Risiko Domestik Mereda, IHSG Menguat dan 578 Saham Berakhir di Zona Hijau

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:06 WIB
Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis ditutup menguat 1,81 persen ke level 6.521,75 seiring membaiknya sentimen pasar dan meredanya kekhawatiran terhadap risiko domestik. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis ditutup menguat 1,81 persen ke level 6.521,75 seiring membaiknya sentimen pasar dan meredanya kekhawatiran terhadap risiko domestik. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Kamis (27/8) dengan penguatan signifikan. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertambah 116,06 poin atau 1,81 persen hingga berada di level 6.521,75.

Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45.

Indeks tersebut naik 8,52 poin atau 1,35 persen ke posisi 641,07.

Pergerakan positif IHSG dinilai mencerminkan mulai meredanya kekhawatiran investor terhadap risiko stabilitas keamanan di dalam negeri.

Kondisi pembukaan perdagangan yang relatif kondusif turut membantu memperbaiki persepsi risiko di pasar.

“Penguatan IHSG hari ini terutama mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko domestik, setelah pembukaan perdagangan yang relatif kondusif,” ujar pengamat pasar modal Elandry Pratama.

Menurut Elandry, penguatan indeks juga ditopang aksi beli bersih terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Investor dinilai mulai melihat bahwa tekanan yang muncul pada perdagangan sebelumnya telah cukup banyak tercermin dalam harga saham.

Dari pasar regional, sentimen yang lebih positif turut memberi ruang bagi pemulihan IHSG.

Stabilnya nilai tukar rupiah menjadi faktor tambahan yang membantu menjaga sentimen pasar sepanjang perdagangan.

“Dari eksternal, sentimen regional yang lebih positif serta stabilnya pergerakan nilai tukar rupiah ikut menjaga market sentiment,” kata Elandry.

Situasi tersebut membuat investor mulai melakukan akumulasi secara selektif.

Saham-saham likuid dan kelompok blue chip yang sebelumnya mengalami koreksi menjadi salah satu sasaran pembelian.

Meski demikian, Elandry menilai investor belum sepenuhnya kembali agresif.

Pelaku pasar masih memperhatikan perkembangan situasi domestik, arah aliran dana asing, serta perubahan sentimen di pasar global sebelum mengambil posisi lebih besar.

“Jadi, penguatan hari ini lebih mencerminkan perbaikan risk appetite, tetapi tetap disertai pendekatan selektif,” ujarnya.

Secara intraday, IHSG sempat bergerak di zona berbeda. Setelah dibuka menguat, indeks bertahan di wilayah negatif hingga berakhirnya sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, IHSG kembali berada di teritori positif dan mempertahankan penguatan sampai perdagangan ditutup.

Seluruh 11 sektor dalam indeks sektoral IDX-IC mencatat kenaikan.

Sektor kesehatan menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 3,71 persen.

Setelah itu, sektor barang konsumen nonprimer naik 3,69 persen dan sektor industri bertambah 3,59 persen.

Sejumlah saham mencatat kenaikan harga terbesar, yakni GRPH, BIKE, KETR, NICK, dan CBUT.

Sementara itu, saham RGAS, GRIA, JAST, WINE, dan WGSH berada dalam daftar saham dengan penurunan harga terbesar.

Aktivitas transaksi di BEI pada Kamis tercatat cukup tinggi.

Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 2.954.000 transaksi dengan volume 35,18 miliar saham dan nilai transaksi Rp13,51 triliun.

Sebanyak 578 saham ditutup menguat, sedangkan 103 saham melemah dan 282 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Dari bursa regional Asia, pergerakan indeks berlangsung beragam.

Nikkei turun 0,14 persen ke 66.168,00. Sebaliknya, Shanghai menguat 1,13 persen ke 3.956,57 dan Kospi naik 1,53 persen ke 6.912,37.

Sementara itu, Hang Seng melemah 0,34 persen ke 25.565,74 dan Strait Times turun 0,66 persen ke 5.683,75.

Untuk jangka pendek, Elandry melihat IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan selama kondisi domestik tetap terkendali dan tidak muncul tekanan baru dari pasar global maupun pergerakan rupiah.

Namun, kenaikan indeks yang berlangsung cukup cepat juga membuka kemungkinan terjadinya aksi ambil untung.

Investor karena itu dinilai tetap perlu mempertimbangkan kondisi fundamental sebelum mengejar saham yang sudah mengalami kenaikan tinggi.

“Investor sebaiknya tidak mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi dan lebih fokus pada emiten dengan fundamental solid, likuiditas baik, serta katalis kinerja yang masih terjaga,” ujar Elandry.

Dengan kondisi tersebut, penguatan IHSG pada perdagangan Kamis lebih menunjukkan pemulihan selera risiko investor daripada perubahan sikap menjadi agresif secara menyeluruh.

Pergerakan pasar berikutnya masih akan sangat bergantung pada stabilitas kondisi domestik, arus dana asing, nilai tukar rupiah, dan perkembangan sentimen global.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Saham Indonesia ihsg bursa efek indonesia ekonomi Pasar Modal