Pasar Masih Waspada, Rupiah Diprediksi Konsolidatif di Tengah Gejolak Timur Tengah dan Ekspektasi Kebijakan The Fed

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi rupiah dan dolar AS. Pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. (Gemini AI)
Ilustrasi rupiah dan dolar AS. Pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (13/8). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.879 per dolar AS, melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.877 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai pergerakan rupiah masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Menurut dia, perkembangan konflik yang berkaitan dengan Iran dan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi sekaligus mendorong perubahan harga komoditas energi global.

“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi memengaruhi pasokan serta harga energi,” kata Amru, dikutip Antara.

Ketegangan di kawasan tersebut turut menjadi perhatian setelah Iran menyampaikan sejumlah persyaratan kepada Amerika Serikat apabila Selat Hormuz hendak dibuka kembali.

Mengutip Anadolu, Teheran meminta AS mengakhiri ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, menghentikan secara permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutunya, serta menarik kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran.

Iran juga menuntut kompensasi atas kerugian yang timbul selama konflik, pencabutan sanksi AS, serta pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan.

Di sisi lain, Iran tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang akan membatasi kapal militer maupun kapal komersial dari negara yang dikategorikan sebagai “musuh” untuk memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.

Situasi tersebut menjadi penting bagi pasar global karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi. Setiap eskalasi yang berpotensi menghambat lalu lintas pelayaran dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan harga energi.

Selain faktor geopolitik, pasar valuta asing juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data Consumer Price Index (CPI) AS untuk Juli menunjukkan kenaikan 0,1 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.

Sementara inflasi inti, yang tidak memperhitungkan komponen pangan dan energi, tercatat meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan untuk inflasi umum maupun inti tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Juni.

Rilis data tersebut turut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve. Pasar uang kini memperkirakan peluang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September.

Berdasarkan perhitungan Fed Fund Futures, probabilitas suku bunga dipertahankan di kisaran 3,5-3,75 persen berada di sekitar 60 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan perkiraan pada pekan sebelumnya yang masih berada di atas 45 persen.

Jika suku bunga AS bertahan lebih lama, ruang penguatan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, dapat menjadi lebih terbatas karena aset berbasis dolar AS tetap relatif menarik bagi investor.

Meski demikian, Amru memperkirakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat cenderung konsolidatif. Potensi penguatan masih terbuka, meski ruangnya dinilai terbatas.

“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp17.750-Rp17.850 per dolar AS,” ujarnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Federal Reserve selat hormuz iran dolar as rupiah