RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026. Tekanan pasar menguat setelah pelaku pasar merespons hasil tinjauan indeks MSCI periode Agustus 2026.
IHSG ditutup turun 72,08 poin atau 1,13 persen ke level 6.301,77. Pelemahan juga terjadi pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 terkoreksi 6,68 poin atau 1,05 persen menjadi 627,16.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari perubahan komposisi sejumlah saham Indonesia dalam rebalancing MSCI. Sentimen tersebut datang bersamaan dengan perhatian investor terhadap agenda ekonomi pemerintah serta aksi ambil untung.
“Pelemahan indeks antara lain disebabkan oleh dikeluarkannya beberapa saham dari rebalancing indeks MSCI Agustus 2026, menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo mengenai RAPBN 2027, serta aksi profit taking,” ujar Ratna, dikutip Antara.
MSCI atau Morgan Stanley Capital International merupakan penyedia indeks saham global yang menjadi salah satu acuan investor dalam mengalokasikan dana di berbagai pasar. Dalam tinjauan Agustus 2026, MSCI melakukan sejumlah perubahan terhadap komposisi saham Indonesia.
Dua saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes. Salah satunya kemudian diturunkan kategorinya ke MSCI Global Small Cap Index. Selain itu, terdapat satu saham yang dipindahkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index, sementara sembilan saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut.
Perubahan itu menjadi perhatian pasar karena penyesuaian indeks global dapat memengaruhi minat dan aliran dana investor terhadap saham yang masuk maupun keluar dari suatu indeks. Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga memilih melakukan profit taking setelah pergerakan positif sebelumnya.
Pergerakan IHSG sebenarnya sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Namun, penguatan tidak bertahan lama. Indeks mulai memasuki teritori negatif hingga berlanjut pada penutupan sesi pertama.
Pada perdagangan sesi kedua, tekanan jual masih mendominasi. IHSG tetap berada di zona merah sampai perdagangan saham berakhir.
Dari sisi sektoral, hampir seluruh kelompok saham mengalami tekanan. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 11 sektor melemah. Sektor barang baku menjadi penekan terbesar setelah turun 2,93 persen.
Tekanan berikutnya datang dari sektor energi yang merosot 2,32 persen dan sektor industri yang turun 2,31 persen. Pelemahan lintas sektor tersebut turut memperlebar koreksi IHSG pada akhir perdagangan.
Di tengah dominasi saham yang terkoreksi, sejumlah emiten masih mampu mencatat penguatan. Saham EKAD, BABY, AGAR, YPAS, dan PBSA menjadi kelompok dengan kenaikan harga terbesar. Sebaliknya, DART, BIPP, TRUK, SHID, dan STAR tercatat sebagai saham dengan penurunan harga terbesar.
Aktivitas perdagangan juga berlangsung cukup ramai. Bursa mencatat sekitar 1,905 juta kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai 26,78 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp1,90 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 186 saham ditutup menguat, 474 saham melemah, sedangkan 303 saham lainnya bergerak stagnan.
Sentimen eksternal turut menjadi perhatian investor domestik. Bursa saham Asia pada perdagangan sore cenderung bervariasi dan didominasi pelemahan setelah reli pada hari sebelumnya.
Di Tiongkok, Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBoC) menyatakan komitmen untuk segera menerapkan dukungan kebijakan yang dinilai praktis dan efektif. Namun, bank sentral tersebut belum memberikan sinyal mengenai pelonggaran moneter dalam skala besar.
PBoC juga menekankan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan pengetatan moneter secara cepat setelah periode pelonggaran yang agresif dapat memicu guncangan lebih tajam di pasar.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei Jepang naik 1,24 persen ke 68.362,00. Sementara itu, indeks Shanghai turun 0,50 persen ke 3.926,96, Hang Seng melemah 0,17 persen ke 25.396,51, dan Straits Times terkoreksi tipis 0,01 persen ke 5.720,05. Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan melesat 3,56 persen ke 6.813,34.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan kembali menjadi perhatian investor, terutama setelah perubahan komposisi MSCI dan menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo yang berkaitan dengan RAPBN 2027. Pelaku pasar kini mencermati apakah tekanan jual akan berlanjut atau justru membuka ruang bagi pemulihan indeks pada sesi perdagangan berikutnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara