IHSG Menguat 0,48 Persen, Pasar Sambut Ekspektasi The Fed Tahan Suku Bunga

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:03 WIB
IHSG dibuka menguat 0,48 persen ke level 6.440,60 pada Senin (10/8). (Solo Balapan)
IHSG dibuka menguat 0,48 persen ke level 6.440,60 pada Senin (10/8). (Solo Balapan)

RADAR BANYUWANGI – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin (10/8) dengan penguatan.

Pergerakan positif pasar saham domestik ditopang optimisme investor terhadap arah kebijakan moneter global yang diperkirakan cenderung dovish.

IHSG dibuka naik 30,95 poin atau 0,48 persen ke level 6.440,60.

Penguatan juga terjadi pada kelompok saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45.

Indeks tersebut bertambah 2,16 poin atau 0,34 persen menjadi 642,45.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut sejumlah sentimen eksternal berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham Indonesia.

Di antaranya, berkurangnya peluang kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), penguatan harga emas, serta koreksi harga minyak.

"Turunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed, penguatan harga emas dan koreksi harga minyak akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Senin (10/9), dikutip Antara.

Perhatian investor global sebelumnya tertuju pada kondisi pasar tenaga kerja AS.

Data NonFarm Payrolls (NFP) menunjukkan pengurangan 23.000 lapangan kerja pada Juli 2026.

Angka tersebut berada di luar perkiraan pasar dan diperburuk oleh revisi data Juni 2026, dari sebelumnya mencatat penambahan 20.000 lapangan kerja.

Kinerja tenaga kerja yang melemah membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) ikut berubah.

Investor kini melihat ruang yang lebih besar bagi bank sentral AS untuk mempertahankan tingkat suku bunga dalam waktu dekat.

Data LSEG menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 berada di angka 43,9 persen.

Probabilitas tersebut turun dibandingkan 57 persen sebelum data NFP dirilis.

Sebaliknya, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi 60,4 persen.

Sebelumnya, probabilitas untuk mempertahankan suku bunga berada di level 43,2 persen.

Sentimen global lainnya datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Pelaku pasar mencermati proses negosiasi antara AS, Iran, dan sejumlah negara di kawasan tersebut terkait akses menuju Selat Hormuz.

Investor juga bersiap mencermati sejumlah indikator ekonomi AS yang dijadwalkan keluar dalam waktu dekat.

Beberapa di antaranya adalah data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, serta Michigan Consumer Sentiment.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada agenda rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026.

Perubahan komposisi tersebut akan berlaku efektif mulai 31 Agustus 2026.

Meski demikian, MSCI masih mempertahankan kebijakan pembekuan penambahan saham baru dari Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang tetap diperhatikan investor dalam mencermati prospek pasar domestik.

Sejumlah data ekonomi nasional juga bakal menjadi perhatian sepanjang pekan ini.

Indeks Keyakinan Konsumen dijadwalkan dirilis Senin (10/8), disusul data penjualan ritel dan penjualan sepeda motor pada Selasa (11/8).

Sementara data penjualan mobil dijadwalkan keluar Jumat (14/8).

Dari pasar global, bursa Eropa mengakhiri perdagangan Jumat (7/8) dengan penguatan.

Euro Stoxx 50 naik 0,33 persen, FTSE 100 Inggris bertambah 0,31 persen, DAX Jerman menguat 0,69 persen, sedangkan CAC Prancis naik 0,17 persen.

Kinerja positif juga terlihat di Wall Street.

Dow Jones Industrial Average menguat 0,28 persen dan ditutup di level 54.036,93.

S&P 500 naik 0,62 persen ke posisi 7.757,64, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,19 persen hingga berakhir di level 29.722,08.

Penguatan pasar saham turut berlanjut di kawasan Asia pada perdagangan Senin pagi.

Nikkei tercatat naik 2,01 persen ke 66.924,30. 

Shanghai menguat 0,41 persen menjadi 3.956,17, Hang Seng naik 0,50 persen ke 25.805,74, Kospi bertambah 0,45 persen ke 6.286,66, sedangkan Strait Times menguat 1,05 persen ke 5.698,25.

Pergerakan bursa regional tersebut menjadi tambahan sentimen bagi IHSG pada awal perdagangan pekan ini.

Investor domestik selanjutnya diperkirakan akan mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global, data ekonomi AS, serta sejumlah indikator ekonomi Indonesia untuk menentukan arah perdagangan berikutnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pasar Saham ihsg ekonomi global bursa efek indonesia the fed