IHSG Dibuka Menguat 0,16 Persen, Investor Wait and See Jelang Tinjauan MSCI dan Mencermati Arah Kebijakan Moneter

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:45 WIB
Pergerakan IHSG pada awal perdagangan Bursa Efek Indonesia. (JawaPos.com)
Pergerakan IHSG pada awal perdagangan Bursa Efek Indonesia. (JawaPos.com)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan Rabu (12/8) dengan penguatan. Pergerakan positif tersebut berlangsung di tengah sikap investor yang masih wait and see menjelang pengumuman Tinjauan Indeks MSCI periode Agustus 2026.

IHSG naik 9,88 poin atau 0,16 persen ke level 6.277,76 pada awal perdagangan. Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks tersebut bertambah 1,12 poin atau 0,18 persen menjadi 626,91.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Level 6.377 menjadi salah satu titik penting yang perlu diperhatikan investor.

Jika mampu menembus level tersebut, IHSG berpeluang membuka ruang kenaikan menuju kisaran 6.463 hingga 6.500. Sebaliknya, apabila indeks kembali melemah dan menembus 6.264, tekanan jual berpotensi membawa IHSG menguji level 6.233, kemudian 6.186 hingga 6.106.

Perhatian utama pasar domestik kini tertuju pada agenda MSCI. Pengumuman Tinjauan Indeks dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 waktu Central European Summer Time (CEST), atau Kamis (13/8) sekitar pukul 04.00 WIB.

Pelaku pasar berharap reformasi pasar modal yang dilakukan regulator dapat menjadi pertimbangan positif bagi MSCI. Salah satu harapannya adalah pencabutan status pembekuan atau freeze terhadap saham Indonesia dalam Tinjauan Indeks Agustus 2026.

Selain MSCI, investor juga mencermati perkembangan pencalonan Gubernur Bank Indonesia (BI). Destry Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Pencalonan tersebut dinilai memberikan kepastian sekaligus menjaga kesinambungan arah kebijakan moneter.

Dari sektor fiskal, penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 tercatat Rp1.209,6 triliun. Angka tersebut setara 51,31 persen dari target dalam APBN dan tumbuh 22,17 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp990,01 triliun.

Meski mencatat pertumbuhan, pemerintah masih menghadapi potensi shortfall penerimaan sebesar Rp46,9 triliun. Outlook penerimaan pajak sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp2.310,8 triliun atau sekitar 98 persen dari target.

Sementara itu, pemerintah juga terus mendorong investasi swasta di sektor energi baru terbarukan (EBT). Penguatan regulasi dan pemberian insentif dilakukan melalui sejumlah kebijakan, termasuk Perpres 112/2022 dan Permen ESDM 19/2025.

Fasilitas perpajakan, impor, dan perizinan turut disiapkan untuk mempercepat investasi. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung target pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga mencapai kapasitas 100 gigawatt.

Dari eksternal, sentimen pasar masih dibayangi ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum tuntutannya dipenuhi. Kondisi tersebut membuat lalu lintas kapal di salah satu jalur perdagangan energi penting dunia menurun tajam.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Namun, jalur diplomasi masih berlangsung melalui Oman dan Qatar yang disebut telah memasuki tahap penting.

Perhatian investor global juga tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode Juli 2026. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan The Federal Reserve setelah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September mulai terbelah.

Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi kebijakan yang lebih longgar.

Data Producer Price Index (PPI) AS juga akan dicermati sebagai indikator lanjutan untuk mengukur tekanan harga di tingkat produsen.

Ketidakpastian geopolitik turut mendorong kenaikan harga energi. Harga minyak mentah Brent menguat 1,72 persen menjadi sekitar USD 89 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,30 persen hingga berada di atas USD 83 per barel.

Harga batu bara termal juga naik tipis 0,23 persen menjadi USD 129,3 per ton. Di pasar logam, tembaga menguat 0,3 persen ke atas USD 6,6 per pound dan timah naik 0,40 persen menjadi USD 55.752 per ton.

Sebaliknya, harga emas turun 0,52 persen menjadi USD 4.368 per ons akibat aksi ambil untung. Harga nikel juga melemah 0,74 persen menjadi USD 16.820 per ton seiring ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.

Sentimen global sebelumnya juga belum sepenuhnya mendukung pasar saham. Bursa Eropa pada perdagangan Selasa (11/8) bergerak variatif. Euro Stoxx 50 naik 0,01 persen dan DAX Jerman menguat 0,30 persen. Sementara FTSE 100 Inggris turun 0,17 persen dan CAC 40 Prancis melemah 0,10 persen.

Di Wall Street, tiga indeks utama kompak ditutup di zona merah. S&P 500 turun 0,40 persen ke level 7.725,76. Nasdaq Composite melemah 0,60 persen menjadi 26.445,45, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,30 persen ke 53.791,97.

Pergerakan bursa Asia pada Rabu pagi juga berlangsung beragam. Nikkei menguat 0,13 persen ke 67.055,00, Shanghai naik 0,08 persen menjadi 3.937,4, dan Kospi melonjak 3,52 persen ke 6.568,41.

Sebaliknya, Hang Seng turun 1,15 persen menjadi 25.328,81. Straits Times Singapura menguat 0,36 persen ke level 5.733,26.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
pasar saham Indonesia Tinjauan MSCI ihsg Bank Indonesia bursa efek indonesia