Rupiah Menguat Tipis, Keputusan BI-Rate Jadi Perhatian Utama Pasar

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:05 WIB
Rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan Rabu (19/8), sementara pasar menanti hasil RDG Bank Indonesia. (Gemini AI)
Rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan Rabu (19/8), sementara pasar menanti hasil RDG Bank Indonesia. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada perdagangan Rabu (19/8).

Rupiah berada di level Rp17.860 per dolar AS, naik 2 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.862 per dolar AS.

Penguatan pada awal perdagangan tersebut belum serta-merta menunjukkan perubahan sentimen yang kuat di pasar valuta asing.

Pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada siang hari.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai rupiah berpotensi kembali tertekan sepanjang perdagangan.

 Menurut perkiraannya, nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.900 per dolar AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.850-Rp17.900 dipengaruhi oleh domestik sikap hati-hati pelaku pasar mencermati hasil RDG Bank Indonesia siang nanti,” kata Rully.

Salah satu perhatian utama pasar adalah arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Rully memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen.

Meski demikian, BI diperkirakan dapat mengambil langkah lebih aktif melalui pasar valuta asing dan obligasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Perkiraan penahanan suku bunga juga muncul dari analis lain.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman melihat kondisi inflasi yang kembali berada di bawah 3 persen serta membaiknya arus modal masuk menjadi faktor yang dapat mendukung stabilitas rupiah.

Di sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat disebut menurun seiring indikator inflasi, ketenagakerjaan, dan aktivitas sektor riil AS yang mulai memperlihatkan tanda perlambatan.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga memperkirakan BI-Rate tetap berada di level 5,75 persen.

Ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga dinilai masih tersedia, terutama karena tekanan dari faktor eksternal untuk sementara cenderung mereda.

Perkembangan geopolitik turut menjadi bagian dari perhatian investor.

Ketegangan di Timur Tengah yang relatif terkendali dalam beberapa pekan terakhir dinilai membantu mengurangi tekanan eksternal terhadap pasar keuangan.

Namun, sejumlah risiko tetap perlu dicermati.

Rully menyebut harga minyak yang masih berada pada level tinggi serta peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama untuk tenor panjang, berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,34 persen dan 4,75 persen untuk 10 tahun,” ujar Rully.

Dengan sejumlah faktor tersebut, arah rupiah pada perdagangan Rabu diperkirakan sangat bergantung pada hasil RDG Bank Indonesia serta respons investor terhadap perkembangan pasar global.

Bagi masyarakat, pergerakan kurs ini antara lain dapat berpengaruh terhadap harga barang impor, biaya perjalanan ke luar negeri, dan sejumlah produk yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
nilai tukar rupiah BI-Rate Bank Indonesia dolar as rupiah