Layani 162 Ribu Pelanggan per Hari, Stasiun Manggarai Dikembangkan Jadi Kawasan TOD

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 12:11 WIB
Aktivitas pelanggan di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. KAI mengembangkan kawasan TOD Manggarai untuk memperkuat integrasi transportasi publik, konektivitas pejalan kaki, dan aktivitas perkotaan. (Antara)
Aktivitas pelanggan di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. KAI mengembangkan kawasan TOD Manggarai untuk memperkuat integrasi transportasi publik, konektivitas pejalan kaki, dan aktivitas perkotaan. (Antara)

RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus mengembangkan kawasan berorientasi transit atau Transit-Oriented Development (TOD) Manggarai, Jakarta Selatan.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk menyatukan fungsi stasiun dengan konektivitas pejalan kaki, perpindahan antarmoda, ruang publik, hunian, serta berbagai aktivitas perkotaan.

Langkah ini menjadi penting mengingat tingginya aktivitas transportasi di Stasiun Manggarai.

Saat ini, stasiun tersebut melayani sekitar 162 ribu pelanggan setiap hari dengan sekitar 700 hingga 750 perjalanan kereta api.

Tingginya mobilitas tersebut mendorong KAI untuk menata kawasan di sekitar stasiun secara lebih terintegrasi.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan Manggarai memiliki posisi strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat Jabodetabek.

Menurutnya, pengembangan kawasan tidak cukup hanya berfokus pada stasiun, tetapi juga perlu memperhatikan keterhubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

“Manggarai memiliki peran besar dalam mobilitas masyarakat Jabodetabek. Karena itu, pengembangannya perlu melihat stasiun dan kawasan di sekitarnya sebagai satu kesatuan agar perpindahan antarmoda, akses pejalan kaki, dan aktivitas masyarakat semakin terhubung,” ujar Bobby.

Data aktivitas pelanggan KRL yang melakukan gate in di Stasiun Manggarai menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan dan konektivitas kawasan.

Pada 2023, tercatat 5.142.739 pelanggan. Angka tersebut meningkat menjadi 5.575.711 pelanggan pada 2024 atau tumbuh sekitar 8,42 persen.

Pada 2025, jumlah pelanggan yang melakukan gate in tercatat 5.456.309 orang.

Sementara itu, sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlahnya telah mencapai 2.716.932 pelanggan.

Data tersebut menunjukkan bahwa Manggarai tetap menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan transportasi perkotaan.

Peran kawasan ini juga diperkuat oleh layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta.

Jumlah pelanggan layanan tersebut tercatat 1.970.531 orang pada 2023, kemudian meningkat menjadi 2.242.536 pelanggan pada 2024. Pada 2025, jumlahnya kembali naik menjadi 2.346.934 pelanggan.

Khusus di Stasiun Manggarai, tercatat 230.314 pelanggan sepanjang Januari hingga Juni 2026.

Dari sisi pengembangan kawasan, TOD Manggarai memiliki delineasi sekitar 129 hektare.

Sekitar 64 hektare di antaranya merupakan lahan milik KAI.

Pengembangan dilakukan secara bertahap dengan orientasi utama pada penguatan konektivitas berbagai moda transportasi.

Kawasan tersebut diarahkan untuk terhubung secara lebih baik dengan KRL Commuter Line, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, TransJakarta, Terminal Manggarai, serta rencana LRT Jakarta.

Integrasi ini diharapkan dapat membuat perpindahan masyarakat dari satu moda ke moda lainnya menjadi lebih mudah dan efisien.

Selain aspek transportasi, konsep TOD juga mencakup penataan ruang yang mendukung aktivitas masyarakat.

Kehadiran ruang publik, hunian, jalur pejalan kaki, dan kegiatan perkotaan di sekitar simpul transportasi diharapkan dapat membuat kawasan Manggarai tidak sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga menjadi kawasan perkotaan yang lebih terhubung.

Bobby menegaskan bahwa peningkatan mobilitas perlu diimbangi dengan kualitas kawasan yang memadai.

Pengembangan TOD Manggarai tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas transportasi, tetapi juga pada kemudahan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“KAI ingin memastikan pertumbuhan mobilitas di Manggarai diikuti dengan kualitas konektivitas kawasan yang semakin baik. Tujuannya agar masyarakat semakin mudah menggunakan transportasi publik dan menjalani aktivitas sehari-hari,” pungkas Bobby.

Bagi masyarakat, pengembangan TOD seperti Manggarai menunjukkan bahwa simpul transportasi modern tidak lagi berdiri sendiri.

Stasiun, jaringan angkutan umum, kawasan hunian, ruang publik, dan pusat aktivitas perlu dirancang sebagai bagian dari satu ekosistem perkotaan agar mobilitas menjadi lebih praktis dan terintegrasi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
TOD Manggarai integrasi antarmoda KAI stasiun manggarai transportasi publik jakarta