RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan sesi I, Jumat (14/8). Penguatan tersebut dinilai tidak lepas dari sentimen positif yang muncul setelah pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian sidang tahunan lembaga negara.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pernyataan Presiden Prabowo menjadi salah satu pemicu meningkatnya minat beli investor di pasar modal Indonesia. Sentimen tersebut kemudian tercermin melalui kenaikan harga sejumlah saham.
Pada perdagangan sesi I, IHSG ditutup naik 35,42 poin atau 0,56 persen ke level 6.337,19. Aktivitas transaksi tercatat sebanyak 1.031.000 kali, dengan volume perdagangan mencapai 17,04 miliar saham. Nilai transaksi menembus Rp6,47 triliun.
Menurut Elandry, pidato Presiden memberikan dorongan psikologis bagi pelaku pasar. Investor merespons pernyataan tersebut dengan meningkatkan minat beli, terutama pada saham-saham yang dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan kebijakan pemerintah.
“Statement Pak Prabowo bisa menjadi sentiment booster yang memperkuat minat beli, kemudian direspons pasar melalui kenaikan harga saham,” ujar Elandry.
Perhatian investor, lanjut dia, untuk sementara lebih banyak tertuju pada emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal tersebut dinilai berkaitan dengan posisi BUMN yang memiliki peran strategis dalam menjalankan sejumlah program pemerintah.
“Mungkin jika dikaitkan dengan pidato hari ini, minat beli memang lebih terarah ke saham-saham BUMN terlebih dahulu,” kata Elandry.
Ia menjelaskan, BUMN dipandang memiliki kapasitas sebagai eksekutor kebijakan pemerintah karena dapat bergerak relatif cepat dalam menjalankan program sekaligus menyesuaikan strategi bisnis dengan arah kebijakan negara.
Kondisi itu membuat saham BUMN berpeluang menjadi perhatian pasar ketika pemerintah menegaskan agenda pembangunan, investasi, hilirisasi, infrastruktur hingga penguatan sektor ekonomi domestik.
Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa kenaikan IHSG tidak cukup hanya mengandalkan sentimen. Penguatan yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari fundamental dan kinerja masing-masing emiten.
“Harapan penguatan lebih lanjut perlu diikuti oleh perbaikan fundamental dan kinerja emiten, tanpa mengesampingkan kondisi serta sentimen global saat ini,” ujarnya.
Pasar juga masih menghadapi risiko aksi ambil untung atau profit taking. Kenaikan yang dipicu sentimen politik dan kebijakan, menurut Elandry, memiliki kecenderungan bertahan dalam jangka pendek apabila tidak segera diikuti penguatan fundamental.
“Adanya potensi profit taking tetap membayangi, karena penguatan yang didorong sentimen seperti ini biasanya cenderung bersifat jangka pendek,” katanya.
Karena itu, pidato kenegaraan Presiden Prabowo menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian pelaku pasar. Investor tidak hanya mencermati pernyataan politik, tetapi juga arah kebijakan ekonomi yang berpotensi memengaruhi dunia usaha dan pasar keuangan.
Elandry menyebut sejumlah isu menjadi perhatian, terutama apabila pemerintah memberikan penegasan mengenai kebijakan ekonomi, fiskal, investasi, serta stimulus.
“Pidato kenegaraan Presiden Prabowo akan menjadi salah satu market-moving event yang cukup diperhatikan pelaku pasar, terutama jika ada penegasan mengenai arah kebijakan ekonomi, fiskal, investasi, dan stimulus,” tuturnya.
Presiden Prabowo sebelumnya menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026. Dalam agenda yang sama, pemerintah juga menyampaikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.
Bagi investor, pembahasan mengenai RAPBN 2027 menjadi salah satu bagian penting yang perlu dicermati. Sejumlah indikator seperti target pertumbuhan ekonomi, besaran defisit, asumsi nilai tukar rupiah, strategi pembiayaan, hingga program yang berpotensi mendorong konsumsi dan investasi dapat memengaruhi persepsi pasar.
Sementara itu, Badan Anggaran DPR RI sebelumnya menyampaikan bahwa Program Kerja Prioritas Nasional 2027 mencakup sejumlah sektor strategis. Di antaranya kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur, perumahan, ketahanan bencana, ekonomi kerakyatan dan desa, serta penurunan kemiskinan.
Rangkaian kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis bagi sejumlah sektor saham. Namun, investor tetap dituntut mencermati kualitas fundamental emiten dan perkembangan sentimen global agar penguatan IHSG tidak sekadar menjadi reli sesaat.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara