RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada penutupan perdagangan Rabu (26/8).
Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.725 per dolar AS, turun 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.723 per dolar AS.
Pergerakan tipis tersebut berlangsung ketika perhatian pelaku pasar mulai tertuju pada arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai pasar sedang mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/6).
Menurut Ibrahim, pidato tersebut berpotensi menjadi salah satu penentu sentimen pasar karena investor membutuhkan gambaran yang lebih jelas mengenai sikap The Fed terhadap inflasi dan kondisi perekonomian Amerika Serikat.
“Pidato Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi yang lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan,” ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (26/8).
Ia menjelaskan, perhatian pasar terhadap pernyataan Warsh tidak terlepas dari kebutuhan investor untuk mengetahui kapan The Fed akan mulai menyesuaikan kebijakan moneternya sebagai respons terhadap perkembangan inflasi.
Warsh sebelumnya juga menghadapi kritik terkait penilaian bahwa ia kurang memberikan kejelasan mengenai pandangan ekonominya.
Karena itu, pernyataannya dalam forum Jackson Hole dinilai dapat menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar dalam membaca kemungkinan arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Selain menunggu pidato Warsh, investor juga mengalihkan perhatian pada data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang dirilis pada hari ini.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk melihat perkembangan tekanan inflasi dan kondisi ekonomi AS.
“Laporan PCE akan memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi ekonomi AS dan tekanan inflasi,” ungkap Ibrahim.
Pergerakan rupiah juga tercermin dari kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Pada hari yang sama, JISDOR berada di level Rp17.717 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.703 per dolar AS.
Bagi pasar, kombinasi antara rilis data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed menjadi perhatian utama untuk membaca arah dolar serta menentukan sentimen terhadap mata uang regional, termasuk rupiah.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara