RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi masuk daftar empat daerah di Jawa Timur yang disiapkan menjadi lokasi pembangunan gudang baru Bulog.
Langkah tersebut dilakukan ketika Bulog Jawa Timur tengah memperkuat kapasitas penyimpanan untuk mengantisipasi tingginya penyerapan gabah dan beras serta potensi gangguan produksi akibat kemarau dan El Niño.
Selain Banyuwangi, pembangunan gudang baru juga direncanakan di Bojonegoro, Sampang, dan Jember.
Keempat fasilitas tersebut merupakan bagian dari rencana pembangunan 100 gudang Bulog secara nasional.
Di sisi lain, Bulog Jawa Timur tidak menunggu pembangunan gudang baru selesai untuk menambah kapasitas penyimpanan.
Sebanyak 269 gudang tambahan telah disewa untuk melengkapi 352 gudang milik Bulog.
Dengan total jaringan tersebut, kapasitas penyimpanan stok yang dikuasai Bulog Jawa Timur kini mendekati dua juta ton.
Kepala Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan, penambahan gudang dilakukan mengikuti kebutuhan penyimpanan setelah penyerapan gabah dan beras dari petani meningkat.
"Gudang Bulog sendiri ada 352, ditambah sekarang kita sudah sewa 269 unit gudang. Jadi kita hampir dua juta ton sanggup untuk stok yang kita kuasai," kata Langgeng saat peresmian sub-gudang Bulog di Desa Wonoanti, Kabupaten Trenggalek, dikutip Antara.
Menurut Langgeng, kapasitas penyimpanan masih dapat ditambah apabila hasil panen pada periode berikutnya kembali tinggi.
Bulog akan menyewa gudang tambahan di lokasi yang dianggap strategis sesuai volume hasil panen yang diserap.
"Kalau nanti panen yang kedua bagus, kita pasti akan menyewa lagi kalau memang dibutuhkan," ujarnya.
Jaringan Gudang Diperluas ke Selatan Jawa Timur
Penambahan kapasitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah gudang.
Persebaran lokasi penyimpanan juga menjadi bagian penting dari strategi logistik pangan Bulog.
Sub-gudang di Desa Wonoanti, Trenggalek, menjadi salah satu titik yang memperkuat jangkauan Bulog di wilayah selatan Jawa Timur.
Pengisian gudang tersebut juga melibatkan mitra penggilingan lokal sehingga hasil panen dapat diserap lebih dekat dari sentra produksi.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan pemerataan fasilitas penyimpanan diperlukan agar wilayah selatan Jawa Timur tetap terjangkau oleh jaringan cadangan pangan.
"Trenggalek ini daerah yang juga harus bisa terjangkau. Dia kabupaten yang berlokasi di selatan dan di sini ada gudang yang dikerjasamakan," kata Emil.
Menurut Emil, jaringan gudang yang tersebar akan membantu distribusi beras dari wilayah surplus menuju daerah yang membutuhkan.
Posisi Jawa Timur dinilai strategis karena cadangan beras provinsi tersebut menjadi salah satu penopang cadangan pangan nasional.
Saat ini, stok beras yang dikuasai Bulog Jawa Timur mencapai sekitar 1,3 juta ton.
Jumlah tersebut setara sekitar seperempat dari total cadangan beras nasional yang telah menembus lebih dari lima juta ton.
Penyerapan Gabah Sudah Lampaui Target
Penguatan gudang tersebut berjalan seiring dengan tingginya penyerapan hasil panen petani.
Hingga 9 Agustus 2026, Bulog Jawa Timur telah menyerap 927 ribu ton gabah dan beras.
Capaian tersebut telah melampaui target penyerapan sebesar 883 ribu ton.
Meski target telah terlampaui, penyerapan tetap dilanjutkan.
Bulog menyiapkan kapasitas penyimpanan untuk menghadapi produksi pada periode panen berikutnya.
Langgeng mengatakan capaian penyerapan didukung pemerintah daerah, TNI, dan Polri.
Ekosistem penyerapan gabah yang semakin terbentuk juga membuat petani lebih memahami mekanisme pembelian oleh Bulog.
Tingginya penyerapan sekaligus menjadi alasan kebutuhan ruang penyimpanan harus terus disesuaikan.
Skema sewa memungkinkan Bulog menambah kapasitas secara lebih fleksibel ketika volume gabah dan beras yang masuk meningkat.
"Kalau gudang yang bisa disewa pasti akan kita sewa apabila memang sudah diperlukan," kata Langgeng.
Antisipasi Kemarau dan Potensi El Niño
Penguatan cadangan pangan menjadi semakin penting karena Jawa Timur mulai memasuki musim kemarau.
Potensi El Niño juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan berpengaruh terhadap produksi pertanian.
Emil mengatakan cadangan beras yang memadai menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga kesinambungan pasokan.
Stok yang cukup juga dibutuhkan untuk membantu mengendalikan inflasi apabila produksi pangan terdampak kondisi cuaca.
Di tengah penguatan cadangan, perkembangan harga beras di tingkat konsumen juga diminta tetap dipantau.
Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya harga gabah di sejumlah wilayah yang telah mencapai lebih dari Rp8.000 per kilogram.
"Kita tentu ingin petani sejahtera, tetapi harga di tingkat konsumen juga harus dipantau agar jangan sampai terjadi inflasi yang memberatkan rumah tangga," kata Emil.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara