Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.869 per Dolar AS, Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Pengumuman MSCI

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:06 WIB
Nilai tukar rupiah melemah tipis 8 poin ke level Rp17.869 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8). (Berau Post)
Nilai tukar rupiah melemah tipis 8 poin ke level Rp17.869 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8). (Berau Post)

RADAR BANYUWANGI – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (12/8). Mata uang Garuda turun tipis 8 poin atau 0,04 persen ke level Rp17.869 per dolar AS.

Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.861 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan rupiah masih cenderung konsolidatif. Pasar mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang hingga kini belum sepenuhnya memberikan arah yang jelas.

“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam,” ujar Lukman, Rabu (12/8), dikutip Antara.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah situasi antara Iran dan Amerika Serikat. Mengutip Anadolu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Iran dan AS disebut semakin dekat dengan kesepakatan, meski kedua negara masih mempertahankan sikap keras terkait kebuntuan di Selat Hormuz.

Pemerintah Pakistan juga disebut tengah berupaya mendorong penyelesaian persoalan tersebut. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi dikabarkan akan menyampaikan sejumlah usulan baru kepada pemimpin Iran.

Upaya diplomatik itu menjadi perhatian karena ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perdagangan dan perekonomian global.

Lukman mengatakan, perkembangan dari Pakistan menunjukkan proses menuju kesepakatan damai kembali memperlihatkan tanda-tanda positif. Namun, Iran tetap menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan dipenuhi.

Di tengah situasi eksternal tersebut, pelaku pasar juga memilih menahan diri menjelang publikasi data inflasi AS. Data tersebut dinilai dapat menjadi petunjuk penting terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

“Investor cenderung wait and see menjelang rilis data inflasi AS malam ini,” kata Lukman.

Inflasi utama AS secara tahunan diperkirakan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen. Sementara inflasi inti diproyeksikan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan.

Selain sentimen global, pasar domestik juga menunggu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Keputusan MSCI menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Pengumuman MSCI tentunya masih tanda tanya, namun salah satunya adalah tidak akan ada saham baru yang dimasukkan,” ujar Lukman.

Dengan mencermati berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas. Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi hasil data inflasi AS, perkembangan situasi di Timur Tengah, serta respons investor terhadap pengumuman MSCI.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
rupiah melemah nilai tukar rupiah inflasi Amerika Serikat dolar as MSCI