RADAR BANYUWANGI – Kebutuhan rumah pertama di Banyuwangi belum kehilangan pasar. Di tengah daya beli yang semakin selektif, segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) justru dinilai masih memiliki potensi besar, terutama dari keluarga muda dan pekerja yang membutuhkan hunian terjangkau.
Kondisi tersebut membuat sektor perumahan Banyuwangi tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Namun, pertumbuhan ke depan tidak lagi cukup mengandalkan pembangunan rumah dalam jumlah besar. Daya beli, akses pembiayaan, lokasi, hingga kualitas hunian menjadi penentu apakah kebutuhan rumah benar-benar berubah menjadi transaksi.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Banyuwangi Rindar Suhardiansyah mengatakan, karakter pasar perumahan saat ini semakin selektif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
“Pasarnya tidak lagi sekadar mengejar pembangunan sebanyak-banyaknya, tetapi semakin ditentukan oleh daya beli, akses pembiayaan, lokasi, dan kualitas hunian,” ujarnya.
Menurut Rindar, segmen MBR masih menjadi pasar potensial karena kebutuhan rumah pertama belum berhenti. Keluarga muda dan pekerja menjadi kelompok yang tetap membutuhkan hunian dengan harga serta skema pembiayaan yang mampu dijangkau.
Salah satu katalisnya adalah dukungan pemerintah melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Secara nasional, realisasi FLPP pada 2025 mencapai 278.868 unit. Sementara target 2026 meningkat menjadi 350 ribu unit.
Tantangannya Bukan Sekadar Pasokan Rumah
Meski peluang pasar MBR masih terbuka, menyediakan rumah saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah memperluas kelompok masyarakat yang mampu mengakses pembiayaan perbankan atau bankable.
Rindar menilai, banyak kebutuhan rumah belum otomatis menjadi daya beli. Karena itu, ekosistem pembiayaan dan kebijakan perumahan perlu disiapkan agar masyarakat yang membutuhkan rumah benar-benar mampu mengakses produk pembiayaan.
“Pasar MBR ke depan bukan hanya persoalan supply, tetapi bagaimana memperbesar kelompok masyarakat yang bankable,” katanya.
Menurut dia, setidaknya ada sejumlah faktor yang harus berjalan beriringan, mulai pembiayaan terjangkau, proses perizinan yang efisien, hingga ketersediaan lahan.
Jika faktor tersebut dapat dipenuhi, kebutuhan rumah masyarakat berpeluang lebih mudah dikonversi menjadi permintaan nyata di pasar.
Pertumbuhan Hunian Diprediksi Bergeser
Dalam jangka panjang, pola pertumbuhan perumahan Banyuwangi juga diperkirakan mengalami perubahan. Rindar memprediksi dalam 10–20 tahun mendatang, pembangunan hunian akan semakin bergeser dari pusat kota menuju kawasan penyangga dan koridor ekonomi baru.
Salah satu pemicunya adalah harga tanah di kawasan pusat yang terus meningkat. Kondisi tersebut membuat pengembang perlu mencari lokasi baru yang masih memiliki ruang pengembangan sekaligus akses terhadap pusat aktivitas ekonomi.
Namun, pergeseran kawasan hunian tidak boleh hanya mengikuti ketersediaan lahan. Infrastruktur dasar harus disiapkan sejak awal agar kawasan baru tidak tumbuh tanpa dukungan fasilitas yang memadai.
Mulai jalan, air bersih, drainase, transportasi, sekolah, hingga fasilitas publik perlu menjadi bagian dari perencanaan.
“Jangan menunggu perumahan tumbuh baru infrastrukturnya mengikuti. Infrastruktur harus lebih dahulu mengarahkan pertumbuhan,” tegasnya.
Dengan pola tersebut, kawasan perumahan diharapkan tidak hanya menjadi kumpulan rumah. Lebih jauh, kawasan baru bisa berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang memiliki lingkungan layak huni dan berkelanjutan.
Desain Rumah Mulai Lebih Berkarakter
Dari sisi desain, arsitek Andit Ardianto ST melihat pengembang kini mulai meninggalkan konsep hunian yang monoton. Desain kekinian yang mengikuti perkembangan tren arsitektur mulai banyak diadopsi.
Namun, penerapan desain tetap harus menyesuaikan harga jual dan kemampuan daya beli konsumen. Artinya, inovasi arsitektur perlu berjalan seiring dengan aspek ekonomis agar rumah tetap terjangkau.
Ke depan, Andit mendorong pengembang tidak hanya memikirkan desain bangunan, tetapi juga kualitas kawasan secara keseluruhan.
Identitas lokal Banyuwangi, misalnya, dapat diangkat melalui bentuk maupun ornamen bangunan. Konsep tersebut dapat membuat kawasan perumahan memiliki karakter sekaligus tetap mengikuti kebutuhan hunian modern.
Selain desain rumah, siteplan juga harus dirancang secara jelas dan mempertimbangkan kebutuhan penghuni. Fasilitas umum seperti area bermain, tempat ibadah, ruang berkumpul, penerangan, keamanan, ruang terbuka hijau, hingga pengelolaan sampah perlu mendapat perhatian.
“Konsep landscaping, area terbuka hijau, dan taman sangat penting karena vegetasi juga memberikan kenyamanan bagi penghuni,” jelasnya.
Dengan demikian, masa depan pasar perumahan Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak rumah yang dibangun. Keterjangkauan, akses pembiayaan, lokasi strategis, infrastruktur, serta kualitas kawasan menjadi rangkaian kunci agar pertumbuhan hunian benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin