IHSG Melemah 33 Poin ke 6.340, Pasar Cermati Review MSCI, Utang Pemerintah, hingga Arah Suku Bunga The Fed di Tengah Risiko Geopolitik Global

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG bergerak melemah pada awal perdagangan Kamis (13/8) setelah investor mencermati hasil review MSCI serta sejumlah sentimen ekonomi dan geopolitik global. (Gemini AI)
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. IHSG bergerak melemah pada awal perdagangan Kamis (13/8) setelah investor mencermati hasil review MSCI serta sejumlah sentimen ekonomi dan geopolitik global. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (13/8). Pergerakan bursa domestik dibayangi respons jangka pendek investor terhadap hasil tinjauan MSCI atas saham-saham Indonesia periode Agustus 2026.

IHSG yang sempat dibuka di zona penguatan berbalik melemah. Hingga pukul 09.15 WIB, indeks turun 33,46 poin atau 0,52 persen ke level 6.340,39. Pelemahan juga terjadi pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 tercatat turun 4 poin atau 0,63 persen ke posisi 629,84.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, pergerakan IHSG masih akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan sejumlah level teknikal penting.

Menurut dia, selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.308–6.269, peluang indeks menembus level 6.377 masih terbuka. Jika berhasil, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju 6.462 hingga 6.550.

"Resistance mayor berikutnya berada di sekitar 6.635/6.723," kata Liza, Kamis (13/8), dikutip Antara.

Sebaliknya, kegagalan menembus 6.377 disertai penurunan di bawah 6.308 dapat membuka ruang koreksi lanjutan. Dalam skenario tersebut, IHSG berpotensi menguji 6.269 hingga 6.247 yang menjadi area support utama.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil tinjauan indeks MSCI periode Agustus 2026. Dalam review tersebut, MSCI melakukan sejumlah perubahan terhadap komposisi saham Indonesia.

Terdapat dua saham Indonesia yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes. Salah satunya diturunkan kategorinya ke MSCI Global Small Cap Index. Selain itu, satu saham dipindahkan ke kategori MSCI Global Small Cap Index, sementara sembilan saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut.

Dengan perubahan itu, masih terdapat sembilan saham Indonesia yang berada dalam MSCI Global Standard Indexes. Sementara itu, sekitar 33 saham Indonesia tetap tercatat dalam MSCI Global Small Cap Indexes.

Meski terjadi perubahan pada sejumlah saham, MSCI belum mengubah komposisi negara Emerging Markets dalam MSCI Frontier Emerging Markets Index. Keputusan tersebut merupakan bagian dari Annual Country Review 2026.

Liza menyebut hasil review menunjukkan tidak ada perubahan terhadap daftar negara Emerging Markets yang saat ini menjadi bagian indeks. Artinya, belum terdapat perubahan komposisi negara berdasarkan hasil tinjauan tahunan tersebut.

Di sisi lain, investor juga mencermati kondisi fiskal Indonesia. Utang pemerintah tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun hingga Juni 2026. Angka tersebut setara dengan 41,26 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Posisi utang itu meningkat Rp1.819,79 triliun atau sekitar 21,5 persen dibandingkan akhir September 2024. Jika dibandingkan dengan 2020, pertumbuhan utang mencapai 67,5 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nominal yang berada di level 64,9 persen.

Rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan fiskal juga meningkat menjadi 19 persen. Sebagai pembanding, rasio tersebut berada di level 14,6 persen pada 2022.

"Meski masih di bawah batas 60 persen PDB, tren ini perlu diwaspadai untuk menjaga keberlanjutan fiskal," ujar Liza.

Dari eksternal, sentimen pasar relatif mendapat dorongan setelah data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Juli 2026 sesuai dengan ekspektasi. Inflasi headline tercatat naik 0,1 persen secara bulanan atau month to month (mtm), tetapi melambat menjadi 3,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Sementara itu, core CPI meningkat 0,2 persen secara bulanan dan turun menjadi 2,5 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve atau The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi 62 persen dari sebelumnya 54 persen. Kendati demikian, investor masih mencermati kemungkinan kenaikan inflasi pada Agustus akibat lonjakan harga minyak.

Pasar selanjutnya menunggu rilis Producer Price Index (PPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter The Fed.

Risiko geopolitik juga belum sepenuhnya mereda. Ketegangan antara AS dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Presiden AS Donald Trump menyatakan AS memiliki kendali penuh atas jalur strategis tersebut. Iran, sebaliknya, menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum AS menghentikan permusuhan dan memenuhi sejumlah tuntutan.

Gangguan keamanan di kawasan juga berpotensi menekan rantai pasokan energi. Serangan terhadap kapal komersial di sekitar Bab el-Mandeb turut meningkatkan kewaspadaan investor terhadap risiko gangguan distribusi energi global.

Sentimen eksternal tercermin dari pergerakan bursa global. Pada perdagangan Rabu (12/8), bursa saham Eropa mayoritas melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,16 persen, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,10 persen, DAX Jerman melemah 0,20 persen, sedangkan CAC 40 Prancis turun 0,50 persen.

Wall Street bergerak variatif. S&P 500 naik 0,30 persen ke level 7.749,19 dan Nasdaq Composite menguat 0,50 persen menjadi 26.588,49. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 0,30 persen ke posisi 53.770,16.

Sementara itu, bursa Asia pada awal perdagangan Kamis menunjukkan pergerakan beragam. Nikkei naik 1,62 persen ke 68.614, Shanghai menguat 0,45 persen ke 3.964,4, dan Kospi melonjak 4,08 persen ke 6.847,41.

Di sisi lain, Hang Seng turun 0,27 persen ke 25.370,81 dan Straits Times melemah 0,55 persen ke 5.689,26.

Pergerakan IHSG dengan demikian masih akan ditentukan oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Hasil review MSCI menjadi perhatian jangka pendek, sementara arah inflasi AS, kebijakan The Fed, kondisi fiskal dalam negeri, serta perkembangan geopolitik menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah pasar berikutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
pasar saham Indonesia MSCI Agustus 2026 ihsg bursa efek indonesia the fed