Boyongan Pedagang Pasar Banyuwangi Belum Bisa Tergesa, Pemkab Siapkan Konsep Kuliner Malam

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:04 WIB
Revitalisasi Pasar Banyuwangi tidak menghilangkan bentuk aslinya. Dinding pasar bagian luar tidak diubah karena menonjolkan kearifan lokal. Kios untuk pedagang sudah dikasih nomor, tinggal menunggu boyongan dari Gedung Wanita. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Revitalisasi Pasar Banyuwangi tidak menghilangkan bentuk aslinya. Dinding pasar bagian luar tidak diubah karena menonjolkan kearifan lokal. Kios untuk pedagang sudah dikasih nomor, tinggal menunggu boyongan dari Gedung Wanita. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI — Pedagang Pasar Banyuwangi belum bisa segera boyongan ke gedung baru meski pembangunan fisik pasar telah rampung. Pemkab Banyuwangi memilih menuntaskan sejumlah fasilitas pendukung dan menyiapkan sistem pengelolaan terlebih dahulu, sekaligus merancang Pasar Banyuwangi agar tetap hidup hingga malam lewat sentra kuliner.

Konsep tersebut disiapkan untuk mengubah wajah Pasar Banyuwangi setelah pedagang dipindahkan dari tempat relokasi di Gedung Wanita. Pemerintah daerah tidak ingin perpindahan dilakukan terburu-buru sebelum fasilitas dan tata kelola benar-benar siap.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan, sejumlah fasilitas seperti drainase dan hydrant masih perlu dilengkapi sebelum pasar digunakan sepenuhnya.

“Jangan sampai nanti menempati pasar besar Banyuwangi yang sudah bagus, akan tetapi dampaknya belum maksimal. Contohnya ada sarana yang kurang seperti drainase dan hydrant, kita lengkapi dulu baru kita laksanakan,” ungkap Mujiono.

Pemkab menargetkan penyempurnaan fasilitas dapat dilakukan dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Pasar Banyuwangi Tak Hanya Hidup Pagi hingga Sore

Rencana boyongan pedagang ternyata bukan satu-satunya agenda Pemkab Banyuwangi.

Pemerintah ingin kawasan pasar baru memiliki aktivitas hingga malam. Salah satu konsep yang tengah disiapkan adalah menjadikan area pasar sebagai sentra kuliner.

Dengan konsep tersebut, Pasar Banyuwangi diharapkan tidak hanya menjadi pusat transaksi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkembang sebagai ruang publik dan destinasi baru bagi warga maupun wisatawan.

“Karena itu sebagai destinasi baru, malam hari akan digunakan untuk tempat-tempat kuliner bersama. Ini tentu akan lebih nyaman lagi,” kata Mujiono.

Konsep tersebut sekaligus menjadi strategi untuk menjaga kawasan pasar tetap ramai setelah aktivitas perdagangan utama berakhir.

Jika berjalan sesuai rencana, masyarakat tidak hanya datang untuk berbelanja. Pada malam hari, kawasan pasar bisa menjadi lokasi untuk menikmati kuliner dan suasana pusat kota.

SOP Disiapkan, Pedagang Ditata Ulang

Namun, menghidupkan pasar hingga malam membutuhkan lebih dari sekadar menyiapkan lapak kuliner.

Pemkab Banyuwangi kini juga menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengatur berbagai aspek operasional kawasan. Mulai ketertiban, kebersihan hingga keamanan akan menjadi bagian dari sistem pengelolaan pasar.

Penataan pedagang juga akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keadilan dan kesejahteraan.

Pemerintah daerah ingin memastikan pedagang yang selama ini menempati lokasi relokasi dapat beraktivitas dengan nyaman ketika kembali ke Pasar Banyuwangi.

Karena itu, meski pembangunan fisik yang dikerjakan pemerintah pusat telah selesai, Pemkab Banyuwangi masih melakukan penyempurnaan sebelum proses boyongan dilakukan.

“Kami ingin memastikan seluruh fasilitas dan sistem pengelolaan siap sebelum boyongan pedagang dilaksanakan. Pasar baru bukan hanya ramai pada siang hari. Ketika malam tiba, kawasan tersebut diharapkan tetap hidup lewat geliat kuliner,” pungkas Mujiono.

Gedung Baru Sudah Rampung, Tinggal Penyempurnaan

Pasar Induk Banyuwangi yang telah direvitalisasi sebelumnya mendapat kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Jumat (10/7).

Dalam kunjungan tersebut, Gibran meninjau sejumlah detail pekerjaan, mulai kebersihan lantai, kerapian instalasi kabel hingga fasilitas yang nantinya digunakan pedagang dan pengunjung.

Kasatker Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Timur I Gusti Agung Ari Wibawa mengatakan, secara umum pembangunan fisik Pasar Induk Banyuwangi telah rampung.

Saat ini proyek memasuki tahap pemeliharaan sekaligus penyempurnaan beberapa bagian bangunan.

Hasil peninjauan Wapres menjadi perhatian bagi tim pelaksana agar seluruh pekerjaan benar-benar dituntaskan sebelum proses serah terima.

Pasar Punya 798 Daya Tampung Unit

Pasar Banyuwangi berdiri di atas lahan sekitar 10.600 meter persegi dengan bangunan dua lantai.

Fasilitas perdagangan di dalamnya terdiri atas 397 kios dan 356 los, termasuk 45 existing los. Secara keseluruhan, pasar tersebut memiliki daya tampung hingga 798 unit.

Dari sisi fasilitas pendukung, pasar dilengkapi ramp bagi penyandang disabilitas, tangga darurat, rumah pompa dan ground water tank (GWT), rumah gardu, kantor metrologi, serta fasilitas mechanical, electrical, dan plumbing.

Sarana penunjang lainnya meliputi bangunan parkir, tempat pembuangan sementara (TPS), pedestrian, dan taman.

Kelengkapan tersebut menjadi modal penting untuk mengembalikan aktivitas perdagangan ke pusat Pasar Banyuwangi. Namun, pemerintah masih harus memastikan seluruh sistem pendukung berjalan sebelum pedagang dipindahkan.

Jadi, boyongan pedagang ke Pasar Banyuwangi bukan sekadar menunggu gedung selesai. Pemkab ingin memastikan fasilitas, SOP, kenyamanan pedagang, hingga konsep kuliner malam siap lebih dulu. Targetnya jelas: pasar baru harus menjadi pusat perdagangan pada siang hari sekaligus ruang kuliner yang tetap hidup ketika malam tiba. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
kuliner malam boyongan pedagang pasar baru pemkab banyuwangi pasar banyuwangi