RADAR BANYUWANGI - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Permata Institute for Economic Research (PIER) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
Bagi masyarakat, termasuk pelaku usaha dan sektor ekonomi daerah seperti Banyuwangi, keputusan BI-Rate menjadi salah satu perhatian karena berpengaruh terhadap biaya pembiayaan, pergerakan rupiah, serta kondisi investasi dan konsumsi.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan terdapat sejumlah faktor yang membuat BI dinilai memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Salah satunya adalah inflasi yang kembali berada di bawah 3 persen.
Inflasi Indonesia pada Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan atau year on year (yoy), menurun dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Faktor lain berasal dari membaiknya arus modal masuk yang turut mendukung nilai tukar rupiah. PIER juga menilai ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed secara lebih cepat mulai berkurang seiring munculnya indikasi pelemahan pada inflasi, pasar tenaga kerja, dan sektor riil Amerika Serikat.
Meski demikian, kondisi global masih mengandung risiko. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi perhatian, sementara perlambatan ekonomi dunia berpotensi memengaruhi kinerja neraca perdagangan Indonesia.
“Ke depan, kami masih melihat di sisa tahun 2026, BI akan cenderung mempertahankan BI-Rate meski kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan,” kata Faisal.
Ancaman inflasi belum sepenuhnya hilang
LPEM FEB UI juga memperkirakan BI-Rate tetap berada di level 5,75 persen. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah fenomena El Nino dan musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2026. Kondisi cuaca tersebut berpotensi memengaruhi pasokan dan harga sejumlah komoditas, sehingga perkembangan inflasi tetap perlu dipantau.
Di sisi lain, tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia dinilai sementara mereda. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah relatif lebih terkendali dalam beberapa pekan terakhir sehingga BI masih mempunyai ruang untuk mempertahankan tingkat suku bunga.
Arus modal asing kembali masuk
Kondisi pasar keuangan Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang relatif positif. LPEM FEB UI mencatat arus modal masuk sebesar 0,28 miliar dolar AS sejak akhir Juli hingga 13 Agustus 2026.
Arus tersebut terdiri atas 0,24 miliar dolar AS yang masuk ke surat berharga pemerintah dan 0,04 miliar dolar AS ke pasar modal.
Peningkatan minat investor asing ikut mendorong penurunan imbal hasil surat berharga pemerintah. Dalam dua pekan terakhir, imbal hasil surat berharga pemerintah tenor 10 tahun turun 11 basis poin menjadi 7,21 persen. Sementara itu, tenor satu tahun turun 25 basis poin menjadi 6,65 persen.
Menurut LPEM FEB UI, penurunan imbal hasil yang lebih besar pada surat utang berjangka pendek dibandingkan tenor panjang menunjukkan pelebaran kurva imbal hasil. Kondisi ini dipandang sebagai salah satu sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.
Perbaikan sentimen juga terlihat pada nilai tukar. Rupiah menguat 1,11 persen dalam dua pekan, dari Rp18.078 menjadi Rp17.876 per dolar AS. Meski demikian, kinerja rupiah sepanjang 2026 masih dinilai relatif lebih lemah dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga dan negara berkembang lainnya.
Pergantian pimpinan BI tidak memicu gejolak berkepanjangan
Faktor domestik lain yang menjadi perhatian pasar adalah pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI.
LPEM FEB UI menilai reaksi pasar sejauh ini relatif terkendali. Pergantian kepemimpinan tersebut tidak sampai memicu arus modal keluar dalam skala besar maupun tekanan berkepanjangan pada sektor keuangan. Kondisi tersebut turut didukung oleh keberlanjutan kebijakan di bawah Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti.
“Kombinasi dari kebijakan The Fed untuk menahan suku bunga acuannya dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung cukup mulus memicu terjadinya arus modal masuk ke Indonesia,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky.
BI dinilai perlu menjaga ruang kebijakan
LPEM FEB UI menilai BI belum berada dalam kondisi yang mengharuskan kenaikan suku bunga untuk menopang nilai tukar rupiah. Pandangan tersebut juga mempertimbangkan bahwa BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin dalam beberapa bulan terakhir.
Karena itu, mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dinilai dapat menjadi pilihan untuk menjaga fleksibilitas kebijakan moneter. Langkah tersebut juga diharapkan dapat mencegah tambahan tekanan terhadap sektor riil akibat meningkatnya biaya pendanaan.
Bagi daerah seperti Banyuwangi, perkembangan kebijakan moneter nasional tetap relevan untuk dicermati. Tingkat suku bunga dapat memengaruhi keputusan pembiayaan pelaku usaha, aktivitas investasi, hingga daya beli masyarakat. Pada saat yang sama, potensi perubahan harga pangan akibat kondisi cuaca juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh konsumen dan pelaku usaha daerah.
Keputusan final BI akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah kebijakan moneter Indonesia pada paruh kedua 2026. Dengan inflasi yang masih terkendali dan arus modal yang mulai membaik, ekspektasi saat ini mengarah pada stabilnya BI-Rate, meski risiko global dan tekanan inflasi domestik tetap perlu dipantau.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara