RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Jumat (14/8) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berada di level Rp17.873 per dolar AS, naik 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp17.877 per dolar AS.
Penguatan tersebut berlangsung di tengah sentimen pasar global yang mulai mendapat dorongan dari data ekonomi Amerika Serikat. Salah satu indikator yang menjadi perhatian investor adalah Producer Price Index (PPI) AS yang mencatat hasil lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan pasar.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai kondisi tersebut ikut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Secara bulanan, PPI AS tercatat 0,0 persen secara month-on-month (MoM), membaik dari minus 0,1 persen pada periode sebelumnya. Namun, angka tersebut masih berada di bawah konsensus pasar sebesar 0,2 persen.
Sementara secara tahunan, PPI AS melandai menjadi 4,7 persen secara year-on-year (yoy) dari 5,5 persen. Capaian itu juga lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi pasar sebesar 4,9 persen.
Data tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi yang bersumber dari sektor energi mulai mereda. Kondisi itu pada akhirnya turut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Federal Reserve.
Josua menyebut perubahan ekspektasi tersebut tercermin dalam pasar suku bunga. Berdasarkan FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 turun menjadi 34,8 persen.
Bagi pasar valuta asing, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah atau tidak seketat perkiraan dapat mengurangi daya tarik dolar AS dan memberi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada perkembangan global. Investor juga menunggu pidato Presiden Prabowo Subianto serta pengumuman Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Agenda tersebut dinilai penting karena kebijakan fiskal pemerintah dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian nasional, prioritas belanja negara, serta strategi pemerintah menghadapi dinamika ekonomi global. Respons investor terhadap informasi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya.
Dengan mempertimbangkan sentimen eksternal dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Peluang penguatan tetap terbuka, tetapi pergerakan mata uang Garuda juga sangat bergantung pada dinamika dolar AS dan respons pasar terhadap agenda ekonomi pemerintah.
Rupiah diproyeksikan berada dalam kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS dalam perdagangan Jumat.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara