RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Senin (24/8) dengan penguatan tipis.
Rupiah naik 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.690 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.694 per dolar AS.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah meredanya harga minyak global dan menguatnya mayoritas mata uang di kawasan regional.
Kondisi itu dinilai sebagai salah satu sentimen yang membantu menopang pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut dalam rentang terbatas.
Menurut dia, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis di kisaran Rp17.650 -Rp17.700 dipengaruhi oleh global menjinaknya harga minyak dan mata uang kawasan regional yang mayoritas menguat,” kata Rully.
Salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian adalah penurunan harga minyak mentah Brent.
Harga komoditas tersebut telah merosot lebih dari 13 persen hingga berada di bawah 90 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak tersebut disebut berkaitan dengan perkiraan perlambatan ekonomi global.
Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan menghadapi tekanan karena kebijakan pengetatan moneter masih diterapkan oleh banyak bank sentral.
Situasi itu menjadi penting bagi pasar keuangan karena perubahan harga komoditas dan prospek ekonomi global dapat memengaruhi arus modal serta sentimen investor terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kondisi eksternal Indonesia melalui Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).
Pada triwulan II 2026, NPI mencatat defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.
Penyempitan defisit menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Namun, kondisi tersebut masih dinilai perlu dicermati karena pergerakan pasar keuangan Indonesia turut ditopang oleh aliran modal jangka pendek atau hot money.
Hot money merupakan dana spekulatif yang dapat berpindah dengan cepat dari satu negara ke negara lain untuk mengejar tingkat imbal hasil atau suku bunga yang dianggap lebih menarik.
Rully menilai derasnya aliran modal ke pasar keuangan domestik juga berkaitan dengan meningkatnya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, terutama pada surat utang dengan tenor panjang.
Kenaikan yield tersebut berpotensi memengaruhi minat investor terhadap aset di negara berkembang.
“Hot money sangat deras masuk ke pasar keuangan Indonesia, dipengaruhi oleh naiknya yield obligasi pemerintah AS terutama yang jangka panjang, yang berarti naiknya yield, turunnya minat pelaku pasar,” ujar Rully.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada awal perdagangan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh dinamika pasar global.
Pergerakan harga minyak, arah kebijakan bank sentral dunia, kondisi NPI, serta arus modal asing akan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat arah rupiah selanjutnya.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat, perubahan nilai tukar perlu dicermati karena pergerakan rupiah dapat berpengaruh terhadap biaya barang impor, aktivitas perdagangan, serta kondisi pasar keuangan secara lebih luas.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara