RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (27/8).
Rupiah turun 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.775 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.725 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor pendek.
“Indeks dolar naik 0,25 persen menjadi 99,11, sementara obligasi pemerintah AS 1 dan 5 tahun naik masing-masing 5,9 basis points (bps) dan 3,3 bps menjadi 6,74 persen dan 6,89 persen sebagai antisipasi kenaikan suku bunga oleh The Fed di akhir tahun ini,” kata Rully.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan moneter AS.
Perhatian juga tertuju pada pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/6), yang dijadwalkan membahas perkembangan inflasi di AS.
Di tengah penantian terhadap arah kebijakan bank sentral AS, data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS mulai menunjukkan perlambatan dengan berada di angka 3,3 persen.
Namun, angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
Selain sentimen global, perkembangan di dalam negeri turut menjadi perhatian pasar.
Menurut Rully, pergerakan rupiah juga dipengaruhi aksi demonstrasi yang berlangsung pada hari perdagangan tersebut.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) disebut menggelar aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, dengan membawa dua tuntutan yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi.
Massa mendesak pemerintah dan DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta menerapkan hukuman mati bagi koruptor.
Sentimen domestik lainnya datang dari perhatian pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Dewan Gubernur yang baru.
Pelaku pasar melihat bagaimana bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Arah kebijakan BI masih mengusung independensi dan ditambah sinergi dengan pemerintah untuk menciptakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Rully.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara