IHSG Hari Ini Dibuka Naik, Level 6.299 Jadi Batas Penting di Tengah Penantian CPI AS

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:07 WIB
IHSG berpotensi melemah pada Selasa (11/8) di tengah sikap wait and see investor. (JawaPos.com)
IHSG berpotensi melemah pada Selasa (11/8) di tengah sikap wait and see investor. (JawaPos.com)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (11/8) dengan penguatan 18,44 poin atau 0,29 persen ke level 6.383,81.

Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar.

Investor masih cenderung mengambil posisi wait and see karena menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan global.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai pergerakan IHSG masih akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level teknikal tertentu.

Menurut Liza, posisi 6.377 menjadi salah satu level penting yang perlu diperhatikan.

Apabila IHSG mampu menembus sekaligus bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan masih terbuka menuju 6.463–6.500.

Jika momentum positif berlanjut, IHSG bahkan berpeluang mengarah ke level sekitar 6.723.

Sebaliknya, investor perlu mewaspadai tekanan apabila indeks turun dan bertahan di bawah 6.299.

Kondisi tersebut berpotensi membuka ruang koreksi menuju 6.264, kemudian 6.230.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian Utama

Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS periode Juli 2026 yang dijadwalkan dirilis Rabu (12/8).

Data tersebut penting karena menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan arah ekspektasi kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

Pasar memperkirakan inflasi tahunan AS pada Juli berada di level 3,4 persen.

Angka itu lebih rendah dibandingkan inflasi Juni 2026 yang mencapai 3,5 persen.

Apabila inflasi sesuai atau lebih rendah dari perkiraan, pasar berpotensi semakin memperhitungkan ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Sebaliknya, angka inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap arah suku bunga AS.

Ekspektasi tersebut menjadi semakin sensitif setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan.

Laporan tenaga kerja Juli 2026 menunjukkan penurunan 23.000 pekerjaan.

Selain itu, data payroll untuk periode Mei-Juni direvisi turun sebesar 103.000 pekerjaan.

Perkembangan tersebut membuat pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026.

Karena itu, data CPI Juli menjadi salah satu indikator penting berikutnya untuk membaca arah kebijakan bank sentral AS.

Ketegangan AS-Iran Tambah Risiko Pasar

Selain inflasi AS, investor global juga menghadapi ketidakpastian geopolitik.

Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan Washington.

Teheran juga menetapkan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk pencabutan sanksi dan penghentian blokade laut.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia.

Menurut Liza, ketidakpastian tersebut meningkatkan risiko terhadap kelancaran distribusi energi global.

Jika gangguan berlangsung lebih jauh, dampaknya berpotensi merembet ke harga komoditas dan inflasi.

Bagi pasar saham, situasi tersebut dapat membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi karena risiko eksternal menjadi lebih sulit diprediksi.

Keyakinan Konsumen Indonesia Menurun

Dari dalam negeri, sentimen pasar juga mendapat tekanan dari perkembangan keyakinan konsumen.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada bulan sebelumnya.

Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga melemah menjadi 125,7 dari 126,4.

Meski masih berada dalam zona optimistis, penurunan tersebut menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam memandang kondisi pendapatan, lapangan kerja, dan daya beli.

Perubahan alokasi pendapatan turut memberikan gambaran mengenai kondisi rumah tangga.

Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 10 persen.

Sementara itu, porsi pendapatan untuk konsumsi naik tipis menjadi 73 persen dari 72,7 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan ruang finansial masyarakat mulai lebih terbatas meskipun konsumsi masih berada pada level relatif terjaga.

Perkembangan daya beli menjadi penting bagi pasar saham karena konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen utama aktivitas ekonomi Indonesia.

Calon Gubernur BI Juga Jadi Perhatian

Investor domestik turut mencermati perkembangan kebijakan moneter Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto telah mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada DPR.

Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.

Proses penetapan pimpinan definitif bank sentral menjadi salah satu agenda yang akan diperhatikan pelaku pasar karena arah kebijakan BI berkaitan erat dengan stabilitas nilai tukar, inflasi, suku bunga, dan kondisi likuiditas perekonomian.

Bursa Global Bergerak Beragam

Dari pasar global, bursa Eropa pada perdagangan Senin (10/8) bergerak variatif.

Indeks FTSE 100 Inggris turun 0,35 persen, sedangkan DAX Jerman relatif datar di level 26.320.

Sementara itu, CAC 40 Prancis menguat 0,1 persen dan Euro Stoxx naik tipis 0,03 persen.

Wall Street juga berakhir di zona merah.

Dow Jones Industrial Average turun 0,10 persen menjadi 53.975,63.

Indeks S&P 500 terkoreksi 0,10 persen ke 7.753,46, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,30 persen ke level 26.605,63.

Perdagangan bursa Asia pada Selasa pagi juga belum menunjukkan arah seragam.

Nikkei menguat 2,08 persen ke 66.970,22, Kospi naik 0,76 persen menjadi 6.347,60, dan Strait Times bertambah 0,83 persen ke 5.746,38.

Sebaliknya, Shanghai Composite melemah 0,11 persen ke 3.962,56 dan Hang Seng turun 0,45 persen menjadi 25.818,00.

Level IHSG yang Perlu Dipantau Investor

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa masih berpotensi berlangsung fluktuatif.

Investor dapat mencermati level 6.377 sebagai area penting untuk melihat apakah penguatan indeks mampu berlanjut.

Jika bertahan di atas level tersebut, target 6.463–6.500 menjadi area berikutnya.

Sebaliknya, penurunan di bawah 6.299 perlu diwaspadai karena membuka peluang koreksi menuju 6.264 dan 6.230.

Bagi investor ritel, termasuk masyarakat yang mengikuti perkembangan pasar modal dari Banyuwangi, data inflasi AS menjadi salah satu agenda penting yang patut dicermati.

Hasil CPI dapat memengaruhi ekspektasi terhadap suku bunga The Fed dan pada akhirnya ikut menentukan arah sentimen pasar saham.

Dengan demikian, penguatan IHSG pada pembukaan perdagangan belum dapat dianggap sebagai sinyal bahwa tekanan pasar telah sepenuhnya mereda.

Respons investor terhadap data ekonomi global dan kemampuan IHSG mempertahankan level teknikal akan menjadi penentu arah perdagangan berikutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
inflasi AS ihsg bursa efek indonesia saham the fed