bisa Lapor Lewat 110

Untuk mengantisipasi persoalan distribusi yang berlarut, Polresta Banyuwangi juga membuka akses pengaduan melalui Call Center Polri 110.

Masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh elpiji 3 kg dapat memanfaatkan layanan tersebut untuk menyampaikan laporan maupun memperoleh informasi terkait kondisi distribusi.

Langkah itu diharapkan membantu kepolisian memetakan persoalan di lapangan secara lebih cepat. Di sisi lain, koordinasi lintas sektor dengan Pertamina terus dilakukan agar distribusi dari agen hingga pangkalan kembali normal.

Dengan stok di tingkat hulu yang disebut masih mencukupi, fokus penanganan kini bergeser pada kelancaran transportasi dan distribusi. Pemerintah, Pertamina, kepolisian, serta seluruh pihak dalam rantai pasok diharapkan segera memastikan gas melon kembali mudah diperoleh masyarakat. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Gas melon Banyuwangi Stok Gas elpiji 3 kg polresta banyuwangi distribusi elpiji