KAI Kaji Konektivitas Logistik KITB, Kereta Api Disiapkan Perkuat Distribusi Barang di Pulau Jawa

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:37 WIB
KAI mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju KITB/Industropolis Batang sebagai bagian dari pengembangan ekosistem logistik terintegrasi di Pulau Jawa. (Antara)
KAI mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju KITB/Industropolis Batang sebagai bagian dari pengembangan ekosistem logistik terintegrasi di Pulau Jawa. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) atau Industropolis Batang.

Langkah tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem logistik yang lebih terintegrasi dan mendukung kelancaran distribusi barang di Pulau Jawa.

Kajian ini melibatkan sejumlah pihak, yakni KAI, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Batang, serta PT Kawasan Industri Terpadu Batang atau KITB/Industropolis Batang.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada jalur kereta api, tetapi mencakup keterhubungan kawasan industri dengan dry port, pelabuhan, pergudangan, trucking, container yard, hingga pelabuhan utama.

Integrasi berbagai moda tersebut dinilai penting untuk memastikan arus barang dapat bergerak secara efisien sejak kawasan produksi hingga tujuan distribusi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan infrastruktur logistik mempunyai posisi strategis dalam menopang arus barang dari kawasan industri menuju pasar domestik maupun internasional.

“Kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien. KAI melihat kereta api memiliki ruang besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang,” ujar Anne.

Pengalaman KAI dalam mengoperasikan angkutan barang menjadi salah satu modal dalam mengembangkan konektivitas tersebut.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, KAI melayani angkutan barang sebanyak 38.648.919 ton.

Dari total tersebut, sebanyak 31.661.769 ton merupakan batu bara.

Adapun 6.987.150 ton lainnya berasal dari komoditas nonbatu bara, antara lain peti kemas, semen, bahan bakar minyak, komoditas perkebunan, ritel, serta berbagai komoditas lainnya.

Besarnya volume tersebut menunjukkan kapasitas perkeretaapian dalam menangani distribusi barang dalam skala besar.

Pengalaman itu juga menjadi referensi untuk melihat peluang munculnya arus logistik baru seiring meningkatnya kegiatan produksi di KITB.

Pertumbuhan aktivitas industri di kawasan tersebut berpotensi menghasilkan permintaan angkutan baru apabila terhubung dengan terminal, pelabuhan, jaringan pergudangan, dan sistem distribusi yang sesuai dengan karakteristik tiap komoditas.

Tiga jalur pelabuhan menjadi perhatian

Dalam pembahasan awal, KAI dan para pemangku kepentingan mendalami sejumlah alternatif tujuan, termasuk Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, serta Pelabuhan Patimban.

Tanjung Priok menjadi salah satu alternatif penting karena dapat memperkuat akses barang dari KITB menuju jaringan perdagangan internasional.

Sementara itu, konektivitas menuju Tanjung Perak/Kalimas berpotensi mendukung distribusi dan jaringan pelayaran menuju kawasan timur Pulau Jawa.

Patimban juga menjadi pilihan yang perlu dianalisis lebih lanjut.

Penentuan rute tidak semata-mata didasarkan pada keberadaan infrastruktur, tetapi perlu disesuaikan dengan asal dan tujuan barang serta kebutuhan para tenant di KITB.

Karena itu, pemilihan moda transportasi akan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari jarak, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, waktu tempuh, proses bongkar-muat, hingga efisiensi keseluruhan rantai pasok.

Relasi dengan jarak sekitar 150 hingga 200 kilometer ke atas menjadi salah satu rentang yang akan didalami untuk melihat keekonomian dan efektivitas penggunaan kereta api.

Sementara untuk tujuan yang lebih dekat, seperti Semarang dan Tanjung Emas, pilihan moda akan dibandingkan agar distribusi barang menggunakan skema yang paling efektif.

Integrasi kereta api dan dry port

Pengembangan jaringan logistik KITB sejalan dengan konsep ekosistem Industropolis Batang yang mencakup seaport, dry port, warehouse, container yard, truck parking bay, dan fasilitas pendukung lainnya.

Seaport di kawasan tersebut telah mulai beroperasi sejak 2025.

Sementara itu, berdasarkan roadmap awal pengembangan kawasan, dry port diarahkan memasuki tahap operasional secara bertahap pada 2028.

KAI melihat integrasi dengan dry port membutuhkan kajian teknis yang lebih mendalam.

Salah satu aspek yang diperhatikan adalah kondisi elevasi antara jaringan rel eksisting dengan area yang direncanakan sebagai dry port.

Karena itu, konektivitas tidak harus selalu diwujudkan melalui satu skema.

Alternatif akses rel maupun skema intermoda lainnya dapat dikaji agar konfigurasi infrastruktur nantinya dapat menyesuaikan kebutuhan operasional dan pertumbuhan volume barang.

Pendekatan tersebut penting karena karakteristik setiap komoditas berbeda.

Barang dengan volume besar dan frekuensi pengiriman tinggi dapat memiliki kebutuhan penanganan yang berbeda dibandingkan komoditas dengan volume lebih kecil atau pola distribusi yang lebih fleksibel.

Pemetaan kebutuhan logistik akan diperkuat

Kajian berikutnya juga akan melibatkan KAI Logistik untuk memperdalam pemetaan permintaan angkutan barang.

Aspek yang dipetakan mencakup konsolidasi barang, terminal handling, first mile–last mile, hingga layanan logistik end-to-end.

Data dan hasil kajian dari KAI, Pelindo, SPJT, Perumda Aneka Usaha Batang, KITB, serta pihak terkait akan dipadukan untuk menentukan model konektivitas yang paling layak diterapkan.

Pendekatan berbasis data tersebut diharapkan dapat mencegah pembangunan konektivitas yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

Infrastruktur yang dibangun nantinya perlu memiliki dukungan permintaan yang memadai agar dapat beroperasi secara efisien dan berkelanjutan.

Bagi perkembangan kawasan industri, keterhubungan antara pusat produksi, jaringan transportasi, terminal, pergudangan, dan pelabuhan menjadi bagian penting dari daya saing logistik.

Efisiensi pada rantai distribusi juga dapat berpengaruh terhadap kemampuan industri dalam menjangkau pasar domestik maupun internasional.

Anne menegaskan bahwa integrasi berbagai simpul logistik dapat memperluas pilihan distribusi barang sekaligus memperkuat daya dukung transportasi nasional.

“Ketika kawasan industri, jaringan kereta api, dry port, dan pelabuhan terhubung dalam satu sistem, ruang distribusi barang menjadi semakin luas. KAI siap memberikan kapabilitas perkeretaapian untuk mendukung terbentuknya jaringan logistik yang lebih kuat dan kompetitif,” pungkas Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Angkutan Barang Kereta Api logistik Jawa Industropolis Batang KITB KAI