IHSG Diprediksi Sideways, Rupiah Melemah dan Harga Emas Terus Melonjak 26 Agustus 2026

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 06:17 WIB
Pergerakan IHSG, nilai tukar rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pelaku pasar Indonesia pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. (ChatGPT)
Pergerakan IHSG, nilai tukar rupiah, dan harga emas menjadi perhatian pelaku pasar Indonesia pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. (ChatGPT)

RADAR BANYUWANGI - Pasar keuangan Indonesia pada Rabu (26/8), menghadapi tekanan dari berbagai arah.

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas.

Di tengah kondisi tersebut, harga emas justru melanjutkan penguatan dan mencapai level tinggi.

Kondisi itu mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar setelah perdagangan domestik kembali dibuka pascalibur nasional.

Pelemahan rupiah dan meningkatnya tekanan dari defisit transaksi berjalan menjadi sejumlah faktor yang membebani pasar saham.

Sebaliknya, penguatan harga emas global memberikan sentimen positif bagi sektor komoditas dan pertambangan.

Pada perdagangan Senin (24/8), IHSG ditutup turun 0,37 persen atau 24,26 poin ke level 6.501,67.

Penurunan tersebut dikaitkan dengan aksi ambil untung investor lokal, pelemahan bursa Asia, serta depresiasi rupiah.

Untuk perdagangan 26 Agustus, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak sideways dalam rentang 6.450-6.570.

MNC Sekuritas melihat peluang penguatan terbatas dengan support terdekat 6.488 dan resistance 6.507.

Area 6.429-6.453 disebut sebagai wilayah pertahanan penting.

Apabila level 6.429 ditembus ke bawah, risiko koreksi dapat berlanjut menuju 6.373 hingga 6.272.

Pergerakan antarsektor menunjukkan terjadinya rotasi dana.

Sektor properti sebelumnya terkoreksi 1,67 persen, sedangkan sektor barang baku menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan, yakni 1,38 persen.

Penguatan harga komoditas turut membuat saham pertambangan menjadi perhatian investor.

Dalam proyeksi tersebut, sejumlah saham mendapat perhatian.

ANTM diproyeksikan memiliki area pembelian Rp3.100-Rp3.160 dengan target Rp3.300-Rp3.450.

PGAS berada pada area Rp1.520-Rp1.535 dengan target Rp1.585-Rp1.650.

PTBA diproyeksikan berada di area Rp2.440-Rp2.470 dengan target Rp2.520-Rp2.570, sedangkan TINS berada pada area Rp4.080-Rp4.130 dengan target Rp4.300-Rp4.420.

Rupiah Berpotensi Melemah

Di pasar valuta asing, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan.

Pada perdagangan internasional Selasa (25/8), rupiah berada di sekitar Rp17.723 per dolar AS.

Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia sebelum libur tercatat Rp17.703 per dolar AS.

Untuk perdagangan Rabu (26/8), rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.730-Rp17.750 per dolar AS. 

Konsensus yang lebih luas menempatkan rentang pergerakan harian pada Rp17.700-Rp17.800.

Tekanan tersebut tidak lepas dari kondisi eksternal dan domestik.

Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 12,5 miliar dolar AS, yang menjadi beban struktural bagi rupiah.

Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY bertahan di sekitar 98,99-99,02 di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta risiko geopolitik.

Harga Emas Melaju

Berbeda dari saham dan rupiah, emas menunjukkan tren yang lebih kuat.

Harga spot emas dunia berada di kisaran 4.630-4.664 dolar AS per troy ounce dan sempat mendekati 4.700 dolar AS.

Di bursa berjangka COMEX, harga emas bahkan menyentuh 4.746,09 dolar AS per troy ounce.

Harga emas masih berpeluang menguat hingga 4.900 dolar AS per troy ounce pada akhir 2026.

Kenaikan harga global turut mendorong harga emas batangan di dalam negeri.

Harga emas Antam pecahan 1 gram pada 26 Agustus disebut naik Rp24.000 menjadi Rp2.774.920 per gram.

Sementara harga buyback berada di Rp2.628.000 per gram, dengan spread Rp146.920 atau 5,29 persen.

Kondisi multiaset tersebut menunjukkan adanya pergeseran minat investor menuju instrumen yang dinilai lebih mampu menjaga nilai ketika ketidakpastian meningkat.

Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor dan kewajiban dalam valuta asing bagi sejumlah perusahaan, sementara kenaikan emas memberi dukungan kepada emiten berbasis komoditas.

Bagi investor di Banyuwangi, perkembangan tersebut dapat menjadi gambaran mengenai dinamika pasar nasional yang turut memengaruhi sentimen investasi.

Namun, proyeksi harga saham, valuta asing, dan emas tetap memiliki risiko perubahan seiring perkembangan pasar.

Angka-angka dalam laporan ini merupakan proyeksi dan bukan jaminan hasil investasi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Rupiah hari ini IHSG 26 Agustus 2026 Prediksi pasar saham ekonomi indonesia harga emas antam