Rupiah Melemah 0,11 Persen, Data PCE AS dan Ketegangan Timur Tengah Bayangi Perdagangan Kamis

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:54 WIB
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 19 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Kamis, di tengah perhatian pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. (ChatGPT)
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 19 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Kamis, di tengah perhatian pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (27/8) melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.725 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen dari Amerika Serikat, terutama setelah publikasi indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) atau Pengeluaran Konsumsi Pribadi.

Menurut Ibrahim, data tersebut menunjukkan perkembangan inflasi AS yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Indeks Harga PCE dan Indeks Harga PCE inti masing-masing meningkat 0,2 persen secara bulanan pada Juli.

“Secara bulanan, Indeks Harga PCE dan Indeks Harga PCE inti keduanya naik sebesar 0,2 persen pada bulan Juli,” ungkap Ibrahim.

Rilis PCE tersebut menyusul publikasi data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) serta Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) untuk Juli yang dinilai relatif moderat.

Pasar selanjutnya mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan di Amerika Serikat.

Selain itu, perhatian investor tertuju pada pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole yang dijadwalkan pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Sentimen dari kawasan Timur Tengah juga turut memberi warna terhadap pergerakan rupiah.

Potensi pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai dapat mengurangi gangguan pasokan yang sebelumnya muncul akibat konflik di kawasan tersebut.

Menurut informasi yang disampaikan Ibrahim, perkembangan pembicaraan terkait akses dan pendapatan di jalur perairan strategis itu menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.

“Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz,” kata Ibrahim.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar.

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat disebut belum sepenuhnya mereda.

Para pejabat Iran juga menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum persyaratan Teheran terkait kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni dipenuhi.

Dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

Pada Kamis, JISDOR berada di level Rp17.762 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.717 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih menghadapi kombinasi tekanan dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik.

Investor akan mencermati data ekonomi berikutnya serta arah kebijakan bank sentral AS untuk melihat ruang pergerakan rupiah selanjutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
nilai tukar rupiah PCE Amerika Serikat selat hormuz dolar as rupiah