Tak Mau Gabah Diserbu Burung, Petani Banyuwangi Rela Rogoh Kantong untuk Pasang Jaring

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:00 WIB
KREATIF: Tanaman padi yang hampir panen dipasang jaring untuk menghindari serangan burung di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Rabu (18/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
KREATIF: Tanaman padi yang hampir panen dipasang jaring untuk menghindari serangan burung di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Rabu (18/8). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Menjelang masa panen, ancaman bagi petani bukan hanya cuaca atau serangan hama penyakit. Di sejumlah sawah di Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, burung pipit menjadi salah satu musuh yang harus dihadapi ketika bulir padi mulai menguning dan gabah semakin berisi.

Jika dibiarkan, burung-burung tersebut dapat memakan gabah dan mengurangi hasil panen. Karena itu, sejumlah petani memilih cara yang dinilai lebih praktis: memasang jaring di atas tanaman padi.

Salah satunya dilakukan Siti Khadijah, 56, petani asal Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran. Dia memilih memasang jaring daripada harus datang setiap hari ke sawah untuk menghalau burung.

“Malas nunggu, mending dikasih jaring biar aman,” katanya.

Bagi Siti, pemasangan jaring memang membutuhkan biaya tambahan. Namun, cara tersebut dianggap lebih efektif dibandingkan menjaga tanaman sepanjang hari.

Burung pipit dapat datang sewaktu-waktu. Petani yang mengandalkan penjagaan manual harus menyediakan waktu khusus untuk berada di sawah dan mengusir burung saat mulai menyerang tanaman.

Dengan jaring, risiko itu dapat ditekan.

“Memang harus sedikit keluar uang, tapi tidak beresiko,” ujarnya, Rabu (18/8).

Sekali Beli, Bisa Dipakai Berkali-kali

Petani lain, Suparman, 60, mengatakan penggunaan jaring memang membutuhkan modal di awal. Namun, jaring tersebut tidak hanya digunakan untuk satu musim panen.

Menurut dia, satu gulung jaring berukuran panjang 80 meter dan lebar 4 meter dijual sekitar Rp80 ribu.

Untuk lahan sawah seluas seperempat hektare, dibutuhkan sekitar enam gulung jaring agar tanaman padi dapat tertutup dan terlindungi dari serangan burung.

“Jaring ini bisa dipakai beberapa kali panen,” jelasnya.

Ketahanan jaring, kata dia, bergantung pada cara perawatan. Jika dirawat dengan baik, satu set jaring bahkan dapat digunakan hingga lebih dari satu tahun.

Pengeluaran tambahan tersebut dianggap sebanding dengan hasil yang ingin diamankan.

Sebab, ketika padi sudah mendekati masa panen, gabah yang hilang akibat serangan burung tentu berpotensi mengurangi hasil yang diterima petani.

Dipasang Saat Gabah Mulai Berisi

Pemasangan jaring tidak dilakukan sejak awal masa tanam. Menurut Suparman, waktu yang tepat adalah ketika bulir gabah mulai berisi atau masyarakat setempat menyebutnya mulai merujuk.

Pada fase itulah tanaman padi mulai menarik perhatian burung.

“Pemasangan saat padi umur dua bulan hingga panen,” katanya.

Selain memberikan perlindungan terhadap tanaman, penggunaan jaring juga membuat petani memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan pekerjaan lain.

Tenaga yang sebelumnya digunakan untuk menjaga sawah dapat dialihkan ke kegiatan yang lebih produktif.

“Mending seperti ini daripada tenaga digunakan untuk menjaga, bisa digunakan kegiatan lain yang menghasilkan,” pungkasnya.

Bagi petani di Gambiran, jaring padi kini bukan sekadar penghalang burung. Di tengah ancaman serangan hama menjelang panen, jaring menjadi salah satu cara untuk menjaga hasil yang telah dirawat selama berbulan-bulan agar tidak berkurang hanya dalam hitungan hari. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Jaring padi Hama burung Sawah Gambiran petani banyuwangi panen padi