IHSG Anjlok 1,48 Persen, Investor Waspadai Stabilitas Keamanan dan Risiko Ekonomi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 17:27 WIB
IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 95,98 poin atau 1,48 persen ke level 6.405,69 pada perdagangan Rabu, di tengah sikap hati-hati investor terhadap risiko domestik dan perkembangan ekonomi global. (ChatGPT)
IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 95,98 poin atau 1,48 persen ke level 6.405,69 pada perdagangan Rabu, di tengah sikap hati-hati investor terhadap risiko domestik dan perkembangan ekonomi global. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (26/8).

Penurunan terjadi ketika investor bersikap hati-hati terhadap risiko stabilitas keamanan domestik serta mencermati sejumlah agenda ekonomi dan kebijakan yang dinilai dapat memengaruhi pasar.

IHSG turun 95,98 poin atau 1,48 persen ke level 6.405,69.

Penurunan serupa terjadi pada indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan.

Indeks tersebut terkoreksi 9,40 poin atau 1,46 persen menjadi 632,55.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai perhatian pelaku pasar saat ini banyak tertuju pada stabilitas keamanan nasional dan kondisi fundamental ekonomi makro.

“Perhatian pasar tertuju pada stabilitas keamanan nasional serta faktor fundamental ekonomi makro. Pelaku pasar berharap aksi demonstrasi berjalan damai, sehingga stabilitas keamanan dalam negeri terjaga,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (26/8).

Rencana demonstrasi menjadi perhatian pasar

Dari dalam negeri, investor mencermati rencana aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Salah satu tuntutan yang menjadi perhatian adalah pengesahan RUU Perampasan Aset.

Perkembangan situasi keamanan dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar.

Investor juga mempertimbangkan sejumlah perkembangan ekonomi, termasuk penilaian Fitch Ratings terhadap asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam RAPBN 2027.

Fitch menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen pada 2027 lebih realistis.

Namun, lembaga pemeringkat tersebut tetap memberikan sejumlah catatan.

Ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak, serta kemungkinan kebijakan fiskal yang kurang disiplin disebut berpotensi memengaruhi pencapaian target tersebut.

Pasar juga menunggu agenda uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur Bank Indonesia.

Pemerintah mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal untuk posisi tersebut.

“Pelaku pasar menanti pandangan nakhoda baru Gubernur BI terkait arah kebijakan moneter, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta strategi menjaga arus modal asing,” kata Nico.

Situasi Timur Tengah ikut memengaruhi sentimen

Dari pasar global, sejumlah bursa Asia bergerak menguat seiring munculnya tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan di Timur Tengah.

Perkembangan tersebut membantu meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.

Pakistan menyatakan telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman membahas rencana koridor transit sementara melalui Selat Hormuz, termasuk proyek pembersihan ranjau di jalur perairan tersebut.

Perkembangan itu turut menekan kekhawatiran terhadap harga energi dan inflasi global.

“Sehingga, penurunan harga minyak dan berkurangnya kekhawatiran atas gangguan di Selat Hormuz juga mengurangi tekanan terhadap inflasi,” ujar Nico.

Investor juga mencermati pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China yang berlangsung pada 25-28 Agustus 2026.

Agenda tersebut menjadi perhatian karena pelaku pasar menunggu kemungkinan dukungan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi China di tengah data ekonomi yang masih lemah.

Seluruh sektor saham melemah

IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, pergerakannya kemudian masuk ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama.

Pada sesi kedua, indeks tetap bertahan di teritori merah sampai perdagangan berakhir.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami penurunan.

Sektor transportasi dan logistik menjadi kelompok yang mengalami koreksi terdalam, yakni 4,04 persen.

Sektor energi menyusul dengan penurunan 2,40 persen, sedangkan sektor properti melemah 2,35 persen.

Sejumlah saham tercatat mengalami kenaikan harga terbesar, antara lain TMPO, NICE, SAFE, BIKE, dan JAST.

Sebaliknya, saham PADA, PSKT, TAMA, FUTR, dan PIA menjadi kelompok dengan penurunan harga terbesar.

Aktivitas perdagangan saham tercatat cukup tinggi dengan frekuensi mencapai sekitar 2.489.000 transaksi.

Jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 40,15 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp18,06 triliun.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 136 saham menguat, 599 saham melemah, sedangkan 228 saham tidak mengalami perubahan harga.

Bursa Asia bergerak beragam

Di kawasan Asia, sejumlah indeks utama justru ditutup menguat.

Indeks Nikkei naik 0,61 persen menjadi 66.258,00.

Shanghai menguat 0,59 persen ke 3.912,52, sedangkan Hang Seng naik 0,56 persen ke 25.652,97.

Indeks Kospi juga menguat 0,97 persen menjadi 6.808,21.

Sementara itu, Straits Times menjadi salah satu indeks yang melemah dengan penurunan 0,24 persen ke level 5.721,88.

Perbedaan arah antara IHSG dan sejumlah bursa Asia menunjukkan bahwa sentimen investor di pasar domestik pada perdagangan Rabu (26/8) lebih banyak dipengaruhi oleh faktor dalam negeri, terutama perhatian terhadap stabilitas keamanan, prospek kebijakan ekonomi, dan arah kebijakan moneter Indonesia.

Pergerakan IHSG juga penting untuk dipantau karena perubahan sentimen pasar dapat berkaitan dengan kondisi perekonomian nasional, nilai tukar, harga komoditas, serta keputusan investasi masyarakat dan pelaku usaha.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
pasar saham Indonesia ekonomi nasional investasi ihsg bursa efek indonesia