RADAR BANYUWANGI - Angkutan barang retail menggunakan kereta api terus menunjukkan pertumbuhan.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan retail mencapai 146.617 ton sepanjang Januari-Juli 2026.
Angka tersebut meningkat 3,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 141.541 ton.
Jika dibandingkan dengan Januari-Juli 2024, pertumbuhannya bahkan mencapai 19,59 persen dari sebelumnya 122.598 ton.
Dengan demikian, dalam kurun dua tahun terdapat tambahan sekitar 24 ribu ton barang retail yang diangkut melalui jaringan kereta api.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan terhadap layanan distribusi antarkota yang memiliki kapasitas besar, jadwal perjalanan teratur, serta dapat terhubung dengan moda transportasi lainnya.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, peningkatan volume angkutan retail tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya jumlah barang yang dikirim menggunakan kereta api.
Di balik aktivitas tersebut terdapat pergerakan ekonomi yang melibatkan pelaku usaha, UMKM, perdagangan antarkota hingga kebutuhan rumah tangga.
Menurut dia, distribusi barang merupakan bagian penting dari keberlangsungan sebuah usaha.
Produk harus sampai kepada pembeli, sementara bahan baku maupun kebutuhan operasional harus tersedia sesuai kebutuhan.
“Bagi sebuah usaha, pengiriman barang adalah bagian dari keberlangsungan bisnis,” ujar Anne, dikutip Antara.
Karena itu, KAI menempatkan angkutan retail sebagai salah satu bagian dari ekosistem logistik yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Dalam rantai logistik, kereta api tidak selalu membawa barang dari titik awal hingga langsung ke tangan penerima.
Layanan tersebut umumnya mengambil peran pada perjalanan utama antarkota atau middle-mile.
Barang terlebih dahulu dikonsolidasikan oleh perusahaan logistik.
Selanjutnya, pengiriman dilakukan menggunakan kereta api pada lintasan utama sebelum diteruskan melalui jaringan distribusi menuju penerima.
KAI menjalankan segmen tersebut melalui skema Business to Business (B2B) bersama mitra logistik.
Artinya, masyarakat dan pelaku usaha dapat memanfaatkan jaringan kereta api melalui perusahaan ekspedisi serta penyedia layanan logistik yang menjadi mitra.
Skema ini membuat kereta api dan kendaraan angkutan jalan memiliki fungsi yang saling melengkapi.
Kendaraan jalan dapat mengambil barang dari titik awal sekaligus mengantarkannya pada tahap akhir.
Sementara kereta api menangani perjalanan antarkota yang membutuhkan kapasitas besar dan kepastian jadwal.
Pola tersebut menjadi penting karena efisiensi logistik tidak hanya ditentukan oleh satu moda transportasi.
Kelancaran distribusi bergantung pada bagaimana seluruh mata rantai pengiriman dapat bekerja secara terintegrasi.
Anne mengatakan, masyarakat perlu memahami bahwa barang yang diterima di rumah atau produk yang tersedia di toko melewati perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai kepada konsumen.
“Semakin baik setiap bagian dari rantai tersebut bekerja, semakin besar peluang distribusi menjadi lebih efisien dan usaha dapat berjalan lebih sehat,” katanya.
Pertumbuhan angkutan barang melalui kereta api juga berkaitan dengan kebutuhan Indonesia untuk menekan biaya logistik.
Data yang menjadi rujukan pemerintah mencatat biaya logistik Indonesia masih mencapai 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 12,5 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
Target tersebut menunjukkan bahwa efisiensi logistik menjadi pekerjaan jangka panjang.
Infrastruktur, moda transportasi, perusahaan logistik dan pelaku usaha perlu terhubung dalam satu sistem distribusi yang lebih efisien.
Dalam kondisi tersebut, kereta api memiliki ruang untuk mengambil peran lebih besar, terutama dalam pengiriman barang dengan volume besar pada rute antarkota.
Namun, KAI menilai tidak seluruh jenis barang harus menggunakan kereta api.
Pemilihan moda tetap perlu mempertimbangkan volume, jarak, karakteristik barang, kebutuhan pelanggan dan koneksi dengan moda lainnya.
“Tidak semua barang harus dibawa dengan kereta api dan tidak semua kebutuhan dapat dijawab oleh satu moda,” kata Anne.
Menurut dia, yang dibutuhkan adalah sistem logistik yang mampu menempatkan setiap moda sesuai fungsi yang paling efisien.
Kereta api dapat memperkuat perjalanan utama, sementara moda lainnya meneruskan distribusi menuju titik pelanggan.
Kebutuhan memperkuat sistem logistik juga semakin relevan ketika rantai pasok global menghadapi berbagai tekanan.
Perubahan pola perdagangan, ketidakpastian geopolitik dan tuntutan terhadap distribusi yang lebih berkelanjutan membuat dunia usaha membutuhkan sistem logistik domestik yang mampu menjaga kontinuitas pasokan.
Dalam kondisi tersebut, distribusi berbasis rel dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat perjalanan barang antarkota.
Penggunaan kereta api untuk angkutan barang juga berkembang di berbagai negara sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi transportasi dan memperkuat ketahanan rantai pasok.
Bagi Indonesia, penguatan jaringan logistik domestik menjadi penting karena daya saing produk tidak hanya ditentukan oleh proses produksi.
Biaya dan kepastian distribusi hingga produk mencapai pasar turut menentukan kemampuan sebuah usaha bersaing.
“Daya saing sebuah produk juga ditentukan oleh bagaimana produk itu sampai ke pasar,” ujar Anne.
Karena itu, pengembangan angkutan barang melalui kereta api perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan pasar.
Volume, jarak tempuh, jenis barang dan konektivitas dengan moda lain menjadi pertimbangan agar penggunaan kereta api benar-benar memberikan manfaat ekonomi.
Bagi daerah yang memiliki aktivitas perdagangan dan produksi komoditas, keberadaan jaringan transportasi yang terhubung dengan sistem logistik antarkota menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran distribusi.
KAI menyatakan akan melanjutkan kerja sama dengan perusahaan logistik, pelaku usaha, kawasan industri dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan layanan angkutan retail.
Penguatan konsolidasi barang, integrasi distribusi, kepastian jadwal dan pemanfaatan kapasitas kereta api akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan pasar.
Pertumbuhan volume dari 122.598 ton pada Januari-Juli 2024 menjadi 146.617 ton pada periode yang sama 2026 menunjukkan bahwa perjalanan barang melalui jalur rel memiliki ruang untuk terus berkembang.
Bagi dunia usaha, perkembangan tersebut bukan sekadar soal bertambahnya jumlah tonase.
Distribusi yang semakin terintegrasi dapat membantu memastikan barang bergerak dari satu kota ke kota lainnya dengan lebih terukur.
Pada akhirnya, kekuatan sistem logistik akan ditentukan oleh kemampuan berbagai moda untuk bekerja bersama.
Kereta api memiliki peran pada perjalanan utama dengan kapasitas besar, sedangkan moda jalan dan jaringan distribusi lainnya memastikan barang dapat mencapai tujuan akhir.
“Ketika sebuah produk dari satu kota dapat mencapai pasar di kota lain dengan rantai distribusi yang semakin baik, di sana ada kesempatan usaha yang ikut terbuka,” tutur Anne.
Pertumbuhan angkutan retail KAI diharapkan dapat memperluas kesempatan tersebut sekaligus memperkuat sistem logistik Indonesia agar semakin efisien dan kompetitif.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara