Ayam Potong Makin Mahal di Banyuwangi, Pedagang Sebut Permintaan MBG Jadi Pemicu

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Harga ayam potong di Banyuwangi melonjak hingga Rp38 ribu per kilogram. Stok menipis, permintaan MBG naik, pedagang mulai khawatir pembeli beralih. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Harga ayam potong di Banyuwangi melonjak hingga Rp38 ribu per kilogram. Stok menipis, permintaan MBG naik, pedagang mulai khawatir pembeli beralih. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Harga ayam potong di sejumlah pasar Banyuwangi kembali membuat pedagang dan pembeli mengernyitkan dahi. Dalam sebulan terakhir, harganya melonjak hingga Rp16 ribu per kilogram, dari kisaran Rp22 ribu saat libur sekolah menjadi Rp36 ribu-Rp38 ribu per kilogram.

Kenaikan paling terasa setelah aktivitas sekolah kembali normal. Di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi, stok ayam ras di tingkat pedagang disebut semakin terbatas sehingga harga terus bergerak naik.

Salah satu pedagang ayam potong, Fathurrahman, mengatakan harga di lapaknya kini mencapai Rp36 ribu per kilogram. Padahal, harga tersebut masih lebih rendah dibandingkan harga rata-rata ayam ras yang tercatat di sejumlah pasar Banyuwangi.

“Setelah masuk sekolah, harganya naik terus-menerus. Sekarang sudah Rp36 ribu per kg,” ujar Fathurrahman.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga daging ayam ras di sejumlah pasar Banyuwangi pada 18 Agustus 2026 telah mencapai Rp38 ribu per kilogram.

Harga tersebut juga masih di bawah rata-rata nasional yang pada tanggal yang sama berada di kisaran Rp40.207 per kilogram.

MBG Ikut Mengerek Permintaan Ayam

Pedagang menilai salah satu pemicu kenaikan harga adalah meningkatnya kebutuhan ayam setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan.

Kebutuhan bahan pangan untuk memenuhi konsumsi dalam program tersebut ikut meningkatkan permintaan daging ayam. Ketika permintaan naik sementara pasokan di pasar terbatas, harga pun terdorong naik.

“Kenaikan harga ayam dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG),” imbuh Fathurrahman.

Selain kebutuhan MBG, persoalan pasokan juga ikut menjadi perhatian. Sejumlah peternak ayam ras di Banyuwangi disebut lebih memilih menjual hasil ternaknya ke Bali karena harga di wilayah tersebut lebih menguntungkan.

“Banyak peternak lebih memilih menjual ayamnya ke Bali karena margin keuntungan yang didapat lebih besar. Di Bali sudah lebih dari Rp40 ribu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat pasokan yang masuk ke pasar Banyuwangi ikut terpengaruh. Pedagang akhirnya harus membeli ayam dengan harga lebih tinggi dari tingkat peternak.

Harga Naik, Pembeli Mulai Mengurangi Belanja

Kenaikan harga ayam ternyata tidak hanya dirasakan konsumen. Pedagang juga mulai terkena dampaknya karena volume penjualan menurun.

Fathurrahman mengatakan, sebelum harga melonjak, dirinya mampu menjual sekitar 1,5 kuintal hingga 2 kuintal ayam per hari.

Namun, ketika harga menembus Rp36 ribu-Rp38 ribu per kilogram, pembelian mulai berkurang.

“Karena harganya mahal, permintaan turun sekitar 25 persen,” katanya.

Penurunan permintaan juga terjadi pada pelanggan usaha kuliner. Fathurrahman selama ini memasok ayam ke sejumlah warung makan besar di Banyuwangi.

Jika harga terus naik, dia khawatir konsumen mulai beralih ke sumber protein lain yang harganya lebih terjangkau.

“Kalau terus naik, kami khawatir pembeli memilih bahan protein lainnya yang lebih murah,” terangnya.

Dua Hari Naik Rp2 Ribu per Kilogram

Pedagang ayam di Pasar Karangrejo, Mita, mengungkapkan kondisi serupa. Harga ayam di lapaknya kini telah mencapai Rp38 ribu per kilogram.

Yang membuat pedagang waswas, kenaikan tersebut berlangsung cepat. Dua hari sebelumnya, harga ayam masih berada di kisaran Rp36 ribu per kilogram.

“Dari peternak ayam sudah mahal, apalagi kalau nanti di pasar besar harganya bisa Rp40 ribu lebih,” tuturnya.

Dengan harga yang terus bergerak naik, pedagang kini menghadapi situasi serba sulit. Di satu sisi, mereka harus mengikuti harga dari peternak. Di sisi lain, daya beli konsumen tidak selalu mampu mengikuti kenaikan harga.

Jika pasokan tetap terbatas dan permintaan terus meningkat, harga ayam potong di Banyuwangi berpotensi bertahan tinggi dalam waktu dekat.

Bagi konsumen, kenaikan harga ayam menjadi sinyal bahwa pilihan sumber protein dengan harga lebih murah kemungkinan kembali dipertimbangkan, terutama jika harga ayam mendekati atau menembus Rp40 ribu per kilogram. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Harga ayam Banyuwangi MBG Banyuwangi harga ayam pasar banyuwangi ayam potong