RADAR BANYUWANGI — Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikannya di PT Intiland Development Tbk. (DILD) ketika harga saham emiten properti tersebut masih bergerak turun. Sepanjang Agustus 2026, investor kawakan itu telah berulang kali membeli saham DILD, dengan transaksi teranyar mencapai 1,35 juta lembar pada 20 Agustus 2026.
Aksi tersebut membuat kepemilikan Lo Kheng Hong di DILD semakin tebal hingga 7,48 persen. Langkah itu menarik perhatian pasar karena dilakukan ketika saham properti belum sepenuhnya lepas dari tekanan.
Bagi investor yang dikenal dengan pendekatan value investing, pembelian saat harga melemah bukan sekadar soal mengejar momentum jangka pendek. Ada kemungkinan keputusan tersebut mencerminkan pandangan terhadap nilai aset dan prospek bisnis perusahaan dalam jangka lebih panjang.
Lo Kheng Hong Kembali Masuk Saat Harga Tertekan
Lo Kheng Hong kembali memperlihatkan strategi yang selama ini membuat namanya identik dengan investasi berbasis fundamental.
Alih-alih mengurangi posisi ketika harga saham DILD bergerak turun, dia justru menambah kepemilikan.
Transaksi terbaru dilakukan pada 20 Agustus 2026 dengan pembelian 1,35 juta saham DILD. Pembelian itu menambah porsi kepemilikannya di perusahaan pengembang properti tersebut.
Dengan akumulasi pembelian sepanjang Agustus, kepemilikan Lo Kheng Hong kini mencapai 7,48 persen.
Besarnya kepemilikan tersebut membuat setiap langkah investor yang kerap dijuluki Warren Buffett Indonesia itu menjadi perhatian pelaku pasar.
Pasalnya, Lo Kheng Hong bukan investor yang dikenal gemar mengejar saham hanya karena pergerakan harga dalam jangka pendek. Portofolionya selama ini banyak dikaitkan dengan pencarian saham yang dinilai memiliki valuasi menarik dibandingkan fundamental dan aset yang dimiliki.
Mengapa DILD Menarik?
Intiland Development merupakan salah satu pemain lama di industri properti Indonesia. Perusahaan memiliki bisnis yang mencakup pengembangan kawasan, properti komersial, residensial, hingga proyek properti lainnya.
Karakter bisnis tersebut membuat DILD memiliki eksposur kuat terhadap siklus properti.
Ketika pasar properti menghadapi tekanan, saham sektor ini dapat ikut terkoreksi. Namun, kondisi tersebut sekaligus dapat menciptakan peluang bagi investor yang melihat nilai aset perusahaan dalam perspektif lebih panjang.
Di titik inilah aksi Lo Kheng Hong menjadi menarik.
Dia justru meningkatkan eksposur ketika harga saham belum menunjukkan penguatan signifikan.
Strategi semacam itu sejalan dengan prinsip value investing: membeli ketika pasar memberikan harga yang dinilai lebih rendah daripada nilai intrinsik atau prospek fundamental perusahaan.
Namun, aksi pembelian investor besar tidak otomatis menjadi rekomendasi bagi investor ritel untuk mengikuti langkah yang sama.
Fundamental perusahaan, kondisi utang, arus kas, kinerja operasional, valuasi, serta prospek sektor properti tetap perlu dianalisis secara mandiri.
Bukan Sekadar 1,35 Juta Saham
Yang membuat transaksi ini menjadi sorotan bukan hanya jumlah saham yang dibeli pada 20 Agustus.
Kuncinya terletak pada pola akumulasi.
Lo Kheng Hong terus menambah saham DILD sepanjang Agustus 2026. Dengan posisi yang kini mencapai 7,48 persen, perubahan kecil dalam kepemilikannya pun dapat menjadi indikator yang diperhatikan pasar.
Bagi investor, pola tersebut membuka pertanyaan lebih besar: apakah Lo Kheng Hong sedang melihat potensi pemulihan saham properti, atau menilai harga DILD sudah menarik berdasarkan nilai aset yang dimiliki?
Jawabannya tentu tidak bisa disimpulkan hanya dari transaksi pembelian saham.
Aksi korporasi atau perubahan kepemilikan menunjukkan keputusan investasi, tetapi tidak serta-merta mengungkap seluruh pertimbangan di balik keputusan tersebut.
Sektor Properti Menunggu Momentum
Prospek DILD juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi industri properti secara keseluruhan.
Sektor ini sangat sensitif terhadap suku bunga, daya beli masyarakat, pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah, serta kondisi pembiayaan.
Ketika biaya pembiayaan tinggi dan permintaan properti melemah, perusahaan pengembang dapat menghadapi tekanan terhadap penjualan dan arus kas. Sebaliknya, penurunan suku bunga dan membaiknya daya beli dapat menjadi katalis bagi sektor tersebut.
Karena itu, akumulasi saham DILD oleh Lo Kheng Hong dapat dibaca sebagai bagian dari tesis investasi yang lebih panjang.
Investor perlu melihat apakah katalis fundamental yang diharapkan benar-benar muncul dan mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan kinerja perusahaan.
Sinyal untuk Pasar, Bukan Jaminan Cuan
Nama besar Lo Kheng Hong membuat transaksi DILD mudah menjadi perhatian. Namun, ada perbedaan antara mengikuti aktivitas investor besar dan memahami alasan investasi di baliknya.
Kepemilikan 7,48 persen menunjukkan tingkat keyakinan yang tidak kecil. Tetapi pasar saham tetap membawa risiko.
Harga saham dapat bergerak berlawanan dengan ekspektasi, sementara pemulihan sektor properti tidak selalu berlangsung cepat.
Dengan demikian, aksi borong DILD oleh Lo Kheng Hong lebih tepat dilihat sebagai sinyal bahwa ada nilai yang sedang diperhitungkan oleh investor tersebut, bukan jaminan bahwa harga saham akan segera naik.
Untuk pasar, pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: seberapa jauh Lo Kheng Hong akan terus mengakumulasi DILD dan apakah peningkatan kepemilikan itu akan diikuti perbaikan fundamental emiten properti tersebut?
Jika akumulasi berlanjut dan kinerja perusahaan ikut membaik, pasar bisa mendapatkan jawaban atas tesis investasi yang sedang dibangun Lo Kheng Hong.
Kesimpulannya, Lo Kheng Hong memilih tetap membeli DILD saat harga saham tertekan. Dengan kepemilikan yang telah mencapai 7,48 persen, langkah tersebut menunjukkan keyakinan investor kawakan itu terhadap nilai jangka panjang emiten properti, meski hasil investasinya tetap bergantung pada fundamental dan pemulihan bisnis perusahaan. (*)
Editor : Ali Sodiqin