IHSG Diprediksi Sideways, Rupiah Tertekan, Emas Antam Berpeluang Rebound Hari Ini

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 06:31 WIB
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, di tengah penantian arah kebijakan moneter global. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG, rupiah, dan harga emas menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, di tengah penantian arah kebijakan moneter global. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - IHSG diperkirakan bergerak sideways pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, setelah sehari sebelumnya melonjak 1,81 persen ke level 6.521,75.

Pada saat yang sama, rupiah masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, sementara emas Antam berpeluang kembali menguat hingga mendekati Rp2,745 juta per gram.

Pergerakan tiga instrumen tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar Indonesia pada akhir pekan tidak bergerak seragam.

Pasar saham mendapatkan dukungan dari meredanya ketegangan politik domestik, sedangkan pasar valuta asing masih dibebani penguatan dolar AS dan meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan.

Di sisi lain, emas tetap mendapat perhatian sebagai aset pelindung nilai ketika ketidakpastian meningkat.

Bagi masyarakat Banyuwangi yang mengikuti perkembangan pasar atau memiliki investasi saham, valuta asing, maupun emas, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat setiap instrumen berdasarkan faktor penggeraknya masing-masing.

Proyeksi pasar untuk Jumat juga menunjukkan rentang pergerakan yang relatif terbatas, sehingga investor perlu mencermati sentimen global dan domestik sepanjang perdagangan.

IHSG Berpotensi Konsolidasi Setelah Menguat Tajam

IHSG mengakhiri perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, di posisi 6.521,75 atau naik 116,07 poin.

Penguatan 1,81 persen tersebut berlangsung di seluruh 11 sektor bursa.

Sektor industri mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 3,95 persen.

Nilai transaksi mencapai sekitar Rp6,37 triliun dengan volume perdagangan 17,47 miliar saham, sedangkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di kisaran Rp11.270 triliun.

Penguatan IHSG tidak terlepas dari membaiknya persepsi investor terhadap risiko politik domestik.

Aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI berakhir dengan kondisi damai setelah DPR menetapkan batas waktu pengesahan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026.

Kondisi tersebut direspons positif oleh investor asing yang mencatatkan pembelian bersih pada sejumlah saham unggulan.

Meski demikian, penguatan IHSG belum sepenuhnya menunjukkan peluang kenaikan berkelanjutan dalam jangka sangat pendek.

Secara teknikal, indeks telah kembali berada di atas MA5 dan MA20, sementara histogram MACD masih positif.

Namun, Stochastic RSI yang mulai menurun di sekitar area pivot mengindikasikan adanya potensi jenuh beli.

Karena itu, IHSG diperkirakan cenderung konsolidasi pada perdagangan Jumat.

Phintraco Sekuritas memperkirakan indeks berada di rentang 6.450-6.580.

Mirae Asset Sekuritas melihat pola konsolidasi positif dengan area support 6.454 dan 6.358 serta resistance 6.552 dan 6.654.

Sementara MNC Sekuritas memperkirakan area support berada di 6.290-6.394, dengan peluang menguji resistance 6.599 hingga 6.705.

Perhatian investor juga tertuju pada agenda global menjelang akhir pekan, khususnya Simposium Ekonomi Jackson Hole dan data inflasi Amerika Serikat.

Penyesuaian portofolio menjelang rebalancing indeks MSCI pada awal September juga berpotensi meningkatkan volatilitas transaksi.

Rupiah Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS

Berbeda dengan pasar saham, rupiah masih berada dalam tekanan.

Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.744 per dolar AS pada Kamis, melemah 0,11 persen.

Rupiah bahkan sempat tertekan hingga sekitar Rp17.781 per dolar AS.

Salah satu pemicunya berasal dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat.

Indeks Dolar AS atau DXY bergerak menguat ke level 99,2 ketika pelaku pasar kembali memperhitungkan arah suku bunga The Federal Reserve.

Inflasi PCE inti AS pada Juli tercatat 0,2 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan, masih di atas target jangka panjang bank sentral AS sebesar 2 persen.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri.

Permintaan valuta asing meningkat menjelang akhir bulan seiring kebutuhan korporasi untuk memenuhi kewajiban rutin, membayar utang luar negeri, dan membiayai impor energi.

Pasar juga mencermati proses uji kelayakan dan kepatutan calon tunggal Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti.

Untuk perdagangan Jumat, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.850 per dolar AS dengan kecenderungan sideways to weak.

Ruang pelemahan diperkirakan mulai terbatas karena adanya upaya stabilisasi Bank Indonesia melalui pasar spot, DNDF, dan penyerapan likuiditas rupiah lewat instrumen SRBI.

Emas Antam Punya Ruang untuk Rebound

Di tengah tekanan terhadap rupiah, emas justru masih menunjukkan daya tahan.

Harga emas batangan Antam pada Kamis turun Rp27.000 menjadi Rp2.723.000 per gram.

Harga buyback tercatat Rp2.583.000 per gram.

Meski mengalami koreksi, posisi emas Antam masih lebih tinggi dibanding awal tahun.

Secara year-to-date, harganya tercatat naik 9,44 persen dari Rp2.488.000 per gram.

Harga tersebut juga masih sekitar 14,04 persen di bawah rekor tertinggi Rp3.168.000 per gram yang dicapai pada 29 Januari 2026.

Untuk Jumat, harga emas Antam diperkirakan memiliki peluang rebound sekitar Rp15.000-Rp20.000 per gram, sehingga berpotensi kembali ke kisaran Rp2.740.000-Rp2.745.000 per gram.

Pergerakan emas domestik juga sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah.

Ketika rupiah melemah, penurunan harga emas dalam dolar AS dapat tertahan ketika dikonversikan ke mata uang domestik.

Sementara di pasar global, emas bertahan di sekitar US$4.600-US$4.603 per troy ounce dan berada dekat level tertinggi dalam tiga bulan.

Ketidakpastian fiskal Amerika Serikat, dinamika utang, pelemahan struktural dolar AS, serta permintaan terhadap aset safe haven menjadi sejumlah faktor yang mendukung harga emas.


Disclaimer: Proyeksi harga merupakan analisis berdasarkan kondisi pasar dan bukan jaminan arah pergerakan atau hasil investasi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
pasar keuangan ihsg ekonomi rupiah emas antam